Sampai sini Selly jadi merinding. Dia cukup mengerti perasaan nenek Lastri, sisi lain juga memahami posisi Ibas. Pastinya dia tertekan dengan ekspetasi tinggi neneknya yang ingin Ibas bertahan, berbanding terbalik dengan kebencian Ariba yang berusaha menjatuhkannya. Tapi, sebagai keluarga... Ibas mesti menengahi supaya tali silahturahmi tidak tercerai. Percayalah, berada di dua obsesi saling bertentangan itu melelahkan. "Baik Ariba atau Sebastian tidak bisa menyakiti cucukku yang berharga," ungkapnya lagi. Nenek Lastri menyadari sejak tadi Ibas menguping pembicaraan. Kebiasaannya sejak kecil dan gimana mungkin Ibas berfikir, dia luput dari pengawasan sang nenek. Sebab itu juga nenek Lastri mengatakan dengan lantang. Bahwa tidak ada yang bisa menjatuhkan Ibas. Yah.., kecuali orang itu mau

