4. Bertaruh Dengan Takdir

1600 Kata
Senyuman merekah di dalam bibir pewaris Hotel Matteo tersebut. Keresahannya sebab satu minggu berlalu pertemuan pertamanya dengan Grace, kini lelaki itu kembali mendapatkan kesempatan untuk menyapa dan menatap secara langsung keindahan manik mata setenang senja milik Grace Jolicia Sean Kusuma. Seandainya saja Kenzo tidak bekerja hari ini, mungkin lelaki itu tidak akan bertemu dengan Grace di hotel milik keluarga lelaki itu. Rupanya keadaan mulai bersahabat dengan Kenzo, tanpa perlu Kenzo bersusah payah mencari keberadaan Grace, takdir malah mempertemukan mereka berdua di hotel milik keluarga Kenzo Matteo. Rasanya Kenzo harus bersyukur kepada Tuhan yang sudah sangat baik kepada dirinya. Kenzo menarik napasnya panjang, lelaki itu berusaha menyimpan aroma parfume mahal yang menyeruak dari tubuh Grace meskipun wanita idaman hati Kenzo Matteo telah berbalik arah meninggalkan Kenzo Matteo. Jas putih kebesarannya sebagai seorang dokter membuat Grace begitu menggoda di pandangan mata Kenzo. Lelaki itu tidak bisa membayangkan betapa beruntungnya dirinya ketika mendapatkan kesempatan memiliki wanita seistimewa Grace. Kenzo harus memutar otak demi mendapatkan wanita yang sudah dia klaim sebagai miliknya, sejak pertama kali manik mata hazel milik Kenzo menatap Grace. "Ayo kita harus segera kembali ke hotel setelah makan siang," ajak Kenzo kepada Rey penuh semangat. “Baiklah, Raja b***k Cinta,” kata Rey mengejek. Rey hanya tertawa menanggapi ucapan dari Kenzo. Melihat lelaki itu menggebu-gebu karena seorang wanita merupakan kelangkaan bagi Rey. Ini akan menjadi sejarah baru bagi kehidupan Kenzo. Biasanya para wanita yang rela menyerahkan diri dan kebebasan mereka kepada Kenzo secara sukarela, akan tetapi ini adalah kali pertama Rey melihat Kenzo tersenyum saat menceritakan tentang seorang wanita. Berbeda situasi dengan suasana hati Kenzo yang tengah berbahagia. Sepanjang langkah kakinya, Grace mengumpat dalam bahasa ibunya. Dia bahkan tidak peduli beberapa staff hotel yang menatapnya aneh karena dirinya kini terlihat seperti orang yang tengah kesetanan. Grace berucap dalam bahasa Indonesia yang tak semua orang mengerti dengan ucapan serta intonasi wanita itu. Kalau bukan karena pertemuan penting yang harus dia hadiri demi tugas akhir pendidikan spesialisnya, mungkin Grace akan berlari meninggalkan hotel itu segera. Grace tidak ingin terlibat lebih dalam lagi bersama lelaki macam Kenzo. Lelaki sinting menurut Grace sebab Kenzo mengklaim Grace sebagai miliknya sejak pertama kali Kenzo bertemu dengan Grace. “Kau milikku apanya! Ini tubuhku, dan aku berhak menguasai tubuhku sendiri!” ujar Grace teringat akan ucapan Kenzo di malam pertemuan pertama mereka berdua. Wanita cantik tersebut menggelengkan kepala seraya menepuk kedua pipinya, Grace harus segera kembali ke alam sadarnya bahwa dia dan Kenzo tidak akan pernah bertemu lagi, sesuai harapan Grace. Bolehkah Grace meninggalkan Hotel Matteo demi menghindari pertemuannya lagi dengan Kenzo? Apalah daya Grace, dia hanya wanita yang ingin merengkuh impiannya menjadi dokter spesialis di bidangnya. Tidak peduli kemanapun dia pergi dan apa yang nanti dia hadapi, yang pasti Grace tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu karena Kenzo si perusak moodnya. Grace melupakan sejenak semua hal tentang pertemuannya dengan Kenzo Matteo. Pertemuan itu berjalan lancar selama tiga jam, banyak ilmu baru yang bisa Grace dapatkan dari sana. Teman baru, dan juga guru baru membuat Grace senang mengikuti pertemuan hari ini. Pengalaman mengesankan dia dapatkan dalam pertemuan yang sekarang tengah berlangsung. Senyuman di wajah Grace merekah sempurna, wanita itu tidak sabar ingin segera menyelesaikan tugas dan tanggungjawab pendidikannya, agar Grace bisa secepatnya berkeliling Kota Madrid untuk melepaskan penat di dalam pikirannya selama ini. "Dokter Grace, saya tunggu laporanmu," ucap sang profesor kepada Grace. "Baik Prof," jawab Grace tersenyum. Dia akan mendapatkan mimpinya sebentar lagi, setelah dia menyelesaikan laporan dan penelitiannya. Gelar baru akan tersemat di belakang namanya. Grace bisa membanggakan orang tua serta keluarganya. Tidak sia-sia Grace menekan egonya untuk menikmati masa mudanya, asalkan masa depan Grace cerah tanpa bayang-bayang kesuksesan keluarganya. Berasal dari keluarga kaya raya tidak membuat Grace lantas menggantungkan seluruh kehidupannya kepada keluarga besarnya. Justru Grace sedang mencari cara agar dirinya bisa membuktikan kepada semua orang bahwa Grace juga layak untuk mendapatkan pengakuan kemandirian secara finansial maupun sikap. Grace tidak ingin kesuksesannya dianggap hanya faktor menjadi pewaris keluarga konglomerat yang sampai sekarang bergerak di bidang kesehatan itu. "Hati-hati di jalan, Prof Dan," ucap Grace melambaikan tangannya kepada profesornya. Banyak rekan yang menyapa Grace, mereka tak sungkan berbagi kontak demi menambah kenalan. Selain karena Grace sangat cantik rupawan, wanita itu juga pandai menarik perhatian lawan bicaranya. Sikap supel, ramah, dan juga murah senyum membuat banyak rekan-rekan satu perjuangan dengan Grace ingin berkenalan lebih dekat bersama Grace. "Dokter Grace, bolehkah saya minta nomor Dokter?" tanya seorang dokter laki-laki yang umurnya tak jauh dari Grace. "Oh, ten-" Jawaban Grace terhenti. Ucapan Grace terhenti, seseorang berdiri di depan Grace membuat wanita cantik itu tidak bisa menatap dokter lelaki yang sebelumnya sedang meminta nomor telepon Grace. Sepertinya Grace menghafal benar postur tubuh lelaki di depannya, dia adalah lelaki yang Grace sangat harapkan tidak perlu bertemu lagi dengan lelaki itu. Lantas mengapa lelaki menyebalkan ini malah berdiri di depan Grace tanpa merasa bersalah sedikitpun juga? "Maaf, Dokter Grace calon istri saya," ucap seseorang secara tiba-tiba. Grace terbelalak, sebuah pelukan di pinggangnya membuatnya menegang. Suara itu lagi membuktikan tebakan Grace tidak salah. Lelaki yang saat ini tersenyum menatap Grace membuat bergidik ngeri di tempatnya. Entah darimana lelaki ini berasal, tapi kenapa Kenzo bisa tiba-tiba muncul di depannya seperti sekarang? Lihat saja cara Kenzo mengeratkan pelukan tangan lelaki itu pada pinggang ramping Grace. Lelaki itu sama sekali tidak menunjukkan penyesalan atau perasaan sungkan terhadap Grace. Padahal keduanya tak saling mengenal dengan baik, hari ini adalah hari pertemuan kedua mereka. Grace mencoba melepaskan pelukan tangan Kenzo, lelaki itu justru semakin mengeratkan pelukannya kepada Grace. Dokter lelaki yang semula meminta nomor telepon Grace pun menjadi tidak enak hati. Posisi Grace dan Kenzo sekarang seolah menunjukkan kedekatan yang memang terjadi di antara mereka berdua. Dokter lelaki di depan Kenzo menganggukkan kepala singkat. "Kalau begitu saya permisi, Dokter," pamit dokter laki-laki itu merasa tidak enak. Grace melotot ke arah Kenzo, membulatkan matanya. Grace meronta lebih kencang demi melepaskan dirinya dari dekapan tangan Kenzo Matteo. Biarlah Grace menjadi pusat perhatian banyak orang, yang jelas wanita itu tidak sudi apabila dirinya berada di dekat Kenzo. "Yaaaaaa, kenapa kau selalu menempel padaku seperti cicak?" teriak Grace marah. Mengundang perhatian di sekelilingnya, termasuk staf dan juga beberapa rekannya yang masih ada di sana. Wanita itu menatap Kenzo murka. "Lepaskan aku!" teriak Grace melepaskan tangan Kenzo dari pinggangnya. Kenzo menariknya ke dalam pelukan, Grace tak bisa bernapas sungguh. Jantungnya berdetak begitu kencang, darahnya berdesir ketika tangan kekar itu memeluknya erat. Mengapa Kenzo begitu terobsesi kepada Grace? Sedangkan Grace tidak merasa mempunyai sesuatu hal istimewa untuk ditonjolkan sebagai pesona dari wanita itu. Kenzo mengedipkan matanya menggoda, Kenzo memutar pandangannya dan melihat ke sekeliling mereka berdua berdiri berdekatan satu sama lain. "Semua orang menatap ke arahmu, Sayang," bisik Kenzo. Grace menatap ke sekelilingnya, benar saja semua mata melihatnya dengan berbagai pandangan. Namun untuk apa Grace merasa sungkan atas pandangan mata mereka kalau Grace memang tidak nyaman berada dalam kedekatan seperti ini bersama Kenzo? "Lepaskan aku atau aku teriak sekarang juga?" ancam Grace. “Memang apa yang akan kamu berikan kepadaku jika aku melepaskanmu?” tanya Kenzo kepada Grace. Rupanya Kenzo tidak mau kalah begitu saja. Ini adalah hotel milik keluarganya, sekalipun dia pimpinan di sana, tidak membuat Kenzo harus menutupi kegilaannya pada seorang wanita. Harga diri dan kehormatan Kenzo Matteo tidak lebih penting dari upaya Kenzo sedang berusaha mendekati seorang wanita seistimewa Grace Jolicia Sean Kusuma. “Aku bilang, lepaskan aku sekarang juga!” sentak Grace. Detik itu juga Kenzo merasa ada sesuatu yang sedang menginjak sepatu pantofel yang dia kenakan. Rasanya cukup mengganggu meski tidak mampu menembus kulit sepatu Kenzo. Lelaki itu menyunggingkan senyuman geli, dia suka melihat rona merah di wajah Grace seperti sekarang. Kenzo melepaskan pelukannya, dia menatap Grace. Tangannya menyentuh pipi Grace yang kini tengah memerah. Lelaki itu seperti terpesona setiap detik pada diri Grace. Ada sesuatu di dalam diri Grace yang membuat Kenzo tidak bisa untuk berhenti mencoba mencari tahu tentang wanita itu. Memang ada apa di dalam diri Grace hingga bisa membuat pewaris Hotel Mattoe begitu tergila-gila kepadanya dalam waktu yang sangat singkat. "Kau, sangat cantik ketika marah," ucap Kenzo, mengedipkan matanya ke arah Grace. Dia berjalan melewati Grace yang masih tercengang begitu saja. Sedangkan Grace menatap punggung Kenzo yang menjauh seakan ingin membunuh Kenzo lewat tatapannya. Grace tidak tahu, kutukan macam apa hingga Grace bertemu lelaki pembuat gejolak api di hatinya seperti Kenzo! Padahal Grace tidak bermimpi apapun tentang lelaki itu, apalagi sampai berharap dipertemukan kembali bersama Kenzo. “Hah! Kenapa rasanya aku ingin meremukkan tubuh lelaki itu!” sentak Grace menghentakkan kakinya dengan kesal. Grace tidak bisa berdiam diri begitu saja di sana, dia harus secepatnya pergi dari Hotel Matteo atau Kenzo bisa mengganggu dirinya lebih parah lagi. Grace langsung berpamitan kepada rekan sejawatnya, Grace meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Tidak membutuhkan waktu lama, Grace berlari kecil menuju mobil fasilitas hotel tempatnya menginap. Rey melihat ke arah parkiran tamu dari lantai dimana ruangan Kenzo berada. “Mengapa kamu melepaskannya begitu saja jika memang kamu menginginkannya?” tanya Rey penasaran. “Ada sesuatu di dalam diri wanita itu yang tidak bisa aku terjemahkan sekarang,” jawab Kenzo turut melihat mobil Grace meninggalkan pelataran parkiran tamu di Hotel Matteo. Kenzo masih berharap dia mendapatkan kesempatan lagi bertemu dengan Grace. “Lalu apa rencanamu sekarang?” Rey menatap Kenzo. “Bertaruh dengan takdir, jika dia memang diperuntukkan untukku, kita pasti akan bertemu lagi.” Pewaris Hotel Matteo tersenyum simpul, Kenzo tidak mau terburu-buru mengejar Grace hingga dapat. Kenzo ingin semua berjalan seperti apa kata takdir mempertemukan mereka lagi, dan lagi. Lihat saja nanti, Kenzo yakin benar bahwa dia akan bertemu dengan Grace. Keyakinan di dalam dirinya membuat Kenzo ingin melepaskan Grace sekarang, untuk pertemuan lebih mengesankan esok nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN