Bab 10

1158 Kata
Bab 10 Arsyad memandang wajah Naura wajah itu masih tersedu dengan buliran air jatuh dari sudut matanya. Arsyad yang mulai merasa jatuh cinta pada istri keduanya itu, merasa iba. "Mi mengambil air itu bukan pekerjaan susah, apa salahnya Ami mengambilkannya. tidak perlu juga menjadi masalah besar apalagi sampai bertengkar. Lihat Naura menangis. Bersikaplah lebih dewasa, Mi. Kelakuanmu tidak seperti yang Abi lihat selama ini." Istri mana yang tidak sakit apabila suaminya membela sang istri kedua secara blak-blakan di depan mata. Tanpa mau menelisik duduk permasalahan yang sebenarnya. "Bi, kalau sekiranya Naura sakit atau tidak bisa berjalan, tentu saja aku ingin memenuhi permintaannya apalagi cuma sekedar mengambilkannya air minum. Tapi kalau kakinya masih kuat untuk berjalan. Tangannya juga masih kuat untuk menuangkan air putih ke gelas, maaf bi aku bukan orang suruhan. Selama ini aku sudah berusaha berdampingan dengan Naura, setiap pagi aku memasakkan kalian sarapan. Mencuci baju kalian. semua kulakukan seorang diri. Padahal sekarang Abi mempunyai dua istri." "Jadi, apakah sekarang kamu menyesalinya?" "Bukan menyesal, tapi aku tidak suka. Seharusnya Abi bisa mengajarkan Naura untuk menjadi istri yang baik." Sahut Ika. "Jadi kamu mengatakan aku bukan istri yang baik?" Timpal Naura. "Benar sekali." "Kalau kau merasa telah berhasil menjadi istri yang baik, mengapa justru Arsyad memilihku untuk menjadi istri keduanya? Itu artinya kau bukan yang terbaik. kalau aku cuma minta tolong sama Mbak ambilkan aku ini itu. Apalagi yang ringan-ringan. Itu masih wajar. Toh kamu kan tidak bekerja." Arsyad terdiam, jari jemarinya menggenggam erat tangan "Naura benar." "Maaf, Bi. Kalau kalian membutuhkan seseorang untuk bisa kalian suruh-suruh, sebaiknya Abi mencarikan seorang pembantu untuk Naura, supaya tidak merepotkan aku. Aku di sini bukan sebagai suruhan." Ika meninggalkan mereka. Arsyad bangkit ingin mengejar. Namun Naura mencegah. "Biarkan saja dia, Pa. Tidak usah terlalu dimanjakan." Tangan lembut itu menarik tangan Arsyad. Arsyad tak kuasa menolak, ia berbalik arah. "Maafkan sifat Ika tadi, sayang." Ucap Arsyad kemudian. "Dia memang perempuan bodoh." *** Di kamarnya, Ika merasa rumah tangganya dan Arsyad tidak pantas untuk dipertahankan lagi. Tidak ada yang bisa diharapkan dari lelaki tersebut. Ika mulai berpikir panjang. Apa yang harus dilakukan setelah ini. Dilihatnya rumah yang telah berhasil dibangun dengan susah payah. Dulu kehidupannya dan Arsyad begitu damai meski belum dikaruniai putra. Namun kini, suasana telah berbeda. Ika bisa menangkap kenyataan bahwa Arsyad mulai benar-benar mencintai Naura. Tok... Tok... Tok... Terdengar suara pintu diketuk. "Ami, bolehkah Abi masuk." "Tidak usah mengganggu ku" Krieet... Pintu itu terbuka. "Sial, mengapa tadi aku tidak mengunci pintunya." Batin Ika. "Mi, maafkan Abi kalau ucapan Abi tadi menyakitimu. Abi benar-benar minta maaf ya." Ucapan lembut dari Arsyad sama sekali tidak bisa menyentuh hati Ika. mengapa di belakang perempuan itu harus bersikap lemah lembut. sedangkan di depan Naura Arsyad seolah tidak mampu sedikitpun untuk membela Ika. Ika kecewa. "Bi, tidak usah meminta maaf. Aku mengerti perasaan Abi padanya. Tidak salah jika Abi mencintai Naura. Tapi setidaknya, seperti yang pernah kamu katakan dulu, bersikap adil. Namun, kulihat Abi tidak bisa membuktikannya. Oleh karena itu aku menyerah, Bi." Arsyad kaget dengan kata-kata terakhir ucapan nikah. "Maksud Ami apa?" "Aku rasa aku menyerah. Aku ingin kita berpisah." "Apaaa? Berpisah? Tolong jangan ucapkan kata-kata itu lagi, Mi. Abi mohon. Jangan ucapkan kata-kata itu lagi. Abi tidak siap kehilanganmu. coba ambil pikir sudah 5 tahun kita membina rumah tangga itu bukan waktu yang sebentar. Pemuda ini kami ingin berpisah. Tolong pikirkan Abi, Ami. Abi tidak bisa hidup tanpa Ami." Ika tersenyum masam. "Kukira Naura akan menggantikan posisiku. Aku akan mencari kehidupanku sendiri." Mendengarnya Arsyad langsung berlutut di depan Ika. "Tolong, jangan meminta Abi untuk menceraikan Ami. Aku sayang sama kamu, Mi. Kau tahu dulu aku terpaksa menikahi Naura. Aku menikahinya hanya sebagai tanda baktiku sama ibu." "Tidak usah berlutut seperti itu, aku bukan Tuhan, Bi. Naura bisa memberikan lebih dari yang pernah bisa kau dapatkan dariku." "Tapi Naura berbeda dari mu. Dia cuma cantik saja, tapi tidak mengerti tugas seorang istri. Kamu lebih bisa menjadi istri yang baik untukku, Mi. Lagian Aku menikahinya karena terpaksa." "Tidak usah egois, Bi. Tidak boleh mengatakan bahwa kau terpaksa menikahinya. Tentu saja kau tidak terpaksa. Dulu aku mengira pernikahanmu dan Naura akan menjadikan aku lebih bersabar dan bisa hidup berdampingan dan berbagi. Dan rumah tangga kita yang banyak tidak disukai para wanita ini, bisa menjadi ladang pahala bagiku. Tapi nyatanya rumah tangga yang bercabang tiga ini akan membuatku semakin berdosa." Tiba-tiba saja Arsyad memeluk tubuh ikan erat hingga Ika tidak bisa melepaskan diri. "Maafkan Abi, Mi. Maaf. Sekarang abi tidak bisa hidup tanpa kalian. Kau dan Naura menempati posisi yang sama di hati Abi. Akan berusaha untuk kalian." Ika merasa kecut, kemarin saja lelaki itu memberikan nafkah yang tidak adil antara dia dan Naura. Sekarang malah mengatakan kalau dirinya dan Naura berada dalam posisi yang sama. Sebuah kebohongan. "Kalau kalau kamu masih mengharapkan aku ada disini. Tolong bawa Naura keluar dari rumah. Jujur aku tidak suka hidup satu atap dengan wanita pemalas seperti dia." Arsyad memandang lepas keluar jendela. "Mi, Abi mohon mengertilah dengan keadaannya. Sekarang Abi sama naura sedang melakukan program kehamilan. Dia tidak boleh kecapean. Tidak boleh berada dalam emosi. Jadikanlah dia sebagai adik. Bukankah wajar seorang kakak membimbing dan melayani adiknya." Ika menarik nafas dan menghelanya perlahan. "Tidak, seorang kakak bukan pelayan untuk adiknya. Namun seorang kakak adalah sosok yang harus dihormati oleh adiknya." Arsyad tidak bisa menanggapi ucapan Ika begitu saja. "Tidak bisakah Ami menerimanya di rumah ini lebih lama?" "Tidak. Aku tidak menyukainya. Dia terlalu berlagak seperti seorang nyonya. padahal kamu tahu aku bukan pelayan yang harus melayaninya setiap saat. aku tidak tahu, pokoknya dalam waktu seminggu ini Abi harus membawanya keluar dari rumah ini...!" "Mi, mengapa sikap Ami berubah? Selama ini Abi melihat Ami adalah seorang istri yang lembut dan penyayang." Ika memalingkan muka. "Aku juga manusia, Bi. Yang bisa berubah kapan saja. Yang bisa marah ketika di sakiti, yang bisa kesal jika di perlakukan dengan tidak selayaknya." Arsyad mendesah lirih. "Apa Ami begitu membenci Naura? Padahal Abi mengharap putra dari rahimnya. Tolong Mengertilah, Mi." "Aku tidak bilang membencinya. Hanya saja, aku tidak menyukai sikapnya. Dan aku cukup mengerti jika Abi mengharapkan buah hati dari Naura. Tapi bukan berarti aku rela di perlakukan rendah olehnya. Ingat, Bi. Aku bukan pembantu." "Abi tidak menganggap Ami pembantu. Mi, kuatlah menghadapi rumah tangga kita. Lihat, para ustadz terkenal saja istrinya banyak, bisa rukun. Kok Ami cuma punya adik madu satu saja udah suka marah-marah." Ika menghembuskan nafas kasar. Merasa lelah dengan ucapan suaminya. "Apa Abi sudah merasa selevel dengan para ustadz-ustadz itu?" Arsyad tidak bisa menjawab pertanyaan balik dari Ika. Arsyad mengakui, kalau soal argumen, Ika memang ahlinya. "Keluarlah, Bi. Aku ingin istirahat. Aku tidak mau diganggu."Ika berucap ketus dan dingin. "Segitukah teganya Ami mengusirku? Apakah Ami ingin Abi tidur menemani Ami malam ini?" Cih, Ika berdecih halus. "Aku ingin istirahat. Keluarlah." Dengan terpaksa, Arsyad melangkahkan kaki keluar dari ruangan yang telah banyak menyimpan kisah tersebut. Namun sekarang terasa kamar itu tidak sehangat dahulu. Yang ada hanya sikap dingin dari sang istri tuanya. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN