Dengan apa dia membeli sebuah pertemanan

1151 Kata
 Hari ini rumah tak sepi seperti biasa. Teman-teman Bayu datang menjenguk karena ini hari kedua anak itu tidak masuk sekolah. Sebenarnya, kondisi Bayu sudah lebih baik. Namun, sang ayah tak membiarkannya pergi sampai keadaannya pulih betul. "Tante tinggal sebentar, ya." Melihat kelimanya mengangguk kompak, Anggia tersenyum, kemudian melangkah keluar dari kamar putranya. Begitu keluar, ia mendapati pintu kamar Wil terbuka. Sementara orangnya sendiri duduk menghadap meja belajar. "Sayang, udah makan? Belajar terus, rajin banget anak Mama." Wil tersenyum. "Besok ulangan, Ma. Nanti aja makannya nunggu Papa pulang." "Papa pulang agak malam lho, Nak. Gabung di kamar Bayu gih. Nanti biar Mama bawain camilan buat kalian." Anak itu menggeleng. Walaupun satu kelas dengan Arsen dan yang lainnya, tetapi Wil tidak merasa dekat dengan mereka. Pasti aneh jika tiba-tiba berbaur. "Ya udah, nanti biar camilan buat Kakak dipisah. Jadi, Kakak bisa makan sendiri di sini." "Makasih, Ma." Percayalah, Wil merasa begitu beruntung memiliki ibu seperti Anggia. Sejak kecil perempuan itu selalu memanja, dan paling memahami apa maunya. Tidak pernah membeda-bedakan meskipun status Wil sendiri bukan anak kandung. Terdengar gelak tawa di kamar sebelah. Wil berdiri, kemudian melangkah lebih dekat hingga jaraknya dengan dinding penyekat semakin rapat. "Nih, gue bawain buah-buahan. Mami tadi rempong banget nyuruh bawa banyak makanan buat lo. Padahal, gue anaknya aja enggak pernah digituin lho. Gue kalau sakit dimasakin bubur doang. Udah kelar." Wil tahu betul itu suara siapa. Naren. Bahkan, orang tuanya saja dekat dengan Bayu sampai-sampai bisa sedemikian perhatian. "Bokap gue tadinya mau ikut, katanya pengin periksa lo. Cuma gue bilang lo udah pergi ke dokter. Doi juga ada jaga kebetulan, jadi enggak ke sini." "Yang paling enggak santai di antara kita jelas Hanin. Kepala gue sampai sakit dia ngoceh terus," celetuk Aries. Sabil mengangguk setuju. "Lo bayangin aja, ya, Yung. Hampir per lima menit dia nanya, ‘nanti jadi jenguk enggak?’ udah gue iyain enggak lama nanya lagi." "Maklum, biji cabe satu-satunya di antara kita. Jadi, emang paling bacot." Lagi, mereka tertawa. Sementara Hanin langsung mencak-mencak karena merasa tak terima diolok sahabatnya. Wil bersandar penuh pada dinding dengan tangan terlipat di depan d**a. Sejak dulu ia selalu merasa jijik melihat persahabatan Bayu dengan lima orang itu. Bukan karena tingkah mereka aneh-aneh atau kelimanya sungguh melakukan sesuatu yang menjijikan, tetapi karena Wil merasa persahabatan adik tirinya itu terlalu solid. Apakah Wil iri? Mungkin iya. Sejak kecil ia tidak pernah memiliki banyak teman. Bukan mereka yang tak mau berteman dengannya, justru Wil yang menarik diri. Rasanya terlalu sulit berdiri di tengah-tengah mereka yang memiliki keluarga sempurna, sementara keluarganya hancur bahkan sebelum Wil benar-benar memahami keluarga itu apa. Dengan apa Bayu membeli sebuah pertemanan? Bagaimana bisa anak itu dicintai banyak orang, bahkan oleh orang tua teman-temannya. Wil ingin ada di posisi itu. Bayu juga memiliki keluarga yang tak lagi utuh, tetapi kenapa dia bisa begitu percaya diri berkumpul dengan teman-temannya yang lain? Terlalu banyak tanya yang memenuhi ruang kecil di otaknya. Wil sampai tak bisa membedakan mana bentuk rasa kagum, mana iri. Hati Anggia remuk redam melihat putranya berdiri melamun seorang diri. Kontras dengan kamar Bayu yang hangat dan ramai. Anggia tak pernah lupa bagaimana jatuh bangun ia meminta hati seorang William. Butuh waktu yang tak sebentar sampai akhirnya Wil yang dulu begitu kasar, selalu berbuat semaunya, pendiam, dingin, juga penyendiri luluh dan bersedia memanggil mama. Mungkin ia harus bicara dengan Bayu agar tak terlalu sering mengajak teman-teman sekolahnya ke rumah. Bagaimanapun, Wil yang tidak terbiasa dengan suasana demikian pasti akan terluka. Anggia tidak ingin Wil merasakan itu. *** Sepulang