berhenti menentangku

1140 Kata
gina yang awalnya memasuki rumah dengan menghentak-hentakkan kaki terdiam mematung melihat pemandangan tak jauh didepannya. disana nadin, kakak kandung gina sedang mengelus kepala abang kandung rafa. semua orang tau bahwa keduanya pernah terjebak dalam pusaran rasa bernama cinta. keluarga besar sepakat untuk menjodohkan mereka dan menikahkannya dihari yang sama. bahkan pasangan keduanya sempat dibuat stres saat mengetahui fakta tersebut. "bang dika kenapa kak?" tanya gina yang berjalan lurus menuju kedua saudaranya itu "abang ga apa-apa, kamu kapan pulang?" jawab dika cepat, tampak sekali ia menyembunyikan sesuatu. dan sialnya jika dika sudah bicara seperti itu maka nadin tidak akan mau membocorkan rahasia dika pada adiknya itu. "kalian ga lagi selingkuh kan?" "mulutmu gina.... kalo ngomong itu dipikir dulu kan bisa, sama aja kayak rafa" cerocos dika kesal. "rafa sering bawa ceweknya ke kantor ya?" tanya gina karena mendengar nama sepupu kesayangannya. sepupu yang dari dulu dicapnya sebagai abang miliknya bahkan di hape gina, kontak rafa adalah 'abang gina' "kalian udah ketemu? kamu emang paling tanggap kalo masalah rafa ya gin" kekeh nadin, ia bahkan tak tau bahwa adik kesayangannya itu sudah sampai dari tadi. "serah lah ya.. aku mau tidur dulu dan jangan bangunin karna aku ga bakal makan malam kali ini" "kamu mau dijewer mama? mana boleh anak kesayangan pulang tapi ga ngumpul di meja makan?" tanya dika mengejek. peraturan mama susi emang lebih ketat dari mamanya. bukannya meladeni kata-kata dika, gina hanya menunjukkan tatapan 'mau sampai kapan abang disini?' andalannya. tapi sebelum benar-benar masuk kekamarnya di sebelah utara, gina mengucapkan kalimat tanya yang ditujukan pada nadin tapi ada seringai mengejek pada dika didalamnya. "bang fino mana kak?" jelas sekali gina hanya ingin memanas-manasi dika. "abangmu lagi ketemuan sama sahabatnya yang dibogor" "kak naya itu? kaka harus hati-hati.. nanti suaminya selingkuh loh" "masuk kamarmu gina!!!!" gina ngakak badai mendengar bentakan kasar bang dika-nya yang masih sangat mencintai kakaknya. kadang takdir orang lain memang bisa dijadikan lelucon, sama seperti yang dilakukan gina. ~~~ gadis dengan nama lengkap gina puspita sabila itu keluar dari kamar dengan aroma mawar yang lembut, ia baru saja selesai mandi. tidurnya benar-benar puas, gadis itu terlelap dari jam lima sore sampai jam setengah enam pagi. dari kamarnya gina terus berjalan ke kanan, tepatnya ke dapur. rumah mereka memang dibangun dengan luas yang memukau. para nenek tidak ingin membangun rumah dua atau tiga lantai karena takut terjadi kecelakaan, baik itu para orang tua yang jatuh di tangga atau cucu mereka yang jatuh karena berlari kesana-kemari. "aku bantu apa ma?" tanya gina dengan suara super manis agar ia tidak kena marah "udah bangun kamu? hebat banget ya ajaran orang sana? setahun ga pulang dan pas pulang kamu ga nyari mama dulu tapi nyari kasur. pasti kamu juga ga datengin papa?" "hm.. aku capek ma, lagian rencananya siap bantuin mama masak aku mau bersihin makam papa" "sini peluk mama dulu abis itu kamu bersihin toge yang di meja sana" ucap susi pada anak bungsunya yang makin hari makin kehilangan berat tubuhnya itu. sebelum gina kembali pada toge-togenya gadis itu sempat diceramahi untuk makan banyak agar tubuhnya tidak seperti tubuh anak SMA. gina ditinggal sendirian di dapur karena mamanya pergi keluar sebentar, beli bawang katanya. gina sudah menawarkan diri untuk membeli bawang-bawang tersebut tapi ditolak karena mamanya bilang : 'kalo kamu yang belanja, kita cuma buang-buang duit sama waktu. kamu juga ga bisa nawar kan?' gina terkesiap karena ada lengan yang memeluk lehernya dari belakang dan saat ia menoleh ke kiri, matanya melotot karena bibirnya beradu dengan bibir milik abang kesayangannya. "ABANGGGGG!!!" "suaramu gin!" ucap rafa kesal sambil menarik bibir gina sampai monyong, pria itu tidak menunjukkan sikap kaget ataupun canggung sementara gadis didepannya sudah ingin mengunyah semua toge mentah yang ada dihadapannya. "abang nyium aku? itu ciuman pertama aku" ucap gina dengan suara serah, air mata sudah mengumumpul di pelupuk mata karena abangnya hanya menampakkan wajah geli "itu namanya kecelakaan, biasa aja dong.. orang kita adek kakak juga. makanya pacaran , jangan cuma nungguin si alvan-alvan b**o itu cinta sama kamu" celetuk rafa yang ikut membersihkan toge "alvan ga b**o ya, dia itu yang terhebat. selamanya cuma dia yang aku mau" "yayayayyaya" keduanya kembali bersikap seperti biasa. sama seperti sikap yang selalu ditunjukkan saat keduanya baru bertemu. hobi gina yang suka sekolah di luar kota membuat kedua saudara sepupu itu jarang bersama dan sekalinya bersama maka mereka akan heboh. tak jarang semua keluarga besar kesal karena keributan yang mereka buat tapi keduanya tetap cuek karena hal yang mereka lakukan lebih seru dari pada mematuhi ucapan para orang tua. 'walaupun kami udah dewasa, tapi kami tetaplah anak-anak kalian' itu kalimat andalan rafa jika para bibi sudah mulai komat kamit mendengar keseruan mereka ~~~ gina pikir semua udah kembali normal karena sejak kepulangannya rafa lebih sering dengannya selain bekerja. makanya gadis itu izin ingin kembali ke bogor, tapi ia mendapati bahwa rafa sudah menyiapkan semuanya untuk persta pernikahannya dengan liana. dan disinilah ia berada, di rumah rafa dengan beberapa pekerja yang sibuk menyiapkan segala sesuatunya. "pulang kamu" suruh gina pada liana yang setahun lebih tua darinya. tentu saja rafa mengamuk karena pacar kesayangannya diperlakukan seperti itu tepat didepan matanya. "kamu ajadeh yang pulang" ucap rafa pada gina dan hanya direspon dengan kekehan. liana yang mungkin memang mengerti dengan posisinya memutuskan untuk pulang saja dan tinggallah rafa dengan gina yang saling melempar permusuhan. "abang tau ga gara-gara siapa aku ga bisa kemana-mana?" "itu bukan urusan abang , kenapa kamu kasar banget sama kakak iparmu?" "dia bukan kakak iparku dan aku mau semua ini dihentikan sekarang juga. pak!! bawa semua pernak pernik bapak ini pulang karena ga akan ada pernikahan dirumah ini" "GINA!!!" "apa?? "jangan ikut-ikutan sama mereka ya, abang pikir kamu akan setuju sama abang karena selama ini kita selalu kompak" "aku ga ikut-ikutan, aku ga suka sama cewek sok kalem itu!" "terserah , semuanya dengar ya.. apapun yang terjadi aku cuma akan nikah sama liana dan itu tujuh hari dari sekarang" ucap rafa pada semua orang termasuk gina sedangkan dika sudah angkat tangan dengan keras kepala adiknya. rafa memang sangat keras kepala beda dengan dika, dika bahkan menurut saja saat semua anggota keluarga menentang niatnya untuk menikahi nadin tapi rafa malah bersedia menentang semua orang. "abang aku mohon pikir-pikir lagi" ucap gina putus asa, dan rafa tak menanggapi. pria itu hanya diam di tempat. "oke.." ucap gina tak ingin melihat tepat pada wajah abangnya "kalau begitu terserah anda, anda bebas dari saya. saya bukan adik anda lagi dan jangan datangi saya seperti dulu karena mulai sekarang abang saya cuma bang dika" ucap gina kesal. diujung ruangan, dika yang sedang duduk diam bersama istrinya kaget karena namanya dibawa-bawa. "gin?" "ya bang?" "abang rasa kamu pulang aja, nanti abang bilang sama semua orang supaya bolehin kamu kembali kebogor ya.." ucap dika sambil memanggil adik wanita yang dicintainya itu mendekat. "iya bang, maksih ya bang. kak tika aku pulang ya" ucap gina pada istri dika
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN