Aku melangkahkan kakiku meninggalkan mak lampir and the genk yang masih menatapku nyinyir. Aku tak punya waktu untuk meladeni sikap mereka yang hanya karena laki-laki bisa berbuat serendah itu. "Jangan cemberut mulu, jelek tahu," kata seseorang yang baru saja muncul dari samping rumah warga. Aku segera menolah ke asal suara tersebut, dan betapa kagetnya aku saat aku menemukan sosok yang sudah lama tidak aku temui. Seseorang yang selalu dapat membuatku tersenyum saat aku sedang galau dan sedih. "Kak Arfan...," teriakku sambil memeluk tubuh tinggi yang kini telah berada dihadapanku. Aku sangat merindukan dia yang telah lama tak aku temui walau masih bisa vidio call. Tapi tetap saja, rasa antara bertemu dengan vidio call berbeda. "Kapan kembali dari Kalimantan, Kak?" tanyaku setelah mel

