Zia tidak pernah menyangka kalau hidupnya akan semakin suram. Gadis itu sudah berusaha untuk pergi menjauh dari perusahaan Haditama, tapi kenapa tiba-tiba ia bisa bertemu dengan pria j*****m itu lagi. Sungguh, Zia tidak mengerti kenapa laki-laki yang sudah menodainya itu bisa menjadi seorang CEO juga pemilik perusahaan Wiratama.
Bukannya laki-laki itu adalah kakak dari Reynald yang memiliki nama belakang Haditama? Kenapa jadi begini? Zia belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya terjerat lelaki laknat itu selama dua tahun. Bagaimana ia bisa bertahan selama itu? Satu detik saja terasa bak di neraka. Melihat wajah b******n itu sungguh membuatnya muak.
“Bangun! Akan kuantar kamu ke ruangan manajer Rafli! Bekerjalah dengan baik bersamanya dan jangan macam-macam di perusahaanku!”
Suara laki-laki itu terdengar lantang di telinga Zia. Perempuan itu lalu mendongakkan kepalanya, menatap sengit pada lelaki durjana yang telah mencabik-cabik harga dirinya.
“Kenapa kamu bisa ada di sini? Aku sudah berusaha untuk menjauh dari kalian. Aku bahkan berhenti mendadak dari perusahaan Haditama semata-mata untuk menghindari kamu juga menghindari Rey. Tapi kenapa aku bisa bertemu kamu di sini lagi? Aku sungguh tidak ingin terlibat dengan kalian lagi,” jerit Zia emosi.
Tubuh gadis itu seketika lemas hingga tak mampu berdiri pasca didorong oleh Rein tadi. Bukan hanya itu, rasa syoknya akan takdir buruk yang selalu menghampirinya sungguh membuat Zia tak mampu berpikir jernih.
Laki-laki itu menyeringai jahat lalu kembali mengintimidasi Zia. “Sayangnya, aku tidak bisa begitu saja melepasmu. Selagi adikku belum menikah dengan perempuan lain, aku belum bisa tenang.”
“Aku sudah memutuskan adikmu. Dia tidak mungkin berkonflik dengan mama kalian lagi karena aku sudah mengatakan hal yang menyakitkan sehingga dia tidak akan mungkin mau menjadi kekasihku lagi,” pekik Zia berapi-api.
Sorot kebencian memancar dari mata gadis berambut lurus itu dan itu menyulut kemarahan Rein semakin menjadi-jadi. Tangan kekarnya tak ragu mencengkeram dagu Zia lalu pria itu mendesis tajam.
“Apa yang kamu katakan apa adikku, hah? Kamu bicara soal kita?” tanya Rein geram.
Tatapan Zia semakin sengit. Dari bibirnya pun langsung meluncur kata-kata sadis. “Andai aku bisa, andai kamu tidak memegang video itu, aku pasti akan mengatakan yang sejujurnya pada Rey bahwa kakak kesayangannya tak lebih dari seekor binatang. Aku bahkan akan bertepuk tangan melihat kalian bertengkar sampai kalian mati.”
“Berengsek!” umpat Rein semakin mencengkeram rahang Zia hingga wanita cantik itu meringis kesakitan.
Zia menahan rasa sakitnya. Entah kenapa ia tak ingin menunjukkan air matanya di depan lelaki jahat itu lagi. Sambil tersenyum miring, Zia menjelaskan apa yang ia inginkan.
“Tenang saja! Jangan panik begitu! Aku juga tidak bisa melakukan itu walau aku sangat ingin karena kamu sudah memegang kartuku. Sekarang tolong lepaskan aku! Niatku, tidak ingin berada di sekitar keluarga kalian lagi.”
Rein belum bisa mengendalikan amarahnya yang sudah terpantik. Lahir dan besar dalam kemandirian serta mendapat didikan keras dari sang papa, menjadikannya sosok yang kasar dan gampang naik darah. Pria itu belum puas dengan jawaban Zia sehingga ia kembali mendorong tubuh wanita itu hingga dua kali terjerembab di lantai.
“Jelaskan apa yang kamu katakan pada adikku!” hardik Rein meninggikan nada suaranya.
Sambil menahan tangisnya, Zia berusaha untuk kembali duduk lalu menjerit sekuat tenaga menjelaskan alasan yang ia buat untuk memutuskan Reynald.
“Aku mengatakan kalau aku sudah tidur dengan laki-laki lain, bahkan aku menunjukkan tanda-tanda yang kamu buat tubuhku ....” Zia lalu memejamkan matanya, menahan sesak yang mengimpit d**a.
