Mata Lauren terbuka lebar! "apa maksudmu? apa kau baru saja mengatakan bahwa aku harus pipis di sini,?" mata wanita itu membesar karena tak tahu harus berkata apa dengan perintah yang Romeo katakan. “Aku rasa selama ini kau tak gila! Bahkan kau sangat populer di kalangan wanita di kampus! Lalu apa ini?” napas Lauren tersengal-sengal saat memaki Romeo yang terus membaca tubuhnya dari atas sampai bawah.
Hah, Romeo sudah berusaha menahan dirinya sejak tadi, bahkan pria itu sudah berusaha membuka mulutnya lebar karena tak ingin gairahnya tertangkap basah. Padahal benda di bawah sudah sangat menngacung dan dia tak bisa mengendalikan dengan mudah.
Romeo mendekat pada wanita itu dan berbisik di telinganya. "Lauren, bantu aku sekarang!"
Dia merapikan semua rambut panjangnya ke belakang. Perlahan Romeo mencium telinga Lauren dan menggigitnya kuat! Lauren sempat berteriak karena terkejut.
Wajah Lauren memerah dan Romeo suka itu! "Lepas, b******k kau," umpatnya dan itu malah membuat Romeo terkekeh kecil.
Pria itu mengangkat dagu Lauren dan memanggut pAdit bibir merah jambu itu dengan kasar. "Apa kau ingin melawanku,?" Romeo menjambak rambut Lauren ke belakang dengan kuat hingga mulut wanita itu ternganga, “Kau pikir siapa bosnya di sini? Jelas aku bukan? Aku tidak ingin membuat kau terpaksa melayani aku saat ini! Tapi sungguh aku ingin karena kau memaksa dengan gerakan seksi ini,”
"Ah, sakit," rintihan itu tak di pedulikan sama sekali oleh Romeo.
Pria itu dengan kasar menyesap leher jenjang nan putih. Turun ke bawah memainkan buah d**a Lauren yang terekspos! dia memanggut seperti bayi yang kelaparan,
Dalam hati Romeo berkata. ‘Kau akan menjadi milikku Lauren! Lima tahu waktu yang sangat sebentar! Aku sangat percaya diri untuk memiliki dirimu. Kau akan lihat seberapa kuatnya aku!
Lauren terus mengumpat karena rambutnya yang sakit karena di jambak dan buah dadanya yang di hisap kuat. Gigi Romeo menggertak di sana! memainkan ujung hingga lagi-lagi Lauren terpekik.
Romeo menggunakan tangan kanan membuka celana hingga benda yang sejak tadi bersembunyi melompat dan mengacung keluar. “Romeo jangan melakukan hal yang aneh! Ini tidak sesuai dengan perjanjian kita. Ingat Romeo setelah menikah! Sadarkan dirimu,” teriaknya.
Wajah Lauren terlihat sangat terkejut! "Kenapa apa ini begitu besar,? buka mulutmu,"
Dia menggeleng! "TIDAK,"
"Jangan buat aku memaksamu,"
Tangan Romeo yang besar meremat dengan kasar buah d**a Lauren lagi dan menyesap kembali hingga erangan wanita itu tembus di antara dinding kamar.
"Kau gila! tak ada yang lebih gila darimu, Ah," mulutnya tak lagi bisa bicara karena sudah di sumbat dengan benda milik Romeo.
Pria itu semakin mendekat! kedua tangannya menompang tubuh pria itu pada bagian atas kursi. Dia membuka lebar kakinya hingga mulut Lauren penuh berada dalam intimidasi bendanya.
"Ogh," Romeo semakin cepat bergerak,. "Ogh, nikmat sekali, heh," dia mengerang berkali-kali karena akan mencapai klimaks. "Oh,"
Pria itu lemas! dia memulihkan posisinya dan menatap wajah Lauren yang saat ini penuh dengan s****a, "b******k!"
"Ya, aku b******k," jawabnya sambil tertawa dan berjalan menjauh dari wanita tersebut.
"Romeo mau kemana kau? lepaskan aku! jangan gila, Romeo,"
Pria itu masuk ke dalam kamar mandi dan melihat dirinya di cermin! akhirnya kau tak bisa menahan diri Romeo! bukankah dia sangat seksi? wajar jika kau gila kareannya! padahal wanita itu cukup seram bro!" dia terkekeh melihat dirinya pada kaca.
Masih teringat jelas di memori Romeo bagaimana pertama kali dia bisa memperhatikan Lauren. Wanita yang merupakan pentolan kelas dan jurusannya itu tak pernah dekat dengan wanita! semua temannya pria dan dia menguasai bela diri hingga banyak dari pria yang menganggap Lauren cocok di anggap teman.
Hingga malam terakhir di kampus!
Romeo yang tak bisa tidur karena memikirkan Katie yang terus menganggap dirinya seorang kekasih pun menghabiskan waktu di kolam berenang.
Saat dia selesai, dan ingin membersihkan diri. Romeo menatap lurus ke arah tempat pemandian pria yang tembus tanpa sekat dari balik kaca.
Memang malam itu sudah menunjukkan pukul dua malam. Jika di pikir mana ada manusia yang berenang di kolam renang kampus pada jam seperti itu.
Tapi takdir membawa mereka. Lauren yang tak tahu sama sekali di perhatikan sangat menikmati setiap air yang mengalir.
Sedangkan Romeo! jantungnya berdebar kencang! benda pria itu mengeras! dia menyentuh dengan pelan dan berakhir dengan mengocok benda itu cepat!
Romeo keluar! s****a mengotori tangannya! dia menelan saliva, matanya tak henti memandang Lauren, rambut panjangnya hitam itu ternyata selalu berada di dalam topi yang dia gunakan.
Indah, itulah yang Romeo rasakan.
Pria itu sungguh penasaran! hingga dia mencari Lauren keesokan paginya! Tidak ada yang dia dapat karena wanita itu sudah pulang ke Singapura negara asalnya.
Sejak hari itu Romeo selalu berusaha mendapatkan Lauren! semua semakin sulit saat perusahaan keluarganya hancur dan wanita itu seolah hilang di telan bumi.
Romeo mencari tahu melalui alumni lain yang sama-sama kuliah di London! dari angkatan di bawah mereka sampai angkatan atas! tapi tak dia temukan.
Membawa Lauren di sampingnya! melihat wanita itu tidur dan bangun melalui kamera CCTV sungguh membuat Romeo semakin bersemangat.
Dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi! entahkah itu cinta atau hanya nafsu. Yang jelas Romeo tak akan membiarkan dia pergi darinya.
"Lepaskan aku," suara Lauren terdengar sangat kuat hingga memekakkan telinga.
"Oke," jawabnya sambil melepaskan tali yang melilit tubuh Lauren. "Akkh," Romeo terpekik tiba-tiba saat Lauren menggigit tangannya hingga terluka.
Romeo menarik satu garis bibirnya, dia berjalan cepat dan mengangkat wanita itu pada gendongan menuju kamar mandi.
Sraz, air shower membasahi mereka berdua. Romeo menerkam tangan Lauren hingga semuanya berada di atas kepala wanita itu.
Dengan lincah dia menikmati setiap senti tubuh wanita yang terus berteriak memohon ampun karena dirinya sudah tidak tahan lagi dengan kegeliaan ini.
“Ampun,” teriaknya berkali-kali, “Ampuni aku,”
Romeo senag sekali bisa mempermainkan Lauren hari ini! Dia melepaskan tangan wanita tersebut dan pergi keluar dari kamar mandi.
“Jangan lupa bereskan semua pakaianmu, kita akan pindah ke rumah orangtuaku,”
Lauren mengepalkan tinju! Orangtua Romeo tidak tahu apapun jadi dirinya tak bisa berteriak sembarangan dan mengumpat pada pria tersebut. Pasangan romantis nan hangat itulah yang akan dirinya tampilkan.
“Aku lapar,”
“Lapar ya tinggal makan, susah amat hidupmu,”
Lauren yang malas bertengkar duduk di hadapan Romeo. Handuk di kepala dan yang melingkar di tubuh wanita itu membuat dirinya terlihat sangat seksi.
“Apa yang harus aku lakukan di sana,? apa kita akan sangat berpura-pura? Apa kita harus terlihat romantis dan manis,?”