"Kau..!!!" ucap Sarah terkejut melihat siapa sosok dibalik kursi tersebut.
"Sarah Fernandez," pria itu menyapa dengan seringaiannya. "Silakan duduk, Ms. Fernandez." lanjutnya mempersilakan.
Wajah Sarah berubah menjadi masam. Ia masih tetap diam di tempatnya berdiri melihat pria itu dengan tatapan tajam. Sarah melihat papan nama yang terpampang di atas meja.
Joshua O'bryan - Chief Financial Officer
'CFO? Dia bos di sini? Lalu kenapa aku harus menghadap seorang CFO?' batin Sarah dalam hatinya.
"Mau sampai kapan kau berdiri di situ Ms. Fernandez?" suara Josh membuyarkan lamunannya, pria itu kembali duduk di kursinya.
Sarah melangkah ke kursi, "Kau seorang bos di kantor ini?"
"Seperti yang kau lihat."
Sebenarnya Sarah ingin sekali meninju pria kurang ajar di hadapannya ini yang sudah berani menciumnya tanpa izin lalu meninggalkannya begitu saja malam itu. Terlebih lagi pria itu adalah seorang gay, kekasih dari Clark, pria yang sudah beberapa tahun ini tak pernah mau keluar dari hatinya. Tapi Sarah sadar akan situasi saat ini, ia harus bersikap profesional dalam urusan pekerjaan.
"Mau apa kau memanggilku?" tanya Sarah ketus.
"Kau kuterima bekerja di perusahaan ini, kau akan membantu Maria di depan sebagai seorang sekretaris." jelas Josh.
"What? Sekretaris? Maaf, tapi aku tidak melamar pekerjaan untuk posisi itu." tegasnya.
"Aku sudah memutuskan dan kau tidak bisa menolaknya, Nona."
"Maaf, Tuan. Aku tidak berminat sama sekali. Lebih baik aku mencari pekerjaan lain daripada harus bekerja dengan pria kurang ajar sepertimu." kata Sarah penuh penekanan.
Josh hanya tersenyum santai menanggapi perkataan Sarah.
"Okay, silakan. Tapi, kupastikan kau tak akan diterima di perusahaan manapun." ujarnya menyeringai sambil mendekatkan wajahnya ke Sarah.
"Why you do this to me?" tanya Sarah menatap tajam.
Pria itu tak menjawab, hanya terus tersenyum miring menatap Sarah. Sarah hanya bisa mengerucutkan bibirnya, merengut masam menatap ke arah jendela.
"Ok. Kau sudah bisa mulai bekerja besok, Sarah. Maria akan membantumu." tegas Josh sambil memeriksa berkas tanpa melihat Sarah.
"Permisi!" Sarah berdiri lalu meninggalkan ruangan itu dengan wajah jutek.
"Jika kau tak datang besok maka kau akan menyesal, Nona." ucap Josh setengah berteriak, gadis itu tetap saja berlalu dan menutup pintu ruangan.
'Sarah, Sarah. Kenapa kau membuatku penasaran?'
Josh menatap kepergian Sarah yang menghilang di balik pintu. Ia tak mengerti kenapa gadis itu seolah memiliki magnet yang sangat kuat sehingga membuatnya ingin terus mencari tahu segala hal tentang gadis itu. Ia sadar ketika Clark melihat lusa nanti dan mengetahui gadis itu bekerja pada mereka, pasti akan menimbulkan sedikit masalah. Tapi ia sudah menyiapkan alasan yang masuk akal sehingga tidak akan membuat Clark curiga padanya.
"Dasar pria arogan!" kata Sarah sambil menghentakkan kakinya ketika tiba di lobi gedung.
"Mentang-mentang memiliki kekuasaan, bertindak seenaknya saja. Oh Tuhan, apa salah dan dosaku."
Gadis itu lalu menaiki bus dan kembali pulang ke apartmentnya.
"Bagaimana interviewnya? Sukses?" tanya Evelyn penasaran.
"Nightmare!" jawabnya seraya memutar kedua bola matanya.
"Maksudmu?" Evelyn mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Kau ingat pria yang malam itu menarikku keluar dari klub? Ternyata dia bos di kantor itu," Sarah mengambil air mineral dari kulkas lalu kembali menghampiri Evelyn. "Dan yang paling menyebalkan dari semua itu, dia memaksaku bekerja sebagai sekretarisnya padahal aku tidak melamar untuk posisi itu."
"Wow, sekretaris? Bukankah itu bagus. Sekretaris bos, pasti gajinya sangat besar." wajah Evelyn terlihat berbinar-binar.
"Lebih baik aku bekerja sebagai staf biasa daripada harus menjadi bawahannya," Sarah menghabiskan minumannya dengan sekali teguk dikarenakan emosinya yang sedang meledak-ledak. "Tapi sayangnya pria itu memaksaku, jika tidak aku tak akan bisa bekerja di perusahaan manapun." lanjut Sarah sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Positif thinking, Baby. Mungkin pria itu menyukaimu. Tapi, bukankah dia itu gay?"
Sarah hanya mengangkat kedua bahu menandakan ketidaktahuannya dan kemudian berselancar pada pikirannya sendiri. Malam harinya mereka berdua kemudian bersiap-siap untuk berangkat kerja menuju klub.
Seperti biasa, Sarah melakukan tugasnya sebagai waitress di klub malam tersebut. Ia berniat untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya saat ini, lagipula ia sudah mendapatkan pekerjaan baru meskipun bukan pekerjaan yang diharapkannya. Sebenarnya ia ingin mengatakan pada Manager klub sekarang juga tapi Evelyn memberitahu bahwa sang Manager sedang berada di luar kota dan baru akan kembali besok.
Sarah sedang berjalan mengantarkan minuman kepada tamu, namun tangannya ditahan oleh seseorang dari belakang hingga menyebabkan minuman tersebut hampir jatuh.
"Kau lagi?" kata Sarah melotot.
"Kenapa kau masih bekerja di sini?" tanya pria itu tak kalah melotot menatap tajam ke mata Sarah.
"Bukan urusanmu!"
"Aku adalah bosmu, Sarah. Kau harus ingat itu!"
"Kau baru akan menjadi bosku besok, Tuan Arogan. Kau bahkan tidak berhak mengaturku. Maaf, aku harus kembali bekerja." Sarah kembali berjalan mengantarkan pesanan tamu. Joshua terdiam saja menatap gadis itu berlalu.
'Tanpa perlu kau suruhpun, aku memang akan mengundurkan diri dari pekerjaan ini, Bodoh!' umpat Sarah dalam hati.
Sepanjang waktu Josh hanya terduduk di meja bar memperhatikan segala tindak tanduk Sarah, mengawasi gadis itu dari tatapan para p****************g yang mencoba menggodanya. Entah ada apa dengan gadis ini sehingga ia merasa sangat tertarik. Sebelum menyukai Sarah, beberapa bulan lalu Josh sempat dekat dengan gadis lain. Ia bahkan harus benar-benar meyakinkan dirinya bahwa ada perubahan besar yang terjadi padanya. Gadis itu, gadis yang pertama kali ia sukai, namun ternyata hanya memanfaatkan kekayaan Josh saja sehingga Josh meninggalkannya.
Josh memang selingkuh dari Clark.
Ia menyimpan rapat-rapat perselingkuhannya dengan gadis itu tanpa diketahui siapapun, hubungan mereka hanya bertahan tiga bulan saja. Berbeda dengan Sarah, sejak pertama kali melihat Sarah, Josh merasa berdesir dalam badannya hanya dengan melihat tubuh Sarah saja, ia merasa ingin selalu menyentuh gadis itu, apalagi bibirnya, terasa sangat manis. Rasa strawberry. Tak akan pernah dilupakannya.
Tapi di sisi lain, ia masih sangat berhasrat terhadap pria tampan dan sexy. Joshua memiliki nafsu yang tinggi, ia pernah juga dekat dengan pria lain selama menjalani hubungan dengan Clark, tentunya tanpa sepengetahuan kekasihnya itu. Setiap Clark pergi untuk urusan bisnis dalam waktu yang cukup lama, ia akan menghabiskan malamnya bersama pria lain.
"Hi, Tampan. Kuperhatikan sedari tadi kau selalu mengawasi temanku itu." ucapan Evelyn yang menghampiri Josh membuyarkan lamunannya.
"Kau temannya?" tanya Josh tanpa melepaskan pandangannya dari Sarah.
"Yap. Kau menyukainya? Bukankah kau gay?" tembak Evelyn tanpa malu-malu. Josh terkejut melotot ke arah Evelyn.
"Apa kau bilang?! Bagaimana kau bisa berkata seperti itu, Nona?" Josh mendekatkan wajahnya ke wajah Evelyn.
Evelyn mendadak membatu, didekati oleh pria setampan Josh.
"Brad berkata padaku malam itu." jawab Evelyn menahan nafas.
Josh menghembuskan nafasnya kasar, ia semakin mendekati Evelyn dan menghirup dalam-dalam aroma leher Evelyn lalu sedikit mengecup leher Evelyn dan berkata, "Apa kau percaya aku seorang gay?"
Gadis itu memejamkan matanya merasakan sensasi menggelitik yang diterima dari sentuhan seorang Joshua. Bahkan hembusan nafasnya saja mampu membuat Evelyn tak bisa bernafas.
"Ingatkan temanmu agar tak lupa datang ke kantorku besok untuk bekerja." Josh menjauhkan tubuhnya dan berlalu meninggalkan Evelyn yang masih menetralisirkan detak jantungnya.
"Dia sangat sexy. Aku yakin dia bukan gay." Evelyn berucap pada dirinya sendiri.
Sementara Josh pergi keluar dari klub dengan wajah yang memerah menahan amarah, "Brad, kau akan terima akibatnya karna mulutmu yang lancang itu."
Josh yakin pasti Brad, sahabatnya, saat itu sedang mabuk sehingga tak mencerna apa yang sudah keluar dari mulutnya, yang ia tau Brad adalah teman yang sangat bisa dipercaya. Mereka sudah bersahabat sejak lama. Ia akan sedikit memberi pelajaran pada Brad.
Josh berjalan menuju parkiran mengeluarkan ponselnya lalu menelpon seseorang yang merupakan Manager klub di tempat Sarah bekerja. Ia meminta sang Manager agar memecat Sarah dari pekerjaannya. Josh merupakan pelanggan tetap di klub tersebut dan ia merupakan salah satu tamu yang sangat dihormati di sana.
"Mulai besok kau tidak perlu lagi bekerja di tempat seperti itu, Sarah." ujar Josh menatap tajam ke ponselnya, lalu melajukan mobilnya menuju apartment.
"Kau sedang apa, Joshua?" tanya Clark dari balik telpon.
"Aku baru saja tiba di apartment. Kapan kau pulang? I miss you, Babe."
"Miss you, too. Aku pulang lusa. Bagaimana keadaan kantor?"
"Good. Baiklah, aku harus mandi lalu tidur. Kau juga istirahat ya."
"Okay. Have a nice dream."
"You, too, Sweetheart. Bye. Aku mencintaimu." Josh menutup telponnya lalu melangkah ke kamar mandi.
Selepas mandi, ia berbaring di ranjangnya memandangi foto Sarah yang tadi sengaja ia ambil secara candid. Ia masih bingung dengan dirinya kini, mencintai Clark tapi tak ingin berada jauh dari Sarah.
Apakah ia mulai jatuh cinta pada gadis itu, atau hanya sebuah rasa penasaran saja?
"Sarah, aku tak sabar untuk melihatmu, sampai ketemu besok." katanya tersenyum sambil mengelus foto Sarah.