“Sayang yakin hari ini mau di kamar saja?” Ini sudah pertanyaan yang kesekian kalinya Aa tanyakan padaku dan aku hanya menjawab dengan deheman. “Kecapean? Mau Aa pijatin?” Dan ini juga kesekian kalinya aku menolak tawarannya, kali ini aku menolak kembali dengan menggelengkan kepalaku tanpa bersuara. “Oh, mau ngajakin yang iya-iya, ya—” “Aa …,” rengekku dan dia mengulum senyumnya seraya membelai lembut kepalaku. Sebelum Aa meminta, aku sudah bilang padanya hari ini aku mau cuti dari serangan fajar. Aa mengikuti keinginanku, dia paham aku kelelahan dan mau menyanggupinya meski dia sempat menertawakanku. “Memang ada cutinya, Sayang?” begitulah lebih kurang pertanyaan yang membuatnya terbahak-bahak tadi. Hari ini, kami seharusnya pergi ke Nami Island, tapi entah mengapa, aku merasa malas

