UNDANGAN MAKAN MALAM

1736 Kata
Sebenarnya, Ethan Smith enggan setuju dengan Solomon Salvador. Amber, almarhum ibu Derren adalah teman dekatnya. Ethan sangat menyayangi Derren seperti menyayangi anaknya sendiri, tentu dia tidak ingin melihat Derren menderita. Ethan sadar bahwa Solomon kali ini melakukan kesalahan dengan memaksa Derren untuk tetap mempertahankan pernikahan tanpa cinta. Karena itu, Ethan secara tidak sadar mulai tidak menyukai Nayra.   “Orang tidak membutuhkan banyak waktu untuk berubah pikiran. Kuharap gadis itu tahu diri kalau Derren tidak lah menyukainya. Bagaimana jika gadis itu kawin lari dengan seseorang di belakang Derren? Jika benar hal itu terjadi, apa kamu akan menyesal memberinya setengah dari warisan tersebut?”   Kata-kata Ethan Smith memaksa Solomon untuk berpikir dua kali tentang surat wasiat tersebut. Benar juga, Solomon sama sekali tidak memikirkan hal seperti itu. Setelah merenungkan kata-katanya berulang-ulang dalam benaknya, Solomon akhirnya membuka mulutnya, "Kalau begitu tambahkan saja ... ‘Jika dia berselingkuh dari Derren dan bercerai, dia tidak akan mendapatkan sepeser pun dari Salvador.’" Nada suaranya tegas sementara matanya tak tergoyahkan.   Ada senyum puas di wajah Ethan Smith. Setelah menuliskan klausa tersebut, dia pergi.   Saat Ethan keluar dari ruang kerja, kepala pelayan mendekatinya dan berkata, “Tuan Smith, nyonya mengundangmu untuk minum teh. Dia menunggumu di halaman belakang.”   Ethan Smith sedikit mengernyit. Dia tahu nyonya yang dimaksud dengan sangat baik, Betty Salvador. Wanita kejam yang saat ini sepertinya ingin menggali informasi dari pertemuan Ethan dengan Solomon. Sudut bibir Ethan melengkung licik dan berjalan ke halaman belakang.   Dia melihat Betty duduk di kursi sembari membaca buku di gazebo taman. Seperti biasa, wanita itu tampak cantik dengan dress putihnya.   Ethan mendekatinya, dengan senyum membingkai wajahnya. “Selamat pagi, Nyonya Salvador. Saya dengar-dengar kamu ingin menemui saya. Jadi, apa yang bisa saya bantu?"   Betty menutup buku yang dibacanya dan menggesernya sedikit menjauh lalu menatap Ethan. Betty membalas tersenyum dan berkata, "Silakan duduk, Tuan Smith."   Ethan Smith duduk di kursi di seberangnya lalu meneliti sekitar taman. Rerumputan di halaman telah dipangkas dengan rapi. Tanaman hias dijadikan pembatas alami taman. Air mancur dengan gaya yunani di samping gazebo tempat bunga lili putih yang indah bermekaran. Semilir angin musim semi yang lembut menenangkan pikiran. Tempat ini benar-benar pantas untuk disebut surga buatan. Tapi saat ini, Ethan lebih ingin tahu apa yang sebenarnya wanita di hadapannya ini inginkan dibandingkan menikmati pemandangan sekelilingnya. Ethan bertanya lagi, "Terima kasih, Nyonya Salvador. Jadi bagaimana? Apa ada yang bisa saya bantu?"   Betty terkekeh. “Tuan Smith, kamu tahu kan bahwa saya sudah berada dalam keluarga ini selama lebih dari 25 tahun. Kita tentu bisa menjadi teman, kan? Lagi pula, kamu dulu berteman dengan ‘mantan’ Nyonya Salvador sebelumnya.”   Ekspresi Ethan Smith sedikit berubah, dan cengkeramannya pada sisi meja sedikit mengencang setelah mendengar Betty menyinggung temannya, Amber. Ethan sama sekali tidak menyukai wanita di hadapannya ini. Dia tahu bagaimana Betty dengan liciknya menikah dengan Edward—ayah Derren—membuat Amber marah kemudian meninggal karena serangan jantung.   Tapi dengan cepat Ethan menyembunyikan amarahnya dan tersenyum. “Kita kan sudah berteman. Memangnya kamu tidak menganggap saya sebagai temanmu?” Pupil mata Ethan menyusut saat membaca ekspresi Betty.   Betty tertawa kecil. “Ya, kita berteman. Itu sebabnya saya mengundangmu untuk minum teh.” Dia menuangkan secangkir teh lalu menyodorkannya pada Ethan.   "Terima kasih." Ethan menyesap teh untuk membasahi tenggorokannya yang kering.   “Tadi kamu menemui ayah mertuaku. Apa ada hal penting yang kamu diskusikan dengannya?” tanya Betty akhirnya mengungkapkan niatnya.   Ethan menahan keinginan untuk tertawa dan mempertahankan sikap tenangnya. “Sebenarnya, saya menemui beliau untuk meminta maaf karena saya tidak bisa menghadiri pernikahan Derren. Saya sedikit sibuk masalah persidangan. Itu sebabnya Tuan besar sedikit memberi saya ‘nasihat’. Tapi sekarang dia baik-baik saja ketika saya menjelaskan semuanya!” jawab Ethan tersenyum lembut.   Betty tidak bisa mempercayainya dan menatap Ethan dengan hati-hati seolah-olah dia sedang menilik sesuatu di matanya. Setelah beberapa saat, Betty menghela napas secara dramatis dan berkata, “Ya, saya mengerti. Dia semakin tua dan mudah marah. Bagaimanapun, saya senang mendengar bahwa dia akhirnya memaafkanmu.” Senyum yang dibuat-buat muncul di wajah Betty.   Setelah menyesap teh terakhir, Ethan Smith meletakkan cangkir di atas meja dan memeriksa jam tangannya. “Ah, terima kasih untuk tehnya, Nyonya Salvador. Tapi sepertinya saya harus undur diri sekarang.”   Betty mengangguk dan tersenyum. Ethan bangkit dari kursi dan berjalan keluar. Senyum Betty berangsur-angsur memudar, ekspresinya pun menggelap saat dia melihat sosok Ethan Smith pergi.   ****   Di kantor pusat Orca Group …   Derren duduk dengan gelisah di kursi kebesarannya sementara tatapan seriusnya terfokus ke suatu tempat di depan. Asistennya—Benjamin Ryan—melaporkan kepadanya. “50% saham Moore atas namamu sekarang. Kamu bisa melepaskannya kapan saja. Tuan Davis Moore masih belum siap untuk berbicara denganmu. Beliau menolak untuk membuat janji itu lagi.” Benjamin terdiam dan menatapnya dengan rasa ingin tahu.   Derren masih tidak menanggapi, ekspresinya tidak terbaca. Perusahaan Moore dulunya adalah rekan bisnis Orca Group, tetapi setelah kecelakaan yang terjadi setahun yang lalu, mereka menjadi rival. Sasha adalah keponakan Davis Moore. Kecelakaan itu membuat Sasha koma, dan orang tuanya langsung menyalahkan Derren. Segera mereka membawa Sasha pergi dari negara ini dan tidak pernah lagi bertemu. Derren tidak tahu ke mana mereka membawa Sasha. Derren bahkan telah mencari kekasih pertamanya itu di mana-mana selama setahun terakhir, tetapi nihil … dia tidak bisa menemukannya. Seolah-olah dia telah ditelan bumi.   Derren yakin dalam pikirannya bahwa Davis Moore tahu keberadaan Sasha, itu sebabnya Derren menekannya dengan menciptakan masalah perusahaan. Derren percaya bahwa suatu hari Davis Moore akan menyerah dan memberitahu di mana Sasha berada.   Benjamin tidak tahu apa yang dipikirkan presdirnya. Setelah menatapnya sebentar, Benjamin akhirnya bertanya, "Bagaimana menurutmu, Presdir?"   Butuh sepersekian detik untuk Derren menjawab, “Hubungi dia lagi. Dan kali ini, jika dia tidak memberi kepastian, lepaskan sahamnya. Kita lihat bagaimana dia akan menghadapinya!” tandas Derren mengerskan rahangnya.   "Baik. Saya mengerti."   Benjamin pergi, dan Derren membenamkan kepalanya di tumpukan dokumen.   ****   Satu bulan berasa begitu cepat berlalu. Sebulan itu pulalah, Derren tidak pernah muncul di vila. Itu sebabnya sebagian besar waktu Nayra tinggal di apartemen lamanya bersama ibu dan adik laki-lakinya. Meski ada rasa sakit yang mengganjal di hati Nayra, dia tetap senang karena akhirnya Brian dijadwalkan menjalani operasi seminggu lagi. Berkat koneksi Salvador, dia mendapat donor dengan cepat.   Kepuasan terpancar di mata Nayra melihat Brian tersenyum. Dia hampir lupa kapan terakhir kali adiknya itu tersenyum. Air mata kebahagiaan menusuk matanya.   “Sepertinya Ibu harus ke pasar untuk membeli sayuran. Jadi, tinggal lah di sini untuk makan malam nanti, oke. Ibu akan memasak hidangan favoritmu!” timpal Charlotte dengan gembira.   "Tentu saja. Aku akan tinggal di sini sampai Brian pulih!" seru Nayra sembari memeluk adiknya gemas.   Brian menyeringai lalu bersuara dengan nadq menggoda. “Iss … kapan sih kakak ini menjauh dari kami. Kakak bahkan tinggal di sini hampir setiap hari. Kadang-kadang aku jadi lupa kalau kakak sudah menikah. ”   Nayra cemberut lalu memukul pelan lengan Brian. "Kamu itu masih bocah ... masih sekolah. Kamu harusnya rajin belajar, bukan malah menggoda kakakmu ini. Memangnya masalah ya kalau kakak tinggal di sini? Ini kan juga rumah kakak. Kakak bisa tinggal di sini selama yang kakak mau.”   Brian merengut, menggosok lengannya, “Oke, oke. Aku mengerti. Jangan pukul aku dong. Sakit. Iss … kakak jahat!” bisik Brian terkikik di akhir.   Charlotte, di ujung sana, tiba-tiba berhenti setelah mendengar kata-kata Brian. Kekhawatiran menyebar di wajah keibuannya. Dia ragu ada yang tidak beres dengan Nayra. Brian benar. Nayra jarang kembali ke mansion mertuanya. Dia bahkan begitu sibuk mengurus Brian sehingga dia tidak peduli pada Nayra selama ini. Gadis malang itu juga setuju untuk menikah bahkan di luar keinginannya hanya untuk menyelamatkan Brian.   Bagaimana jika sesuatu yang salah terjadi pada pernikahannya?   Tiba-tiba Charlotte diliputi kecemasan. Dia kembali meletakkan bokongnya di sofa samping Nayra dan bertanya, "Nayra, kamu baik-baik saja, kan? Apa kamu ingin menceritakannya pada ibu?”   “Eh … ibu? Apa ibu tidak jadi ke pasar?” tanya Nayra menyipitkan matanya dan mengamati ibunya.   Charlotte meraih tangannya dan bertanya, “Apa Tuan Muda Derren memperlakukanmu dengan baik? Kamu itu sudah tinggal di sini hampir setiap hari. Memangnya dia tidak akan memarahimu? Apa hubungan kalian berdua baik-baik saja?”   Wajah Nayra memucat saat mendengar nama Derren. Nayra tentu tidak akan memberi tahu ibunya bahwa Nayra sebenarnya telah menandatangani kontrak selama 2 tahun. Nayra tersenyum dan menekan kesedihannya jauh di lubuk hatinya, “Bu, aku sadar kalau ternyata Derren itu pria yang baik. Saat mengetahui kondisi Brian, dia mengizinkanku tinggal di sini selama yang aku mau. Jadi, ibu tidak perlu khawatir akan hubungan kami."   Hati Charlotte yang sedikit menggantung kini tenang setelah melihat senyum Nayra. Charlotte menepuk punggung tangannya dan berkata, “Ah … ibu lega mendengarnya. Baiklah …” Dia bangkit dari sofa, “yang terpenting kamu jangan sampai memulai pertengkaran. Baiklah … Ibu akan ke pasar." Charlotte tersenyum dan berjalan keluar.   “Hah … apa maksud ibu mengatakan untuk jangan mulai pertengkaran? Memangnya siapa yang bertengkar di sini?” tanya Brian menginterupsi. Nayra bahkan tidak sadar kalau Brian mendengar percakapannnya bersama Charlotte.   "Tentu saja kamu. Kan kamu yang selalu cari masalah agar bertengkar dengan kakak!" balas Nayra menggodanya.   “Ah tidak! Itu bohong … fitnah. Karena kakak lah yang mencari cara agar bisa bertengkar.”   "Oh, benarkah. Tapi kok kakak nggak nyadarin, ya."   ….   ….   ….   Argumen demi argumen mereka berlanjut sampai akhirnya dering ponsel menginterupsi mereka. Nayra melirik ponselnya dan melihat nama Solomon Salvador di layar.   Nayra membungkam Brian, meletakkan jari telunjuk di bibirnya, “Jangan berisik. Ini kakek Salvador menelepon,” kata Nayra dengan suara rendah.   Brian meletakkan jarinya di bibirnya dan akhirnya duduk dengan tenang.   Nayra berdehem sebelum menjawab telepon, “Halo, Kek. Ada apa? Apa kakek baik-baik saja"   Nayra bisa mendengar tawa hangat di seberang telepon diikuti oleh suara pria yang dalam, “Kakek baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana? Apa Brian juga baik-baik saja?”   “Aku baik-baik saja, kakek. Brian juga baik-baik saja. Operasinya dijadwalkan minggu depan nanti.”   "Senang mendengarnya. Oh ya, kakek menelepon mengundangmu makan malam. Sudah sebulan sejak kalian menikah. Tapi kamu tidak pernah ke Mansion Keluarga Salvador. Bocah itu, Derren juga tidak membawamu sekali pun. Kakek tidak meneleponmu selama ini karena kakek tahu kamu sibuk mengurus Brian. Tapi sekarang kakek tidak sabar melihatmu lagi. Jadi, datanglah malam ini bersama Derren, oke.”   Wajah Nayra memucat setelah mendengar kalimat terakhirnya. Jika Solomon meminta Nayra untuk datang sendiri, dia tidak akan banyak berpikir. Tapi memikirkan Derren, entah kenapa Nayra mulai berdebar-debar. Namun, dia menjawab dengan tenang, “Iya, Kek. Kami akan ke sana bersama."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN