Hari ketiga sesudah Lizzy kembali ke kesadarannya, kakinya masih tidak bisa digerakkan. Tiga hari Ian menghadapi tangis frustasi tunangannya dan tiga hari pula tunangannya tidak ingin menerima kenyataan. Banyak vas bunga, piring, gelas dan buku yang Lizzy hancurkan sebagai pelampiasan tekanan batinnya. Ian tidak komplain, Lizzy berhak marah atas kenyataan menyesakkan itu. Ia akan terus mendampingi gadis itu sampai di detik mampu menerima kenyataannya. Tak masalah harus berapa banyak lagi fasilitas rumah sakit yang dihancurkan. Lizzy telah dipindahkan ke kamar inap sejak tiga hari lalu. Oleh sebab itu, jam kunjungan Ian lebih leluasa. Terkadang, lelaki itu menugaskan Johan untuk membawakan lembar kerjanya ke rumah sakit, lalu mengerjakannya di kamar inap Lizzy sembari menjaga gadis itu. I

