1. Hutang

1330 Kata
Hidup di keluarga yang harmonis sangatlah menyenangkan dan keharmonisan di dalam keluarga kecil ini adalah salah satu mimpi yang indah. Namun, dibalik keharmonisan keluargaku salah satunya terdapat masalah yang seharusnya umum terjadi. Ya, sebuah utang piutang. Setiap orang bakal memiliki hutang, mulai nominal kecil hingga besar. Jangankan individual, perusahaan atau negara aja masih memiliki hutang. Aku terkadang memikirkan hal ini sampai ke langit yang mana tidak akan bisa ku raih karena langit itu masih tinggi dan tinggi. Beberapa orang di desaku jika terlilit hutang piutang, urusannya bakal panjang bahkan ada sampai terpaksa angkat kaki. Diusir secara paksa. Keluargaku juga memiliki hutang yang nominalnya bisa dikatakan besar bagi orang awam. Karena ayahku seorang petani sedangkan ibuku penjual kue. Pemasukkan uang pun tidak menentu. Orang kaya raya di desaku adalah Keluarga Pratama dan menjabat sebagai kelurahan desa. Keluarga Pratama sering kali meminjamkan pinjaman atau hutang pada warga desa . Namun, jika hutang itu tidak dibayar sesuai target yang dijanjikan, ia menjadi semena-mena dan menyuruh anak buahnya mengusir warga dari rumah. Perilaku Keluarga Pratama memang sungguh hina dan juga mengancam warga jika mendengar ada orang yang berani mengadu ke polisi. Beberapa waktu lalu, anak buah Pak Pratama datang ke rumahku dan membahas soal hutang. Saat itu, aku tidak sengaja mendengar mereka berdua berbincang pada ayahku. "Jika Pak Arif tidak membayar hutang tepat waktu. Maka anak gadis bapak harus ikut dengan kami berdua menjadi pembantu di sana. Selamanya!" ucap salah satu anak buah, Pak Pratama. Aku yang bersembunyi dibalik tembok terkejut mendengarnya. Bisa-bisanya mereka mengatakan hal itu, aku dijadikan babu di rumahnya. Tidak bisa dibiarin, aku berada di Keluarga Pratama. Tahu betul, kalau Keluarga Pratama memiliki tiga putra yang ku nilai tampan. Sayangnya, aku tidak mau berurusan dengan keluarga yang tidak memiliki hati nurani. 'Aku akan meracuni keluarga s****n itu hanya dalam satu malam!'—batinku menggerutu kesal. "Saya akan membayar hutang secepatnya walau harus nyicil. Yang terpenting, tanggal-nya pas jadi kalian berdua...tidak membawa putriku satu-satunya kesana." kata ayah mencoba menerangkan baik-baik. Ku lihat begitu seksama terutama kontak mata dua anak buah Pak Pratama. Jika aku memiliki kekuatan, aku akan menerbangkan dua orang itu sampai ke ujung langit menggunakan kekuatan angin. Andai kekuatan itu nyata dan dunia fantasi ada. Ku bantai semua penjahat yang ada disini, menegakkan keadilan di desa terpencil memanglah sangat sulit. Setelah aku mendengarkan pembicaraan itu, kedua langkahku berlari kecil menaiki tangga menuju kamar. Membuka laci melihat ada satu buku kosong lalu membuka tempat pensil yang ku letakkan di atas meja belajar. Perasaanku kini berkecamuk setiap mengingat ucapan yang bagiku terlalu memaksa. Di desa ini harus ada Hero untuk membasmi kejahatan. Umurku bisa dibilang sudah berinjak dewasa dan sebentar lagi lulus. Namun, jalan pemikiran ku masih dibilang anak kecil, memikirkan tokoh super Hero dan bermain halusinasi. Diriku juga masih labil, tidak memiliki pendirian sendiri serta masih ada keraguan setiap ingin memutuskan dua pilihan yang pantas untukku. Kemauan ku hanya ada dua: membahagiakan kedua orang tua dan menegakkan keadilan dari orang-orang serakah. Kadang aku pernah berpikir, bagaimana kehidupan di dunia fantasi? Apa sesuai degan apa yang aku pikirkan? Dan apakah dunia fantasi seindah yang di gambarkan film, komik juga novel. Ini membuat beranekaragam pertanyaan yang ada di dalam pikiranku. Jadi aku memutuskan untuk menulis sesuai apa yang hatiku katakan. "Menulis dengan khayalan memang sangatlah menarik. Aku akan menambahkan dua teman menarik serta unik." "Sebelum bertemu dengan mereka berdua. Aku harus melewati penghubung dunia nyata ke dunia seperti pararel." kataku sambil menggoreskan tinta pena di setiap-setiap garis. Angin berhembus masuk lewat jendela. Rasanya sangatlah sejuk dan segar menjadi satu. Tirai gorden ku melayang-layang tertiup angin sedangkan aku masih sibuk menulis sebuah cerita yang bagiku menarik sekali untuk di tulis. Walau nanti buku coret-coretan ku ini hanya aku yang baca. Tidak masalah buatku. Ini hanya dibuat bersenang-senang. *** Teman-teman satu kelas sedang membicarakan hal lucu di grup chat membuatku tertawa terbahak-bahak. Meski di desa terpencil seperti ini, untungnya koneksi internet masih bisa dijangkau. Yang tidak bisa dijangkau di sini adalah mall, toko besar yang di dalamnya begitu banyak teknologi canggih dan barang-barang mahal. Selama ini aku tidak pernah merasakan hidup di kota kayak gimana. Aku hanya bisa merasakan kehidupan kota melewati ponsel dan membayangkan jika aku beneran di sana. Hari sudah malam dan angin masih berhembus sangat kencang di luar sana, aku membiarkan jendela terbuka lebar, sebab aku ingin merasakan angin dingin malam hari secara langsung. Memejamkan mata sambil merasakan angin dingin nan sejuk sangatlah menyenangkan. Indera pendengaran ku mendengar suara jangkrik begitu jelas, sudah hal biasa suara-suara jangkrik bakal terdengar di malam hari. Dedaunan yang gugur pun menjadi tersapu masuk ke kamar. "Astaga! Jadi kotor kamar ku, nanti." ucapku melihat daun-daun mengotori lantai kamar. Jadi aku memutuskan untuk menutup jendela rapat-rapat dan membersihkan daun-daun yang masuk. Suara detik jarum jam terdengar menunjukkan angka 9 malam, sudah waktunya aku tidur dan besok sekolah sudah tiba. Aku segera menarik selimut dan mematikan lampu lalu menghidupkan lampu tidur. Seharusnya, aku tidak nyaman tidur dengan lampu yang remang-remang gini. Takut, kalau ada hantu tiba-tiba muncul di depanku nanti. Dengan cepat, aku membuang pikiran negatif dan memejamkan mata. Tidurku malam ini sangatlah nyenyak sehingga aku merasakan sedang menjelajah waktu melewati beberapa portal. Seulas senyum terukir jelas di bibirku, beberapa warna serta kegiatan bisa ku lihat di sekeliling ku. Kemudian, menjadi gelap gulita dan tubuhku sudah tidak merasakan melayang seperti tadi. Memberanikan diri untuk membuka mata perlahan-lahan. Ketika aku membuka mata lebar-lebar, aku berada di atas tangga rumahku. Berdiri diam di sini seperti orang bodoh, melihat sekitar juga tidak ada siapapun, ruangan juga gelap. Memijakkan kaki ke anak tangga, tidak ada reaksi apapun. Namun, saat kaki ini menginjakkan kaki ke anak tangga nomor sembilan, di luar rumah terdapat petir yang memekikkan telinga membuatku berteriak kencang. "AAAAA!" Tidak hanya berteriak kencang saja, saat langkahku ingin menginjak anak tangga selanjutnya. Kakiku tersandung membuatku berguling-guling menuruni tangga yang secara tiba-tiba memanjang tanpa ujung bersamaan suara guntur. Tubuh ini terus berguling-guling tanpa henti sampai akhirnya berhenti dengan sendirinya di lantai datar dan beraroma seperti tanah. Ketika ingin membuka mata, ada sesuatu yang menjanggal di kakiku. Ada sesuatu yang melilit kakiku. Mata ini terbuka lebar melihat apa yang sebenarnya terjadi, aku melihat ke bawah melotot melihat ada ular berukuran besar berwarna putih, mata kuning menyala menatapku dan memangsa ku. Pandangan mulai gelap dan mengira bahwa aku ini sudah mati, ternyata aku belum mati. Terbangun lagi, kini berbeda tempat dan ditemani oleh cahaya rembulan, tidur di tengah-tengah batu bangunan yang sudah menjadi puing-puing, menyisakan 7 pilar yang masih berdiri kokoh memutari ku. "Dimana aku ini? Bukan kah aku berada di atas kasur? Kenapa aku malah ada disini?" pertanyaan demi pertanyaan ku luncurkan begitu saja, tatapan bingung. Tidak bisa melakukan apa-apa selain memerhatikan sekitar yang sangat asing dan bagiku tidak pernah ada di dunia sesungguhnya. Maksudku di dunia ku sendiri, di sini ada banyak aura-aura yang kuat dan aku sendiri tidak tahu, aura apakah itu? Selama aku duduk di atas batu. Aku hanya bisa melihat sekeliling saja melihat ada tujuh pilar yang mengelilingi ku. Setelah mengamati baik-baik ketujuh pilar yang berdiri kokoh di sekelilingku, ada sesuatu menurutku aneh. Tetapi aku masih ragu. "Apa aku tadi sekilas melihat layar masa depan?" monolog ku pada diri sendiri. Tiba-tiba tempat yang ku pijak ini berganti menjadi lorong gelap yang dipenuhi oleh putaran waktu, kemudian dipenuhi oleh lingkaran-lingakaran warna-warni membuat kepalaku berdenyut-denyut kencang. Ini mimpi yang sangat aneh. Pada akhirnya aku membuka mataku lebar-lebar terbangun dari mimpiku yang buruk. Jantungku pun, berdebar-debar tidak karuan, keringat dingin terus mengucur. Mimpi aneh tersebut seperti kenyataan yang membuat banyak sekali pertanyaan. Saat ingin mengerakkan kedua kakiku. Aku terdiam sejenak, merasakan itu lagi saat kakiku dililit oleh ular putih. Arah pandang ku mencoba melihat ke bawah dan membuka lebar selimut yang menutupi kedua kakiku. Mata sukses melebar dan mulut menganga melihat ada satu ular putih melilit kedua kakiku, matanya sama seperti apa yang ada di mimpi. Ular tersebut berdiri tegap menatapku tatapan mangsa lalu ia tidak segan-segan menyerang ku bersamaan berteriak kencang memanggil ayah dan ibuku. "AYAH! IBU!" teriakku dalam kamar, ketakutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN