Bitter Truth

1845 Kata

Manda dan Rian berpacu pada waktu dan peluh. Mereka memesan penerbangan paling cepat. Beruntung Batam dan Jakarta tidak begitu jauh letaknya. "Ayok, Man!" Rian merangkul pinggul Manda supaya cepat. Mereka sendiri tidak tau gimana nantinya saat mereka sampai. Rian juga terus menelpon rekan kerja Randi yang diketahui menunggui pria itu. "Om. Makasih banget, Om. Rian segera ke sana." Dia mematikan ponsel karena penerbangan sebentar lagi. Keduanya berdoa di dalam pesawat sembari terus berpegangan tangan erat. Tidak tau jika dia tidak punya Manda. Mungkin Rian bisa gila dalam kondisi seperti ini. Hampir dua jam penerbangan. Rian dan Manda segera ke rumah sakit tujuan. Di sana mereka bertemu pak Khairul, rekan Randi. "Om.., apa papi saya udah siuman?" tanya Rian tanpa jeda setelah dia b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN