0.52

1154 Kata
Erlanda tiba di sebuah ruangan yang biasanya akan ia datangi minimal satu kali dalam seminggu. "Hai Er" sapa seorang laki laki yang kelihatan sudah berumur "Hai om" balas Erlanda kemudian Erlanda melepas seragam sekolahnya dan berganti dengan baju kaos yang telah ia bawa dari rumah "Siapa nih?" tiba tiba seorang merangkulnya dari belakang, membuatnya melepaskan rangkulan itu karena orang itu tahu bahwa dirinya sangat tidak suka diperlakukan seperti itu. "Kek baru ketemu aja lo" ujar Erlanda sambil mengarahkan tinjunya ke arah laki laki yang merangkulnya tadi "Kirain dah lupa sama kita, gimana sekolah lo?" "Basi banget pertanyaan lo" Erlanda berjalan menuju meja kerjanya yang hampir satu bulan tidak ia sentuh setelah mendapat pekerjaan besar, Erlanda dibolehkan untuk cuti selama satu bulan. Dan hari ini jatah cutinya telah habis, maka dari itu ia kembali bekerja. "Gue nggak nyangka orang tanpa pengalaman kek lo bisa sehebat itu jago juga lo" ujar temannya tak percaya dengan hasil kerja Erlanda kemarin. Erlanda yang mendengar ucapan temannya hanya bisa tertawa "Untuk menumpas kejahatan gue berani ngelakuin apa aja" "Huwekk" temannya yang mendengar ucapan Erlanda pura pura muntah karena merasa geli dengan ucapan Erlanda "b*****t lo" ujar Erlanda tak terima. Ia duduk di kursi kerjanya dan menghidupkan komputernya yang sudah lama tak ia hidupkan "Selama gue disini, nggak ada yang megang komputer gue kan?" tanya Erlanda "Kagak ada mana ada yang berani, mereka takut ketemu tuhan" sahut yang lain yang berada di ruangan itu. "Pada gila lo semua" yang memecah gelak tawa di ruangan ini, jika disini Erlanda seperti sosok yang berbeda dengan dirinya di sekolah. Ketika di sekolah ia seperti orang yang tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain tapi jika di sini Erlanda adalah salah satu orang yang mampu meramaikan suasana. "Om, Next project?" "Gila lu Er, baru dapat reward dah haus aje" sela temannya tak terima "Jangan di kasih om, ambis banget kek anak UI" protes temannya yang lain Seseorang yang dipanggil om oleh Erlanda itu berjalan mendekat ke arah Erlanda, menyentuh bahu Erlanda kemudian bertanya kepada Erlanda "Are u Ready?" **** Hari ini tidak ada satupun kelas yang melaksanakan proses belajar mengajar sebab guru guru sedang melaksanakan rapat alhasil kami hanya bermain di dalam kelas lebih baik hari ini libur saja daripada datang ke sekolah. Aku, Keyla, Choki memutuskan untuk bermain uno untung saja Choki membawa uno hari ini sehingga membuat kami bisa bermain untuk mengatasi kebosanan. Erlanda? Tentu saja Erlanda tak ikut bermain, ia sedang b******a dengan buku bukunya. Aku heran bagaimana Erlanda bisa fokus dalam situasi seperti ini. Benar benar patut ku acungi jempol. "Key, Tyl ngadep sini" uajr Choki segera kami menuruti perintah Choki dengan memutar kursi kami menghadap mejanya Keyla langsung berhadapan dengan Choki sedangkan aku langsung menghadap Erlanda yang sama sekali tidak terganggu. Selagi Choki membagi kartu Uno yang ada di tangannya, aku terus memperhatikan Erlanda yang sedang membaca, bagaimana ia bisa setampan itu, saking tak sadarnya karena terpesona dengan ketampanannya aku malah menopang daguku sambil senyum senyum sendiri. "Er, kamu ganteng banget sih" ujarku tak sadar, ucapanku ini ternyata cukup keras membuat Erlanda, Choki, dan Keyla mengalihkan perhatiannya kepadaku. "Tyl" panggil Choki tapi sama sekali tak terdengar olehku Kemudian Choki menyuruh Keyla untuk menyadarkan diriku, Keyla mencubitku pelan membuatku tersadar apa yang sedang aku lakukan. Saat aku sadar, aku bisa melihat Erlanda sedang menatapku begitu pula dengan Choki "Jangan bilang ucapanku tadi terdengar olehnya, bodoh banget sih" aku mengutuk diriku sendiri berulang kali aku membuat imageku buruk di depan Erlanda. "Tyl, gue ganteng nggak?" tanya Choki kepadaku yang mendapat gelak tawa dari Keyla, apakah mereka sedang mengejekku. Aku membesarkan bola mataku kepada Choki, apa apaan dia haruskah ia bertanya seperti itu saat aku sedang mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ya sudah ayo kita lanjut main, ini kartu gue kan yok mulai mulai" ujarku mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa maluku *** Setelah selesai bermain Uno aku izin untuk ke toilet. "Key, gue ke toilet dulu ya" Aku merasa ingin buang air kecil jadi aku putuskan untuk pergi ke toilet, sesampainya di toilet tidak ada satupun siswa yang berada di toilet hanya aku sendiri, baguslah biasanya toilet selalu ramai. Aku masuk ke dalam toilet, kemudian ketika aku hendak keluar aku mendengar suara sekelompok siswa perempuan. "Mungkin mereka ingin menggunakan toilet juga" batinku lalu aku memutuskan untuk keluar tapi belum sempat tanganku memegang ganggang pintu aku mendengar mereka sedang menceritakan masalah keluargaku. "Jadi anak baru itu anak koruptor?" ujar salah satu siswa itu bertanya kepada temannya aku meneguk ludah mendengar percakapan mereka dari mana mereka tahu bukankah wajahku tak sedikitpun terekspos oleh media. "Iya, ya ampun dia dulu anak JIS tapi karena bapaknya ngelakuin hal kotor jadinya dia terdampar di sekolah kita. Dan bodohnya sekolah ini mau menerima anak koruptor" Nafasku tercekat mendengar perkataan mereka dari mana mereka mendapat informasi yang tidak benar seperti itu, "Papaku bukan koruptor papaku hanya di jebak oleh orang yang iri kepadanya" ingin aku berteriak mengatakan hal itu di hadapan mereka tapi aku tahu itu bukanlah tindakan yang baik, karena bagaimanapun aku menjelaskannya mereka tak akan mau percaya. Jadi daripada aku harus terus mendengar ucapan mereka yang menyakiti hati kuputuskan untuk keluar, aku memegang ganggang pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara dan mereka tidak mengetahui keberadaanku. Cekrek Sial, pintunya masih berbunyi padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengeluarkan suara. Dengan cepat aku berbalik agar wajahku tidak dikenali oleh mereka tapi sungguh sayang nasibku memang tidak selalu baik. "Et, Tunggu" ujar salah seorang siswi itu tapi tidak kuhiraukan. "Bukankah dia anak si koruptor itu" sambungnya lagi Perkataannya sukses membuat langkahku terhenti, aku menahan emosiku mengepalkan tangan sekuat tenaga agar aku tidak meluapkan emosiku kepada mereka. Setelah itu aku langsung melanjutkan langkahku kembali ke kelas, hatiku terasa sakit saat mereka mengatakan hal yang tidak tidak mengenai papa, siapa mereka yang bisa menilai papa seperti itu. Sebelum aku memasuki kelas aku mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas dalam dalam, aku tidak ingin Keyla dan Choki menyadari raut wajahku. "Tyl, dari mana kok lama?" tanya Choki "Toilet" ujarku singkat Choki heran dengan apa yang aku lakukan tak pernah biasanya aku mengeluarkan nada seperti itu kepada Choki membuatnya bingung hingga bertanya kepada Keyla "Key, kenapa tuh?" Keyla hanya mengangkat bahunya tak tahu "Mungkin kesambet hantu toilet" **** "Huwaa kalau tahu dari pagi nggak belajar mendingan gue libur aja" protes Choki yang mendapat persetujuan dari Keyla "Iya, kalau tau gini gue ngedrakor dirumah" TIIT TIIIT Bunyi bel tanda istirahat yang mereka tunggu tunggu akhirnya berbunyi, aku yang sejak tadi hanya diam akhirnya bersuara "Kantin yuk" ajakku kepada Keyla "Yuk". Aku melihat Erlanda yang sejak tadi fokus kepada bukunya, sebegitu sukanya kah dia membaca buku sampai tak ada hari tanpa membaca buku "Er, kantin yuk" ajakku kepadanya sebenarnya aku masih malu jika mengingat apa yang aku lakukan di depan Erlanda tapi aku tak ingin malu berlarut larut. "Tumben ngajak Erlanda" Choki menggodaku lagi, aku yang tak terima segera melayangkan pukulanku ke arah Choki yang berada tepat di sebelahku "Lu mau ketemu tuhan Chok?" ancamku kepadanya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN