Kabar Baik atau Sebaliknya?

1983 Kata
“Kak, pegangin ini. Aku gak kuat pengen pipis.” Citra menyerahkan nampan pada Ravindra. Gadis yang sudah memakai seragam sekolah itu pun berlari terbirit-b***t memasuki kamar kakak pertamanya untuk menumpang ke toilet pribadi. Awalnya Ravindra bingung, tapi setelah mendengar suara muntah-muntah dari dalam kamar mandi bersama, ia yakin Citra sedang menunggu Agnia dengan membawakan teh hangat untuknya. Tak lama dari itu, Agnia membuka pintu kamar mandi. Jujur dia terkejut mengetahui keberadaan Ravindra yang juga sedang menatapnya. Sedang apa dia di sana? Ravindra sendiri malah terdiam, tubuhnya terasa kaku hingga sulit untuk digerakkan. Bibirnya mendadak kelu, jantungnya pun berdebar tak karuan saat menelisik wajah cantik Agnia. “Permisi, Kak.” Agnia mengangguk sopan, berjalan melewati Ravindra yang mematung. “Eh, ini minumnya.” Ravindra baru sadar alasan dia berdiri di sana, yaitu menunggu Agnia! “Buat aku, Kak?” Agnia terlihat bingung. “Iya.” Ravindra mengangguk dengan gerakan kaku. “Citra yang bawa sebelumnya. Cuma dia lagi kebelet, jadi minta saya yang pegangin ini.” “Maaf ngerepotin, Kak.” Agnia buru-buru mengambil nampan dengan perasaan tak enak. “Sering mual-mual?” Ravindra tak melepaskan pandangan ketika Agnia berada di hadapannya. “Kalo pagi iya, sering mual-mual. Maaf kalo berisik.” Agnia jadi khawatir suaranya di dalam kamar mandi tadi membuat orang lain jijik. “Tiap pagi mual-mual?” Ravindra kembali bertanya hal yang sebenarnya tidak penting. “Iya, Kak.” Agnia lalu pergi ke kamarnya. Ini gila! Pesona apa yang Agnia miliki hingga membuat seorang Ravindra Syahreza Rajasa terlihat seperti orang linglung? Selain wajah cantiknya yang mampu menghipnotis, tatapannya juga sungguh memabukkan. Sudah banyak wanita cantik yang dia jumpai, tapi perasaannya tidak pernah berlebihan seperti ketika berhadapan dengan sosok Agnia. Pagi itu Agnia tidak ikut sarapan. Morning sickness yang dialaminya minggu-minggu ini memang sangat berdampak. Tidak ada tenaga maupun semangat, tubuhnya terasa lemah hingga terus berbaring di atas ranjang. Namun, ia tetap memaksakan dirinya untuk melakukan pemeriksaan kandungan seperti permintaan Mirza kemarin. “Usia kandungannya menginjak minggu ke enam dan kondisinya baik-baik aja, tapi justru kondisi ibunya yang kurang baik. Saya harap Bumil bisa menjaga kesehatannya, ya. Makan makanan yang sehat dan banyak beristirahat. Jangan beraktivitas yang berat, jangan banyak stres.” Itulah yang dikatakan dokter kandungan saat Agnia diperiksa. Informasi lain yang disampaikan dokter membuat Agnia ingin menjerit saja, yaitu rahimnya yang terisi dua janin. Benar, wanita itu sedang mengandung janin kembar. Tapi, pantaskah dia tidak senang dan malah makin tertekan? Agnia memikirkan Mirza, pria yang sebenarnya bukan ayah dari janinnya itu harus bertanggung jawab atas apa yang tidak diperbuatnya. Satu anak saja sudah membuat Agnia merasa sangat tak enak, tapi Tuhan malah membuatnya makin kalut dengan menitipkan dua janin sekaligus di rahimnya. Tak dapat dipungkiri Agnia selalu penasaran, siapa ayah dari kedua bayinya? Siapa pria yang telah merenggut kesuciannya dengan cara keji? Ingin Agnia berkata pada pria itu, ‘Lihat apa yang udah kamu lakuin! Lihat siapa yang jadi korban! Bukan cuma aku, tapi juga Mirza!’. “Za, Mama seneng banget hari ini.” Tari berkata riang ketika putranya itu menjawab panggilan. “Kenapa, Ma? Nia udah diperiksa belum?” Mirza penasaran, apa yang membuat ibunya senang. “Bayinya kembar. Selamat, ya, Sayang.” Tari menyampaikan kabar itu dengan senang hati. “Selamat juga buat Mama yang bakal jadi nenek.” Mirza menyahutinya setenang mungkin. “Di mana Nia? Aku masih sibuk, belum sempat bales chat dia. Titip Nia selama tinggal di sana, ya.” “Kamu tenang aja. Nia tanggung jawab Mama selama kamu belum nikahi dia.” Tari mengerti. “Kak Nia!” Citra berteriak sambil berlarian memasuki rumah. “Aku bawain ini buat Kakak.” “Terima kasih, Cit.” Agnia tersenyum lebar, senang mendapat makanan yang terlihat segar. “Sama-sama, Kakak.” Citra tersenyum bangga, tak sia-sia membeli rujak ketika di perjalanan. “Ma, aku tutup, ya. Ada tamu datang.” Mirza pamit undur diri, tak bisa melanjutkan obrolan. “Ya udah. Assalamu'alaikum.” Tari hanya bisa memaklumi kesibukan sang putra. “Wa'alaikumsalam.” Mirza membalas salam sebelum mengakhiri panggilan. “Gimana kata dokter?” Citra menaikan kedua alisnya, melirik Agnia dan Tari silih bergantian. “Bayinya ada dua alias kembar.” Tari sengaja berbisik seolah membocorkan sebuah rahasia. “Serius?!” Citra memekik dramatis, tak bisa menahan kesenangannya. “Gak bohong, 'kan?” “Ngapain bohong?” Tari berdecih malas. “Yeee ... Akhirnya rumah ini bakal rame sama dua bocil!” Citra memeluk Agnia seakan berterima kasih karena akan melahirkan dua bayi lucu. “Kamu itu udah gede, masih aja kayak anak kecil gitu!” Tari malah khawatir Agnia risih dengan perlakuan Citra yang memang senang SKSD. “Dimakan dong, Kak. Katanya yang lagi hamil itu sukanya buah mentah, makanya aku beli rujak buat Kakak.” Citra bicara dengan sok tahu-nya. “Terima kasih, Cit. Aku makan, ya.” Agnia lalu memakan rujak itu di hadapan Tari dan Citra. Belum 24 jam Agnia menempati rumah Rajasa, tapi dia sudah merasa senyaman itu mengenal Tari dan Citra. Perlakuan mereka berdua benar-benar mengubah suasana hatinya yang semula kesepian. Namun, tetap saja rasa sungkan tidak mudah hilang, walau bagaimanapun mereka masihlah asing. Tari memang memiliki sifat keibuan yang kental dan penuh kasih, tak heran dia menyayangi Agnia semudah itu. Sempat tak mengerti mengapa wanita sebaik dan selembut Agnia melakukan hal tercela hingga hamil di luar pernikahan, tapi mungkin saja putranya sendiri—Mirza yang memang 'nakal'. “Tumben Kak Ravin pulang rutin.” Citra menatap heran dengan kepulangan Ravindra. Biasanya Ravindra pulang seminggu dua kali atau bahkan tidak sama sekali, tapi sudah dua hari ini dia pulang rutin. Meski begitu, mustahil Tari berani bertanya, rumah itu memang milik Ravindra. Hanya Citra yang dapat bertanya blak-blakan dan Ravindra tidak kaget atau merasa tersinggung. “Habis dari rumah Ferdi.” Ravindra hanya beralasan. Cukup masuk akal, rumah sepupunya bernama Ferdi memang masih di kawasan itu. “Kak, hari ini aku seneng banget, deh.” Citra langsung bergelayut manja ketika Ravindra baru saja meluncurkan bokongnya di kursi samping. “Ada apa emangnya?” Ravindra ikut tersenyum, padahal belum mendengar kabar baiknya apa. “Bayi Kak Mirza kembar!” Citra memberitahu dengan senang hati. “Kakak kapan dong nikah? Aku juga mau punya ponakan dari Kak Ravin. Masa kalah sama Kak Mirza? Padahal 'kan harusnya Kak Ravin duluan yang punya anak,” lanjutnya mencibir. “Citra!” Tari membulatkan bola matanya. “Apa, sih, Ma? Aku, 'kan, cuma nanya.” Citra tidak merasa ada yang salah dari perkataannya. “Kamu itu belum cukup dewasa buat ngerti soal pernikahan!” Tari benar-benar marah, tak suka. “Beneran bayinya kembar, Ma?” Ravindra lebih tertarik pada berita yang disampaikan adiknya. “Iya, Rav, bayinya kembar. Mama seneng banget sama hasilnya. Jadi Mirza gak ada alasan buat gak nitipin satu aja anaknya ke Mama. Mau dua-duanya juga boleh, Mama gak keberatan. Nia 'kan bisa hamil lagi nanti.” Tari membenarkan informasi tersebut sembari tersenyum senang. Tari dan Citra kelihatan begitu bahagia atas kehamilan Agnia, tapi mengapa wanita yang sedang hamil muda itu sendiri malah tampak murung dan tertekan? Sadari tadi dia hanya menundukkan kepala, memainkan makanan tanpa minat. Ravindra merasa aneh dan bertanya-tanya. “Kak Nia masih gak nafsu, ya, makannya?” Citra menyayangkan makanan Agnia yang masih utuh saja. “Coba, aku mau tau, Kak Nia mau makan apa? Beli aja deh kalo misalnya makanan yang Kakak mau gak ada di sini. Atau kita bikin aja, mau?” “Kakak lagi gak mau apa-apa, Cit.” Agnia memaksakan senyumnya yang kaku, lalu melirik ke arah Tari. “Kayaknya aku mau istirahat aja, Ma.” “Ya udah, kamu istirahat aja, gih. Tapi kalo ntar malem ngerasa lapar, jangan sungkan ke dapur, ya.” Tari memaklumi, hamil muda memang masanya serba salah dan mood yang mudah terganggu. “Iya, Ma. Permisi.” Agnia kemudian berlalu. “Ma, kayaknya Kak Nia sama Kak Mirza lagi berantem, deh.” Citra berbisik-bisik, bergosip. “Tau dari mana kamu?” Tari malah sewot. “Mama gak sadar Kak Nia murung terus dari tadi? Pasti lagi berantem sama Kak Mirza. Makanya diajak ngobrol juga jarang nyaut, malah ngelamun.” Citra menyunggingkan bibirnya saat berbicara. “Masa, sih?” Tari mengerutkan keningnya. “Ntar aku mau telepon Kak Mirza, ngomelin dia yang udah bikin Kak Nia bete!” Citra memotong beef-nya asal, lalu memakannya dengan kesal. “Ih, sok tau kamu, Cit. Siapa tau Nia emang lagi ada masalah, tapi bukan berarti sama kakak kamu!” Tari tak setuju, balik mencibir niat putrinya itu. “Pokoknya aku mau telepon Kak Mirza!” Citra tetap dengan niatnya, yaitu menelepon Mirza. “Coba, coba, telepon Mirza sekarang. Kakak mau denger kamu ngomelin dia.” Ravindra tiba-tiba menyahuti, menantang bualan adik bungsunya. “Oke. Siapa takut.” Citra bergaya sombong. Tanpa menunggu makan malam usai, Citra sudah mengotak-atik ponselnya untuk mencari nomor sang kakak, lalu menekan tanda panggilan. Setelah itu, dia menyimpan ponsel di atas meja dengan pengeras suara sudah aktif. Deringan terhubung langsung terdengar, tinggal menunggu pria di sebrang sana menjawab panggilannya. “Ada apa adikku yang bawel?” Mirza terdengar lelah, yakin