Sungguh sakit kala mengingat kejadian kemarin, tapi ia tetap harus menjelaskannya pada laki-laki b******k itu supaya tidak terjadi kesalahpahaman lagi.
“Aku tidak menyebutkan siapa lelakinya. Aku hanya mengatakan kalau aku sudah tidur dengan seorang pria dan tidak akan mungkin adik kamu mau denganku lagi. Aku sudah menjatuhkan harga diriku di depan orang yang sangat aku cintai. Jadi aku mohon jangan buat aku menderita lebih dari ini!”
Rein menatap Zia dengan tatapan tajam. Lalu, pria itu menegaskan akan terus mengikat Zia sampai batas waktu kontrak berakhir.
“Aku tidak bisa membiarkanmu lepas begitu saja. Cinta adikku padamu itu sangat besar dan aku harus memastikan dia tidak mencarimu lagi, baru aku bisa melepaskanmu. Lagi pula, apa salahnya bekerja di sini. Aku juga menggajimu, bukan mengeksploitasi tenagamu. Kamu juga bukan bekerja bersamaku karena kamu melamar sebagai seorang asisten manajer di sini. Jadi, selesaikan kontrakmu di sini dan pastikan saja adikku tidak mengejarmu lagi!”
Hanya itulah cara agar sang mama berhenti uring-uringan. Setengah dari hidupnya adalah membahagiakan sang mama walau hatinya perih karena sang mama lebih sayang pada adiknya dibanding dirinya. Namun, itu tidak menggerus rasa cintanya pada wanita yang melahirkannya itu, malah Rein yang selalu berdiri di garda terdepan menyingkirkan siapa saja yang membuat sang mama gundah.
Lelaki itu tak bisa bernapas tenang kalau adik tirinya belum menikahi wanita lain karena potensi sang mama akan marah dan bersedih karena kegilaan Reynald pada Zia, masih akan terus ada sebelum adiknya itu menikah. Demi Tuhan, Rein tak mau melihat sang mama uring-uringan lagi!
“Aku tidak ingin berurusan dengan kalian lagi. Aku tak mau bekerja di sini,” pekik Zia tak bisa membendung emosinya.
Sampai kapan pun, ia tak ingin melihat wajah Rein lagi. Kenangan saat ia dinodai kemarin masih terputar jelas. Tanpa melihat b******n itu saja, Zia masih terus terbayang-bayang. Sekarang, ia harus bertemu tiap hari dengan penjahat yang merusak masa depannya, bagaimana mungkin ia sanggup? Sekuat tenaga, Zia akan membujuk Rein agar melepaskannya.
“Salah sendiri kenapa kamu masuk ke perusahaanku,” cetus Rein tak peduli dengan permintaan Zia.
Mata Zaya mendelik curiga. Sungguh hatinya geram dan ia tak habis pikir dengan semua kebetulan ini. “Kenapa kamu bisa berada di sini? Kenapa kamu bisa menjadi pemilik perusahaan ini?”
Rein menyeringai lebar. Pria itu tak menyangka kalau wanita yang membuat mamanya bersedih itu begitu bodoh sampai-sampai tidak mengetahui silsilah keluarganya.
“Karena aku dan Rey tidak memiliki papa yang sama. Dia adalah adik tiriku. Mama begitu menyayanginya dan menginginkan yang terbaik untuknya. Beliau menghadiahkan dia perusahaan dari suami keduanya, yaitu perusahaan Haditama, sedangkan perusahaan ini adalah perusahaan papaku dan aku adalah pemiliknya sekarang. Salah sendiri kenapa kamu tidak menyelidiki asal usul perusahaan ini. Bukan aku yang mengundang kamu, tapi kamu sendiri yang datang.”
“Aku ingin pergi jauh dari kalian. Aku mohon!” Zia menurunkan nada suaranya, berharap lelaki laknat ini iba dan mau mengabulkan permintaannya.
Laki-laki bertubuh tinggi juga tegap itu menatap kesal pada Zia, merasa lelah mengeluarkan emosinya pagi-pagi buta. Ia mendekati Zia, sedikit berjongkok menatap wajah cantik yang sedang menatapnya dengan sorot menghiba, tidak lagi meledak-ledak seperti tadi lalu kembali mengultimatumnya dengan tegas.
“Jangan membuatku marah, ya! Sekarang bangun dan ikut aku ke ruangan manajer Rafli. Bekerjalah mulai hari ini dengan baik. Aku pastikan tidak akan mendekat padamu dan membiarkan kamu bekerja seperti staf lainnya. Habiskan masa kontrakmu selama dua tahun di sini dan pergilah dengan tenang setelahnya!”