"Cepat jalan dan pergi dari tempat ini pak," perintah Vania pada sopirnya. *** Rendi keluar dari ruang kerjanya dengan perasaan kesal. Pembicaraannya dengan Karin membuat suasana hatinya memburuk, meski sudah berulang kali dirinya menjelaskan bahwa ketakutan Karin tidak beralasan, istri pertamanya itu seakan tak peduli, keinginan Karin untuk memiliki dan merawat anak pertama Vania seolah tak terbendung. Nafas Rendi naik turun, dengan d**a yang masih berselimut emosi. Untuk sekian detik matanya terpejam, mencoba menenangkan dirinya. Tak lama, kakinya kini kembali melanjutkan langkah, menuruni tangga, berniat hendak keluar dari rumah. "Lho kok tidak ada?" Suara Lina, asisten rumah tangganya tak sengaja terdengar olehnya. Refleks, lelaki dengan manik obsidian gelap itu menghampiri gadis