adiknya akan mengomel sesuatu. “Kakak lagi berantem, ya, sama Kak Nia?” Citra bertanya langsung ke intinya tanpa basa-basi. “Loh? Kata siapa?” Mirza jelas membantah. “Dari tadi Kak Nia sedih terus tau. Pasti gara-gara Kakak, 'kan?” tuduh Citra tanpa ragu. “Nggak, kok. Kakak gak lagi marahan sama Kak Nia.” Mirza kembali membantah dengan tegas. “Bohong!” Citra tak percaya sama sekali. “Emang Kak Nia lagi ngapain sekarang?” Mirza jadi penasaran, belum menghubunginya lagi. “Barusan pamit ke kamarnya gara-gara gak mau makan. Tadi siang juga, gak mau makan. Pasti lagi berantem, 'kan? Jujur aja, Kak.” Citra kembali menuduhnya setelah menjawab panjang lebar. “Kakak gak lagi berantem sama Nia, sumpah.” Mirza menekankan kata terakhirnya, gemas. “Terus kenapa seharian ini Kak Nia kelihatan banyak pikiran gitu?” tanya Citra penuh selidik. “Mungkin lagi inget sama keluarganya.” Mirza hanya asal menjawab, tak tahu juga apa yang terjadi pada kekasihnya. “Kakak tutup, ya. Kakak mau telepon Kak Nia sekarang. Bosen dengerin suara kamu yang bikin telinga sakit, mending dengerin suara Kak Nia yang lembut kayak mentega.” “Ih, Kakak! Enak aja bil ....” Citra menghentikan makiannya ketika panggilan berakhir. Jelas saja, dia uring-uringan penuh kekesalan, “Astaga! Emang ya, Kak Mirza itu nyebelin banget! Tutup telepon gitu aja! Gak ada kata penutup! Assalamu'alaikum, kek! Selamat malam, kek! Selamat makan, kek!” Ravindra yang duduk tepat di samping Citra, langsung menutup lubang telinganya kuat-kuat. Sudah kebiasaan gadis itu yang akan mengeluarkan seluruh tenaga hanya untuk berteriak sangat keras. Tak hanya menggema di ruangan tersebut, suaranya bahkan terdengar sampai pos satpam di depan. “Kak Ravin!” Citra berteriak keras, tak terima kakak pertamanya menutup telinga hanya karena tak ingin mendengar ocehannya. “Buka, gak?!” “Suara kamu kecilin!” Ravindra memecahkan tawanya, disusul Tari yang terbahak-bahak. “Mama jangan ketawa!” Citra menggebrak meja, menatap ibu dan kakaknya dengan kesal. “Denger sendiri, 'kan? Nia bukan lagi berantem sama kakak kamu, tapi ya mungkin lagi inget sama keluarganya.” Tari puas, dugaannya tidak salah. Ravindra mendadak terdiam, tak berniat menyahuti adik dan ibunya lagi. Sedikit kecewa karena Agnia malah pergi dan tidak ikut makan, padahal salah satu alasan Ravindra pulang adalah wanita itu. Sepulang dari kantor, dia langsung memutuskan untuk pulang ke rumah, hanya untuk melihat wajah cantik calon adik iparnya, Agnia. Selesai makan malam, Ravindra bergegas pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Tapi, langkahnya mendadak terhenti tepat di depan pintu kamar yang ditempati Agnia. Tidak ada niatan untuk menguping sebelumnya, tapi kondisi seakan mendukungnya untuk mendengarkan perbincangan Agnia bersama seseorang melalui telepon di dalam kamarnya. Tangan Ravindra terkepal sempurna membentuk sebuah tinju, darahnya terasa mendidih hanya dalam hitungan detik, dadanya terhantam sesuatu yang tajam, kepalanya pun serasa akan pecah di saat itu juga. Agnia dan Mirza berbohong? Mereka merahasiakan hal besar pada keluarga?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN