“Ah! Arthur!” “Damn it, Anna. You are so good.” Dari balik pintu salah satu kamar tidur yang dapat direservasi di kasino, dua orang pria saling bertatapan dengan sorot masing-masing, datar dan jenaka. Pria yang menyorotkan datar sedang bersandar di salah jendela sambil melipat tangan, menatap pria satunya yang bersorot jenaka dan sedang menghisap cerutu. Tidak ada suara dari mereka, melainkan dari sebuah kegaduhan di salah satu kamar tidur di dekat mereka. Dan, mereka tahu persis siapa yang membuat kegaduhan tersebut serta apa yang sedang mereka lakukan. “Kau mendengar apa yang kudengar, Bung?” celetuk Theodoric de Gilbert, si pria bersorot jenaka. “Aku tidak mempercayaimu,” sahut Raphael Trancy, pria bersorot datar. “Kau gila.” Theo menyeringai geli seraya melambaikan tangan dan