kerja, orang yang pertama ingin ditemui Mario adalah Bayu. Ia tidak tenang seharian di kantor meninggalkan Bayu yang tengah sakit. Sang istri menyambutnya di pintu utama, membawakan tas, dan memintanya mandi sebelum makan malam, tetapi Mario memilih langsung bergegas ke atas. "Bayu." Bayu yang belum benar-benar tidur, refleks membuka mata. "Papa." "Masih sakit, hm?" Anak itu menggeleng, meskipun kontras dengan raut wajahnya yang sarat akan rasa sakit. Mario menyibak selimut putranya, dan mendapati sebuah botol berisi air hangat ditekankan di area perut putranya. Laki-laki itu menghela napas. Ia sempat mendengar banyak hal sebelum Bayu menetap di rumahnya. Saat masih tinggal bersama sang ayah kandung, Bayu sering mengalah dan menahan lapar demi adik-adiknya. Ketika perutnya sakit dan tak ada uang untuk berobat pun Fahmi hanya memberikan penanganan seadanya, seperti sekarang. Bergantung pada botol berisi air hangat untuk menyingkirkan rasa sakit. Demamnya memang sudah hilang, tetapi nyeri di area perut masih begitu kentara. "Ini masih sakit, ya?" tanya Mario lagi seraya menekan ulu hatinya. Padahal pelan, tetapi sanggup membuat tubuh pemuda di hadapannya terbungkuk dengan mulut merintih tertahan. "Besok Papa buatin janji sama Dokter Fadil, ya? Bayu diantar Mama ke rumah sakit. Enggak bisa dibiarin lho ini. Dokter yang waktu itu aja bilang magnya udah kronis." "Enggak perlu, Pa. Besok ada ulangan. Sayang banget kalau enggak ikut." "Papa enggak pernah nuntut apa-apa sama Bayu. Enggak harus sekeras itu sama diri sendiri. Yang penting itu kesehatan kamu." "Iya, Pa." Tadinya Bayu hendak menolak, tetapi sakitnya memang luar biasa menyiksa. Daripada harus sampai dirawat seperti dulu dan akhirnya menghabiskan biaya banyak, mungkin lebih baik Bayu memeriksakan diri. Toh biaya konsultasi tidak akan sebanyak biaya rawat inap. "Lho? Papa kok di sini? Mama pikir ke kamar Kakak. Kakak belum makan dari tadi, sengaja nungguin Papa pulang katanya," ujar Anggia yang baru aja datang. "Masa, Ma? Papa dari tadi khawatir sama Bayu, jadi cek kondisinya dulu." "Temuin, gih. Makanannya udah Mama panasin juga." Kepala pria itu terangguk. Ia bangkit dari posisinya, kemudian bergegas ke kamar Wil. Selepas kepergian sang suami, Anggia mendudukkan diri di tepi tempat tidur putranya. "Bayu, Bunda mau minta tolong jangan terlalu sering ajak teman-teman ke rumah, ya? Kasihan, Kakak. Dia murung banget waktu teman-teman Bayu ke sini. Tahu sendiri, kan, Kakak enggak punya banyak teman." Meskipun tidak memahami maksudnya, Bayu mengangguk sebagai jawaban. "Oh iya, satu lagi." "Apa, Bun?" "Jangan terlalu dekat sama Papa. Nanti Kakak berpikir kalau Bayu saingannya. Sewajarnya. Jangan bersikap manja sama Papa. Besok kalau misalkan udah baikan, kamu sekolah, ya. Lagian penyakit yang terlalu dimanja juga malah makin betah. Misalkan Papa tanya, bilang aja udah kuat sekolah karena takut ketinggalan pelajaran. Bunda tahu kok Bayu anak yang kuat." Lagi, anak itu mengangguk patuh. Keinginannya untuk memeriksakan diri pupus. Benar kata bundanya, jika terlalu dimanja penyakit justru betah berlama-lama. Walaupun sang bunda tidak tahu bagaimana Bayu kepayahan menundukkan rasa sakit yang sejak tadi mencoba menenggelamkan kesadarannya. "Anak pintar. Ini baru kesayangan Bunda," ujarnya lagi sembari mengusap kepala Bayu. Bayu tidak tahu harus bahagia atau terluka. Ia selalu dianggap sudah cukup dewasa untuk menghadapi dan menyelesaikan semuanya sendiri. Sementara Wil selalu diperlakukan layaknya seorang bayi. Semua serba diperhatikan. Yang paling menyakitkan, Bayu diminta untuk tidak terlalu dekat dengan papa tirinya, tetapi disaat bersamaan dilarang bertemu ayah kandungnya juga. Apa sang bunda sengaja menjauhkannya dari semua orang? Membuat Bayu terasing sendirian. Luka yang kentara sakitnya tidak melulu yang terjamah jejaknya. Justru yang disembunyikan, dibiarkan menggerogoti dan mematikan dari dalam. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN