Keringat dingin memenuhi telapak tangan. Sementara aku berjalan menuju pintu rumah yang ditunjuk pemiliknya tadi dengan gemetar. Pertanyaan demi pertanyaan semakin banyak dan menumpuk memenuhi isi kepala. Sedang apa Mas Haris di sana? Ya Tuhan, katanya mereka sudah menikah? Apa ini benar? Apa dia Mas Harisku? Suamiku dan ayah dari anak –anakku? Jangan –jangan bukan?
Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu bukan? Semunya sudah jelas. Betapa banyak Mas Haris selama ini berubah dan berbohong tentang penerima token listrik itu, sudah cukup menjelaskan bahwa lelaki di dalam sana memang Mas Haris.
“Assalamu alaikum!” Aku berteriak mengucap salam diiringi gedoran yang kulakukan lantaran tak sabar, ingin pintu pagar ini lekas dibuka oleh pemiliknya.
Dua kali, tiga kali tak juga ada jawaban. Bahkan untuk ke sekian puluh kali aku menggedor dan memanggil nama suamiku, pria itu tak juga kunjung dibuka.
“Abi! Abi! Buka Bi!” Wajahku sudah penuh jejak air mata. Sesuatu yang tak bisa kutahan –tahan lagi. Mereka menerobos begitu saja dengan mudahnya.
“Mas Haris! Ini Hilya! Istri Mas Haris! Keluarlah Mas!” Kusebut namanya, karena barang kali suamiku tak mengerti bahwa Abi yang dimaksud adalah dia.
Tak juga kunjung ada jawaban apa lagi dibuka? Jika dia benar ada di dalam, bukankah kelewat kejam kalau tidak membukakan pintu untuk istrinya yang sudah datang jauh –jauh begini? Aku bahkan mengesampingkan kondisiku.
Kurogoh ponsel sambil menangis, berusaha menghubungi nomor Mas Haris. Namun, sebanyak aku berusaha, nomor itu tidak juga aktif. Apa dia sengaja?
Kuedarkan pandangan sambil menyeka air mata yang membuat penglihatanku berkabut. Tak ada sesiapa yang datang. Apa mereka semua tidak punya telinga sampai tidak merasa terganggu oleh kehadiranku? Setidaknya harus ada satu orang yang datang dan menjelaskan padaku. Bahkan orang yang tadi katanya pemilik rumah –rumah kost di sini mengatakan kenal dengan Mas Haris kemudian bersikap sangat ramah padaku, tapi kenyataannya, sekarang dia malah menghilang entah ke mana?
Apa aku tersesat di alam ghaib atau semacamnya? Mereka benar –benar tidak punya hati.
“Tunggu? Mungkinkah Mas Haris sudah memberi tahu agar orang sekitar berjaga, jika istrinya ini akan datang tidak boleh ada yang ikut campur? Dan mereka semua tak enak karena kebaikannya?” Aku bermonolog mencari jawaban sendiri.
Merasa frustasi tak ada jawaban, aku pun menatap dinding pagar dari atas hingga bawah. Mengukur ketinggiannya dan mencari cara bagai mana aku bisa melewatinya untuk sampai di dalam dan melihat semuanya. Lalu menatap ke arah perutku yang sudah mulai membuncit. Aku pasti gila jika nekad ingin melakukannya.
Kuhela napas panjang –panjang. Aku harus kuat!
“Kamu juga harus kuat, Nak! Maafkan Umi.” Kuusap perut yang sesekali ada gerakan kecil dari janin di dalam sana. “Kita harus tahu apa yang terjadi di dalam sana.”
“Bissmillah. Ya Allah, mohon bantu hamba.”
Aku mulai memanjat tembok setinggi dua meter dengan mencari sesuatu di sekitar untuk di pijak. Mataku tertuju pada bak sampah besar di depan rumah ini.
Berharap tidak akan jatuh saat memanjat nanti dan terjadi sesuatu pada kandunganku. Dengan tekad kuat, rasa takut akan resiko itu menghilang. Untungnya bak sampah itu kokoh sampai aku bisa memanjatnya.
Aku berhasil melewati pagar dan menerobos masuk ke dalam rumah, karena bahkan rumah itu tidak dikunci. Dan betapa terkejutnya aku, melihat suamiku bersama seorang wanita muda yang kulihat tempo hari. Wajah cantik gadis belia yang tak bisa kulupakan, anaknya Pak Karim.
“Astagfirullah.” Kupegangi d**a yang terasa begitu sesak. Tak ada kata yang bisa kuucap selain istigfar dan dilanjutkan teriakan bercampur tangis meluapkan keterkejutanku. Aku marah, sangat marah! Sedih, kecewa dan ingin menghancurkan seseorang yang menyebabkan semua ini.
Kontan Mas Haris mendekat dan berusaha memelukku. Aku berontak dan menepisnya agar menjauh.
Bersambung ....