Erlanda terus menatap Tylisia hingga sosok Tylisia menghilang di persimpangan jalan. Dari Sorot matanya saja bisa menjelaskan bagaimana perasaan Erlanda saat ini marah, sedih, kecewa semuanya bercampur aduk menjadi satu. Hati dan tubuhnya tak sinkron, hatinya ingin sekali mengejar Tylisia dan mengucapkan maaf kepadanya tapi tubuhnya tak bereaksi sama sekali ia hanya diam membatu membiarkan Tylisia hilang dari pandangannya. “Mungkin ini karma buat gue” ujar Erlanda pelan ia mengehela nafas sejenak mencoba menenangkan pikirannya lalu memilih untuk melangkah masuk, mungkin dengan beristirahat sejenak ia bisa menenangkan pikirannya yang sudah tak waras lagi. Sesampainya di depan pintu ia mengeluarkan kunci rumahnya dari dalam tas sekolahnya, sebenarnya ia memiliki kunci cadangan untuk jaga

