0.20

1259 Kata
Sudah 15 menit Shadam habiskan di kamar mandi, setiap ia selesai membuang hajatnya maka perutnya kembali mulas dan seperti ingin buang hajat lagi, dan kegiatan itu sudah berulang sampai 5 kali. "Ini gara gara Wildan" batinnya Bagaimana ia tidak sakit perut, Wildan menuangkan tiga sendok cabe ke dalam mangkok mie ayamnya, padahal Wildan tahu ia tak suka makanan pedas, tapi dasar teman yang tidak ada otak jadilah ia harus memakan makanan yang pedas itu, dari pada terbuang. Dan pada kegiatan ke enamnya akhirnya perutnya kembali baim baik saja. Menandakan bahwa masalah sudah selesai. Langsung saja ia keluar dari kamar mandi untuk kembali ke mobil. Ia tak sabar ingin menyumpahi Wildan. "Gila lama banget lu, ngapan semedi? " satu pertanyaan yang lolos dari mulut Wildan membuat amarah Shadam semakin memuncak tak sadarkah Wildan ini karena dirinya. "Ini gara gara lu bangs*t" kesal Shadam sambil membuka pintu mobil dan kembali duduk di bagku penumpang. "Lah kok gue? " pertengkaran masih saja belum usai, kali ini Wildan yang tak mau disalahkan atas apa yang menimpa Shadam "Gara gara lu masukin cabe ke mie ayam gue, gue jadi mencret" "Iww lah gue kan cuman nuangin cabe, salah perut lu aja yang lemah" ujar Wildan tak mau kalah "Ya kalau lu nggak nuangin cabe perut gue nggak bakalan jadi lemah" "Lah kok sewot si lu, biasa aja" "Lah siapa yang sewot" Sekarang bukan hanya mulut mereka yang terus bermain tapi kini tangan dan kaki mereka sudah saling menarik apa yang bisa ditarik. Shadam sudah menarik rambut Wildan dan Wildan sedang mencoba mematahkan kaki Shadam. Benar benar pertengakaran manusia tidak normal. Diam adalah sebuah kata yang hanya bisa aku dan Shiden lakukan. Kami tak ingin ikut campur dengan apa yang mereka lakukan, karena kami manusia normal dan mereka tidak. *** Perjalanan masih terus kami lanjutkan setelah berbagai drama yang terjadi karena ulah para manusia manusia aneh ini. Masih ada waktu 1 jam lagi sebelum sampai ke puncak, semoga tidak ada lagi drama drama aneh yang akan terjadi kedepannya. Itulah harapan kami semua. *** Tepat pukul 18.00 kami sampai di Villa, Villa yang sangat indah dan Asri dengan bentuk yang khas seperti villa pada umumnya tapi ini terbuat dari kayu bewarna coklat yang menambah keasrian dan kenyamanan mata yang memandang dilengkapi dengan kolam renang yang juga cantik dan pemandangan hijau yang ada di sekitarnya, oh ya ini Villa milik keluarga Shiden. Biasanya mereka memang sering berkunjung ke Villa ini, mangkanya mereka tampak tak asing lagi hanya aku dan Sari yang baru pertana kali kesini. Para keempat lelaki itu berlari girang masuk ke dalam Villa. Meninggalkan Shiden aku dan Sari yang harus mengangkat barang barang yang ada di dalam mobil. Melihat para teman temannya itu sudah berlarian ke dalam rumah membuatnya mau tak mau harus berteriak agar para makhluk itu mendengarnya "WOII, JANGAN SOK LUPA DEH SAMA BARANG KALIAN" *krik krik* Tak ada satupun yang merespon perkataan Shiden yang ada hanya suara jangkring seakan sedang mentertawakan Shiden. "Kita bawain aja Den" ujar Sari "Jangan ada satupun dari kalian berdua yang nyentuh barang mereka, kalau nggak mau tidur di luar" ancam Shiden "Jangan gitu Den" bujukku kepada Shiden "Kali ini kita lagi nggak lagi ngadain acara amal Yaya, nggak usah nolongin para manusia tidak normal itu" Shiden tetap tak bisa dibujuk. Akhirnya aku dan Sari menuruti perkataan Shiden dan mengangkat barang barang yang bisa kami bawa. *** "Gue mau mandi dulu ah" ucap Daffa kepada ketiga temannya yang sedang merebahkan diri di atas kasur sambil bermain game. "Iye" satu kata sebagai respon dari ucapan Daffa Setelah Daffa masuk ke kamar mandi tak ada dari mereka yang bersuara sibuk dengan game yang tengah mereka mainkan. Tiba tiba suara Reza terdengar "Eh tadi pas kita masuk ke dalam lu denger suara Shiden manggil kita nggak sih? " "Shiden? " tanya Wildan "Iya" "Kagak" "Perasaan gue juga nggak" "Atau jangan jangan penunggu sini yang manggil lu Ja" "Dih bambang nakut nakutin aja" sebenarnya Reza adalah sosok yang penakut terhadap makhluk makhluk gaib yang tak kasat mata, maka dari itu ia sering mrnjadi bahan candaan bagi teman temannya. "Ah mungkin benar itu hanya perasaannya saja" batin Reza. Mereka melanjutkan game yang sedang mereka mainkan dan sesekali berteriak heboh khas para gamers abal abal yang sering ditemukan di pinggir jalan ralat di tempat tongkrongan anak muda. "Lari dong lemah banget" "Lu ikutin gue" "Shadam lu kemana" "Tembak b**o" "Gue bentar lagi mati nih" *** "Woi" "Tolongin gue dong" Terdengar suara dari kamar mandi, tapi tak mereka hiraukan. "Woi, Reja" " Shadam " " Wildan " Tidak ada respon dari pemilik nama tersebut. "WOIIII" teriak daffa dari kamar mandi yang menyadarkan para manusia itu akan panggilan Daffa kepada mereka bertiga, tapi tetap saja mata mereka bukannya fokus ke sumber suara tapi malah ke layar ponsel. "Gue pinjam handuk kalian, handuk gue masih di mobil" Tidak ada respon. "Kalian dengar nggak sih, woi" "Handuk gue juga masih di mobil" respon pertama dari Shadam " Lu Dan? " tanya Daffa kepada Wildan " Sama gue juga di mobil, belum di ambil" " Jangan tanya gue, gue lupa bawa handuk" jawaban Reza membuat semua bergidik ngeri, bagaimana tidak jika Reza lupa membawa handuk pasti ia akan meminjam handuk setiap kali akan mandi, bukannya pelit tapi Reza jika meminjam handuk suka tidak tahu diri, handuk basah bukannya dijemur malah dibiarin tergeletak di lantai. Tentu saja akan membuat bau tak sedap. "Lah gue gimana nih keluarnya" tanya Daffa "Keluar aja susah bener" jawaban santai Reza membuat Daffa mengerang kesal "Gila lu, gimana kalau barang gue keliatan" "Barang lu nggak spesial juga" "Iya nggak lu doang yang ada gue juga, mau liat? "jawaban Shadam membuat Daffa semakin mencak mencak kesal dari dalam kamar mandi. " Emang susah punya temen yang otaknya lempeng kek papan" "Dari pada lu otak sama barang sama sama lempeng" " g****k ANJ.. " u*****n Daffa tertahan setelah Wildan melemparkan selimut yang ada di dekatnya ke arah Daffa yang tengah menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi. "Untuk apa nih? " Daffa masih saja bertanya tak mengerti "Otak lu dah ditutupin kabut asap ya, itu tu untuk nutupin barang berharga lu" Wildan mengerang kesal akibat kelemotan jalan fikiran temannya satu ini. "Oh ya makasihh ya ehehe" Daffa segera membalutkan selimut ke seluruh tubuhnya agar bisa menutupi tubuhnya sekaligus mengeringkan tubuhnya. *** Aku dan Sari sudah berada di salah satu kamar yang tersedia di villa ini, villa ini memiliki 5 kamar tidur yang ukurannya cukup luas jika hanya diisi dua orang saja. "Tyl, lu yang mandi atau gue dulu? " tanya Sari kepadaku "Lu aja Sar, gue mau panasin makanan dulu" Yap benar aku ingin memanaskan makanan yang telah aku bawa dari rumah untuk persiapan makan nanti malam, kebetulan perutku juga sudah berdemo untuk segera memberikan asupan makanan kepada mereka para cacing cacing peliharaanku. " Oh ya sudah gue duluan ya, nanti gue nyusul ke dapur" " Oke" Aku berjalan menuju dapur yang terletak di tengah tengah villa ini. Aku bisa melihat dapur yang di d******i dengan furniture furniture dengan kayu asli dan warna coklat khas kayu, benar benar menambah kesan nyaman villa ini. Aku melihat makanan yang dipersiapkan oleh mbak mbak yang ada dirumahku, aku mengecek satu per satu ada ayam bakar, ikan bakar, cumi pedas manis, udang sambal petai, ada camilan seperti dimsum, bakso goreng yang masih dalam bentuk frozen food, dan tak terkecuali ada cireng yang juga masih berbentuk frozen food. Aku menjelajahi setiap jengkal dapur ini untuk melihat adakah microwave di dapur ini. Aku tersenyum saat menemukan microwave yang letaknya ada di dekat dispenser, lalu aku mengambil ayam bakar dan ikan bakar untuk dipanaskan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN