"Eh ada Shiden" ucap Sari setelah masuk ke dalam mobilku.
"Hai" jawab Shiden
Aku hanya bisa menahan tawa melihat tingkah Shiden yang biasa saja melihat Sari, Shiden bukanlah tipe lelaki yang sulit memaafkan, maka dari itu kelakuan Sari tempo hari sudah tak ia fikirkan lagi. Toh dunianya masih dipenuhi dengan perempuan perempuan cantik yang lain.
"Den, share loc rumah Daffa" ucapku kepada Shiden
"Udah aku kasih tau aja nanti"
"Share loc aja kenapa"
Akhirnya Shiden mengirim lokasi rumah Daffa yang otomatis masuk ke dalam sistem navigasi mobilku.
Shiden berdecak kagum dengan sistem navigasi mobilku
"Mobil mahal emang beda" ucapnya kepadaku
"Bacot"
Sari dan Shiden terkekeh mendengar jawabanku, mereka paling tahu jika aku tidak suka dipuji puji seperti itu.
Ponselku berdering dan bisa kulihat dari layar otomatis audio 2D-In bahwa Reza yang menelfon, tentunya hal ini diketahui oleh Shiden yang duduk tepat di sebelahku.
"Halo" ujarku kepada Reza
"Halo Beib, kamu dimana" Aku tertawa mendengar ucapannya, apakah dia tahu di sebelahku ada Shiden
"Beib ba beib, kurang belaian lu" belum sempat aku menjawab Shiden sudah membalas perkataan Reza
"Eh ada Iden, maaf ya Iden, cuman mau nanya kamu udah dimana, aku udah nungguin kamu" ujar Reza dibuat semanis mungkin
"Najis, dah deket dengan rumah Daffa" dan langsung Shiden menekan tombol end call, untuk mengakhiri sambungan telfon.
"Aku nggak nyangka bisa temenan sama tu manusia" ucapnya sambil merutuki nasibnya yang sial.
"Mereka lucu tau" ucapku.
Shiden berdelik setelah mendengarku berkata seperti itu
"Dah kerasukan setan mereka kamu Tyl"
Aku hanya bisa tertawa mendengarnya berbicara seperti itu.
"Ini benar ke kanan kan? " tanyaku kepada Shiden setelah kami hampir sampai di area rumah Daffa.
"Iya ke kanan"
Kemudian aku berbelok ke kanan sesuai arahan maps dan Shiden.
"Nah itu yang Pagar hitam rumahnya" Sambung Shiden setelah melihat pagar hitam yang merupakan rumah Daffa.
Aku memperlambat laju mobilku ketika hampir sampai di depan rumah Daffa.
"Klakson Ya, mereka b***k semua" perintah Shiden kepadaku
Dan aku langsung membunyikan klaksonku "TIIT,, TIIT"
tak lama pagar terbuka menampilkan sosok Daffa yang sedang kesusahan mendorong pagar yang besar.
Setelah terbuka sempurna aku segera melajukan mobilku untuk masuk ke dalam tak lupa aku berterima kasih kepada Daffa yang telah membukakan pintu "Terimakasih Daffa"
"Sama sama Tylisia cantik" jawabnya sambil mengedipkan matanya kepadaku, membuat Shiden mengerang geli, Hahaha.
***
"Masuk dulu Tyl, noh si bocah lagi pada di dalam" ucap Daffa kepadaku setelah melihatku keluar dari dalam mobil
"Iyaa, oh ya kenalin ini Sari" ucapku sambil mengenalkan Sari kepada Daffa.
"Udah kenal" jawab Daffa singkat dan padat, membuatku dan Shiden segera menoleh kepada Sari dan Daffa bergantian.
"Sar? " tanyaku kepadanya
"Mantan gue Tyl" jawab Sari santai
Aku dan Shiden semakin ternganga mendengar fakta yang dikatakan Sari.
Aku menyenggol tangan Shiden yang tepat berada di sampingku sambil berbisik "Nggak bakalan ada perang dunia ketiga kan"
"Semoga, gue nggak bawa senjata ini"
"Udah lama putus juga, sekarang kita masih berteman baik" jelas Daffa, ternyata keterkejutan aku dan Shiden diketahui oleh Daffa.
"Yuk masuk" ajak Daffa sekali lagi
Aku, Sari, dan Shiden melangkah masuk ke dalam rumah Daffa yang menurutku lumayan besar sudah kupastikan Daffa merupakan keluarga yang berada.
***
"Gila lu Den, menang banyak" ujar Reza membuat Shiden mengernyit heran tak mengerti maksud dari ucapan Reza
"Maksud lu?"
"Lah lemot" kali ini Wildan yang berbicara.
"Duduk Tyl, anggap aja rumah sendiri" Wildan kembali melanjutkan perkataannya.
"Cuit cuit, siapa tuh Tyl cakep bener" siapa lagi jika bukan Reza
"Oh ya kenali ini Sari teman sekelasku"
"Hai, Sari" ucap Sari singkat
"Anak JIS kenapa bening semua sih" pernyataan Shadam membuatku dan Sari hanya mengendikkan bahu tidak tahu.
***
Kami bersiap siap akan berangkat menuju puncak kali ini kami membawa dua mobil, mobilku dan mobil Daffa.
Di mobil Daffa ada Shadam dan Wildan, sedangkan di mobilku ada aku, Sari, Shiden, dan tambahannya Reza.
"Mobil siapa nih bro" tanya Wildan kepada Shiden sambil mendekat ke arah mobilku.
"Tylisia" Jawab Shiden
"Gilaa sultan banget" sambung Daffa
"Ini yang 7 M itu kan Tyl" kali ini Reza yang ikut menimpali
"Yoi bro, Mercedes Benz S-Class Maybach S 560" bukan aku yang menjawab tapi Shiden, membuatku berdelik tajam kepadanya untuk apa dia menyebutkan seri mobilku dengan lengkap pula.
"Shiden apaan sih" ujarku kepadanya agar tak melanjutkan perkataan aneh anehnya itu.
"Gue bareng mobil Tylisia aja lah" ujar Daffa kepada teman-temannya, yang segera mendapat pukulan kecil dari teman temannya
"Lah siapa yang nyetir Daf"
"Kan Lu pada bisa nyetir" ujar Daffa tak terima
"Kita tu nggak biasa nyetir Daf"
"Najis"
Shiden mendorong Daffa agar Daffa segera masuk ke dalam mobilnya dan mereka bisa melanjutkan perjalanan ke puncak karena jam sudah menunjukkan pukul 13.20, takutnya jalan menuju puncak akan macet mengingat besok adalah hari libur
"Rumput tetangga emang lebih indah dari pada rumput lu sendiri, syukurin aja" ujar Shiden setelah menyelesaikan tugasnya untuk mengantarkan Daffa ke mobilnya.
Kami semua masuk ke dalam mobil masing-masing, kali ini Shiden yang menyetir aku duduk disampingnya, sebenarnya aku ingin duduk di belakang bersama Sari, tapi tidak diperbolehkan dengan Reza dengan alasan "Kalau gue yang duduk di depan nanti dikira gue yang punya nih mobil, nggak ah gue belum kuat menanggung beban itu"
padahal jika dipikir pikir siapa juga yang akan mengira seperti itu, memang ajaib kelakuan teman-temannya Shiden yang sudah ku anggap sebagai temanku juga.
***
Sepanjang perjalanan suara nyanyian dari dalam mobil Daffa tidak pernah berhenti, ada saja yang mereka nyanyikan apalagi mereka punya biduan dangdut yang sudah melintasi berbagai negara siapa lagi kalau bukan Shadam
"Kala ku pandang kerlip bintang nun jauh di sana
Sayup kudengar melodi cinta yang menggema
Terasa kembali gelora jiwa mudaku
Karena tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut" ini ada lagu favoritnya Shadam "Tarik Mang" Wildan sebagai penonton juga menikmati suara Shadam yang sebenarnya jauh dari kata bagus tapi karena mereka sudah terbiasa mendengar suara Shadam, pada akhirnya telinga mereka mampu beradaptasi. "Api asmara yang dahulu pernah membara
Semakin hangat bagai ciuman yang pertama
Detak jantungku seakan ikut irama
Karena terlena oleh pesona alunan kopi dangdut " nyanyian Shadam semakin berlanjut"Di sawer dulu neng"
Daffa yang diam saja sejak tadi sebenarnya merasa terganggu dengan dua makhluk absurd yang ada di belakangnya itu, bagaimana tidak ia harus fokus menyetir tapi para makhluk itu terus menyanyikan lagu lagu dangdut yang sangat sangat bukan lagu favoritnya, bahkan Daffa tidak pernah mendengar lagu yang sejak tadi dinyanyikan oleh teman-temannya. sudah berulang kali Daffa mencoba mengganti lagu yang diputar oleh teman-temannya, tapi berulang kali pula teman-temannya itu mengganti lagu yang diputar dengan cepat. akhirnya Daffa hanya pasrah menuruti makhluk-makhluk absurd itu.
"Bisa diam nggak lu pada!" teriak Daffa pada akhirnya
Shadam dan Wildan diam sejenak lalu kembali melanjutkan nyanyian mereka
"Dag-dig-dug, detak jantungku
Ser-ser-ser-ser-ser, bunyi darahku
Dag-dug-dug-dig-dug, detak jantungku
Ser-ser-ser-ser-ser, bunyi darahku" Nyanyian mereka semakin menjadi-jadi sekarang iramanya sudah terdengar sangat tidak jelas bagi Shiden"Gue turunin lu pada disini" ujar Daffa sambil menyalakan lampu sen ke kiri hendak menepikan mobilnya.
"Gila lu ya Daf" Wildan akhirnya bersuara
"Tega lu sama temen sendiri" suara Shadam terdengar memelas.
Melihat mobil Daffa berhenti mobil Tylisia yang ada tepat berada di belakangnya juga berhenti.
Shiden membuka kaca jendelanya lebar-lebar untuk mencari tahu kenapa temannya itu berhenti.
"Ada apa Daf?" tanya Shiden melihat Daffa keluar dari mobilnya.
"Gue nggak bisa Den" pasrah Daffa yang membuat Shiden bertanya kepadanya
"Nggak bisa kenapa?"
"Gue nggak bisa nampung tuh dua anak gila itu" Daffa menunjuk Wildan dan Shadam yang sudah berdiri di luar mobil sambil tersenyum bodoh seperti orang tidak bersalah.
Shiden tahu apa yang dimaksud dengan Daffa, ia amat tahu kelakuan Wildan dan Shadam jika sedang di atas mobil.
"Gue juga nggak kuat" Shiden juga menyerah
"Lu turunin aja tu anak berdua disini" kali ini Reza ikut bersuara
"Yee, enak aja anak mami Fania ditinggalin di jalan" Wildan yang mendengar apa yang dibicarakan oleh teman-temannya merasa tak terima.
"Gini aja, gue sama lu si biduan dangdut itu disini, gimana?" Reza memberikan solusi agar perjalanan ini tetap berlanjut.
yang ternyata juga disetujui oleh Shiden dan Daffa.
"NGGAK MAU" tolak duo absurd itu
"Shadam itu belahan jiwa gue nggak boleh ada yang memisahkan kami" Wildan mendramatisir cara bicaranya membuat Shiden, Daffa, Reza bergidik geli.
"Kami tak akan terpisahkan walaupun badai menghadang" Shadam memegang tangan Wildan erat dan mengangkatnya tinggi-tinggi untuk menandakan bahwa mereka memang tidak terpisahkan.
"Lu ngga malu diliatin orang yang lewat" Shiden menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu. Sejak tadi memang ada beberapa pengendara yang melihat kepada mereka, ditambah lagi adegan barusan yang cukup menarik perhatian.
"Duh, yaudah Sari sama Reza pindah ke mobil Daffa, biar gue tampung tu para alien" Shiden akhirnya mengatakan sebuah kalimat yang membuat Wildan dan Shadam berteriak "HOREEE!"
Reza dan Sari keluar dari mobil dan masuk ke mobil daffa, dan duo alien absurd itu dengan cepat menaiki mobil yang dikendarai oleh Shiden.
"Gila biduan naik mobil Sultan" ujar Shadam berteriak senang karena pada akhirnya ia bisa merasakan naik mobil marcedes benz yang termahal di kelasnya.
****