6. Chocolateria Sen Guines

2100 Kata
Madrid merupakan kota maju dari Negara Spanyol, kota yang menjadi kiblat beberapa mode baik pakaian maupun makanan tradisional dari berbagai dunia yang sangat mengagumi keindahan kota itu. Tak terkecuali Grace, meskipun wanita itu sering berkunjung ke berbagai negara di penjuru belahan dunia namun rasanya suasana Madrid begitu nyaman bagi mereka yang mengunjunginya. Grace mengadahkan tangannya keluar dari jendela mobil, merasakan sentuhan angin malam di Madrid yang akan dia rindukan ketika dia kembali ke Indonesia lagi. Grace tidak akan lama menginjakkan kakinya di negara itu mengingat setelah semua tugas dan tanggungjawab Grace usai di Madrid, dia akan segera meninggalkan Madrid untuk pulang ke Indonesia. Itulah alasan mengapa Grace tidak ingin membuang waktunya begitu saja berdiam diri di negara orang tanpa melakukan hal apapun di sana. Sebelum wanita itu menginjakkan kaki di Madrid, lebih dahulu Grace mencari di berbagai sumber informasi tentang berbagai makanan khas, lokasi wisata, sekaligus tempat-tempat bersejarah yang memang layak untuk Grace singgahi. “Awas tanganmu,” peringat Kenzo yang merasa khawatir dengan Grace. “Aku sedang menikmati udara segar di Madrid, kapan lagi aku bisa merasakannya?” seru Grace terpekik girang. Grace hanya tersenyum, memejamkan matanya, menghirup udara di Madrid yang begitu menenangkan bagi dirinya. Wanita itu rupanya memiliki berbagai sifat unik yang selalu dapat mengejutkan bagi Kenzo. Di malam pertama pertemuan mereka, Grace mengenakan gaun pesta begitu sexy, menunjukkan usia Grace yang memang sudah terbilang cukup matang. Kemudian ketika Kenzo bertemu Grace di Hotel Mettoe miliknya, pakaian dengan jas kebesarannya sebagai seorang dokter membuat Kenzo Matteo berdecak kagum. Seragam kedokteran Grace sangat menunjukkan kelas serta kepandaian wanita yang Kenzo idamkan itu secara akademis maupun kecakapannya. Kenzo tidak salah sudah menargetkan wanita seperti Grace untuk dia klaim sebagai wanitanya. Kenzo tidak bisa melepaskan tatapan matanya dari sosok wanita disampingnya. Ciptaan Tuhan paling indah menurutnya tidak mungkin dia sia-siakan begitu saja. Jika wanita lain siap bertekuk lutut untuk ketampanan dan kekayaan Kenzo maka Grace adalah wanita yang tidak peduli semua itu. “Ah aku ingat,“ ucap Grace tiba-tiba. “Ingat apa?” tanya Kenzo menelisik. Grace memandang Kenzo, menyipitkan matanya. Pandangan mata coklat milik Grace mencoba menyelami manik mata hijau hazel milik Kenzo Matteo. Grace menatap lelaki di sampingnya dengan penasaran. Entah darimana datangnya Kenzo hingga bisa tiba-tiba berdiri di depan kamar Grace. Padahal menurut Grace, jarak antara Hotel Matteo dengan Hotel Regency Madrid Residances cukup menguras waktu. Meskipun Grace melakukan perjalanannya berbekal bantuan dari Google Maps, akan tetapi Grace bisa melihat jarak tempuh yang sudah dia lewati dua kali dalam perjalanannya dari apartemen miliknya hingga sampai di hotel keluarga Kenzo. “Kamu tidak berniat menculikku bukan?” tanya Grace membuat Kenzo terkekeh. Tentu saja pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Grace kepada Kenzo, memang apa niat dan tujuan Kenzo bisa tiba-tiba sampai di depan kamar apartemennya kalau lelaki itu tidak punya rencana dan niat lain di balik kedatangannya? Keduanya tidak mengenal secara dekat, Grace hanya tahu bahwa lelaki di sampingnya ini merupakan tunangan dari teman kuliahnya di strata satu, yakni Shareen. Sepertinya sangat tidak mungkin jika Shareen lah yang mengutus tunangannya untuk menghampiri Grace di apartemennya. Sudah seharusnya Shareen menjaga tunangannya dengan baik, walau Grace sendiri tidak yakin hubungan asmara macam apa di antara Kenzo dan Shareen yang sebelumnya Grace ketahui memiliki hubungan asmara bersama Jayden, teman kuliah mereka dahulu. “Aku tidak menculikmu, Sayangku,“ jawab Kenzo mengacak rambut Grace dengan gemas. Jantung Grace seakan ingin keluar dari tempatnya ketika tangan Kenzo menyentuh puncak kepala dengan lembut. Grace menampik tangan Kenzo, kembali memalingkan wajahnya dari Kenzo, memilih menikmati jalanan Madrid yang akan dia rindukan ketika kembali ke tanah air. Kenzo mendapatkan identitas Grace sore itu, ketika mengetahui tempat tinggal Grace dia langsung mencari apartemen yang kosong untuk dia tempati agar dekat dengan wanita yang dia klaim sebagai wanitanya. Kenzo sangat totalitas untuk mengatahui semua tentang Grace, mulai dari mencaritahu nomor polisi kendaraan yang Grace bawa ke Hotel Matteo, hingga rela menginap di apartemen dengan harga sewa begitu tinggi demi bisa menghirup udara serupa dengan Grace Jolicia Sean Kusuma. Wanita itu asli Indonesia, dia juga berasal dari keluarga ternama di sana. Tidak ayal itu membuat Grace tumbuh menjadi wanita sehebat itu. Wanita cantik, tajir, dan memiliki harga diri yang tidak bisa Kenzo sentuh dengan kekayaannya. Padahal selain Grace, dia mampu menakhlukkan wanita manapun dari berbagai kebangsaan. Belum lagi sisi akademis Grace dapat mendebarkan detak jantung Kenzo Matteo, jas putih kebesarannya sebagai seorang dokter mampu membuat Kenzo siap diperiksa kesehatannya setiap saat dan setiap waktu. “Kenapa tidak mengajak Shareen?” Grace bertanya, mengungkapkan apa yang sejak tadi ada di benaknya. Ada sisi penasaran di dalam diri Grace, lebih tepatnya siapakah yang telah mengirim Kenzo menemui Grace, dan berakhir mengajak wanita itu berkeliling kota seperti sekarang ini. “Menurutmu kenapa?” Lelaki itu justru bertanya balik kepada Grace. “Mana aku tahu?“ Grace menghendikkan bahunya. Jika Grace mengetahuinya, dia tak mungkin melemparkan pertanyaan terhadap Kenzo Matteo. Raut wajah polos dari Grace membuat Kenzo tersenyum lembut di tempatnya. Rasanya Kenzo ingin menoleh saja ke arah Grace, mengunci tatapan mata wanita itu hanya untuk dirinya seorang. Kenzo berharap dia dan Grace mempunyai waktu senggang hingga keduanya dapat menceritakan sedikit saja tentang satu sama lainnya. “Karena kamu,“ jawab Kenzo, matanya menyelami mata coklat legam milik Grace. Tenangkan dirimu Grace, lelaki di sampingmu itu buaya darat. Dewi dalam diri Grace memperingatkannya. Grace mengambil napasnya, tatapan mata Kenzo seperti mau membunuhnya saja. “Kamu tidak takut dia marah melihatmu menculikku?” tanya Grace menekan kata menculikku. “Dia tidak peduli dengan siapa aku malam ini,“ jawab Kenzo membuat Grace memicingkan matanya. Apa artinya Shareen mengetahui kebejatan calon tunangannya? Lalu kenapa Shareen malah memilih lelaki gila itu dibandingkan Jayden kekasihnya yang sudah menjalani hubungan dengan Shareen lama? Apa yang sebenarnya Shareen dan lelaki ini dipikirkan? “Ah sudahlah, aku lapar,“ ucap Grace akhirnya karena tidak menemukan jawaban dari pertanyaannya. “Hemm, kamu mau makan di mana?” tanya Kenzo menoleh menatap Grace. Ini pertama kalinya Kenzo mengajak wanita untuk makan dengannya. Kenzo lebih sering mengajak para wanita itu untuk ke club malam atau menginap di hotel tentu saja. Tetapi semua hal yang pernah dia lakukan bersama para wanita tentunya tidak sama dengan apa yang akan Kenzo lakukan kepada Grace. Wanita yang duduk di sampingnya kini sangat istimewa, Grace mampu membuat Kenzo melakukan hal-hal gila yang sebelumnya tidak pernah lelaki itu lakukan kepada wanita manapun selain Grace, termasuk pula Shareen. Kenzo begitu terobsesi terhadap Grace. “Chocolateria Sen Guines, teman-temanku tadi merekomendasikan tempat itu untukku, kamu tahu di mana tempatnya?” tanya Grace. Kenzo mengangguk. “Laksanakan, Tuan Putri,“ jawab Kenzo tersenyum kearah Grace. Memang benar, teman-teman Grace yang dia temui di acara pertemuan tadi siang kebanyakan merekomendasikan tempat itu untuk Grace. Bahkan mereka tidak segan-segan menawarkan diri mengantarkan wanita cantik itu ke Chocolateria Sen Guines. Sejujurnya Kenzo sendiri tidak asing dengan nama kedai coklat yang disebutkan oleh Grace, hanya saja Kenzo tak pernah mengunjungi tempat-tempat makanan seperti ini. Rumah makan yang sudah sangat lama dibangun, dengan ornament kayu dan kaca menghiasi dindingnya. Orang Madrid menyebutnya ‘Kedai Churros’ yang berada di Kota Tua yang sangat dekat dengan Puerta del Sol. Setelah Kenzo memarkirkan mobilnya di ujung jalan, mereka berdua berjalan untuk menuju kedai yang memang terletak di samping-samping bangunan sehingga tidak memperbolehkan mobil masuk ke sana. Kenzo sudah menjelaskan terlebih dahulu kepada Grace, tetapi wanita itu mengatakan tidak masalah jika mereka harus berjalan kaki. “Ayo, anggap saja kita berolahraga malam,” ajak Grace. “Olahraga malam?” tanya Kenzo berpemikiran liar. Cuaca malam semakin dingin, Grace menggosok tangannya dan meniupnya berharap akan menimbulkan kehangatan dari dalam tubuhnya. Kenzo menarik tangan Grace, menggenggam tangan wanita itu dengan erat. Kenzo tidak menoleh ataupun melihat bagaimana ekspresi wajah wanita itu saat kini. Kenzo lebih fokus pada jalanan, dan lalu lalang orang yang tengah menikmati suasana malam Kota Tua di sana. Semakin Grace berusaha melepaskan genggaman tangan Kenzo, semakin erat pula lelaki itu menggenggam jemarinya. Grace tahu, ketika dirinya mencoba melepaskan diri dari Kenzo, maka lelaki itu justru semakin giat untuk menggenggamnya kuat-kuat. ‘Jantungku akan meledak sebentar lagi,’ teriak batin Grace. Kedai itu sangat ramai di jam seperti ini, bahkan antrian orang di sana sampai keluar dari pintu. Yang benar saja Kenzo akan berdesakan dengan pengantri lainnya untuk membeli churros yang bisa dia temukan di kedai lain atau restoran mewah penyedia layanan VVIP untuknya dan Grace. Melihat ekspresi wajah Grace yang bersemangat membeli makanan di sana membuat Kenzo mengurungkan niatnya untuk mengajak Grace ketempat lain. Senggolan di bahu Grace membuat wanita itu menabrak d**a bidang Kenzo. Kenzo menangkap tubuh Grace dengan sigap, membuat keduanya berdebar tidak karuan. Mungkin Rey akan terbahak ketika melihat sahabat sekaligus bosnya berada di kedai churros dan ikut mengantri demi seorang wanita. Terkutuklah perasaan Kenzo yang tidak bisa lelaki itu kendalikan sendiri. Tetapi mengapa Kenzo tidak bisa berbuat apapun terhadap Grace, dan malah mengikuti kemauan wanita itu dengan senang hati? “Grace, biar aku yang mengantre. Kamu cari tempat duduk saja,“ ucap Kenzo diangguki Grace. “Aku akan mempercayakannya kepada Anda, Tuan Muda,” jawab Grace tersenyum. Setelah berdiri hampir dua puluh menit, akhirnya Kenzo mendapatkan apa yang Grace inginkan. Kenzo mencari dimana wanitanya duduk. Ada rasa was-was membiarkan wanitanya duduk sendiri, tentu saja karena wajah Grace yang bisa menarik perhatian seluruh orang di sana. Lelaki itu ingin menyewa seluruh tempat makan itu saja daripada harus menahan kegelisahan seperti hari ini. Grace yang tahu bahwa Kenzo Matteo tengah celingukan mencari keberadaannya langsung mengangkat tangan kanannya sambari berlambai, melebarkan senyuman di bibir ranum nan merah milik Grace Jolicia. “Ken, aku di sini,“ teriak Grace melambaikan tangannya kepada Kenzo. Grace melambaikan tangannya kembali. “Ke mari, Ken,” seru Grace sekali lagi dengan antusiasnya. Perasaan hangat menjalar begitu saja didalam hati Kenzo ketika mendengar Grace memanggil namanya untuk pertama kali. Jika biasanya Grace memanggilnya ‘kau’ ‘kamu’ ‘lelaki gila’, maka ‘Ken’ adalah sebutan terindah yang pernah Kenzo dengar. Beruntunglah nama Kenzo! “Wuahhh,“ pekik Grace girang, seperti anak kecil yang perasaan ingin tahunya bisa terpenuhi. Senyum Kenzo mengembang melihatnya, dia tidak butuh udara di dunia ini. Dia hanya butuh senyuman wanita itu, biarlah orang mengatakannya lebay, tapi senyuman wajah Grace seperti udara segar baginya. Grace adalah candu baginya. “Apakah kamu sangat menyukai coklat?” tanya Kenzo Matteo kepada Grace. “Aku sangat menyukainya. Bagaimana dengan dirimu, Ken?” ucap Grace kembali memanggil nama Kenzo secara singkat. Ken! “Apapun yang kamu sukai, mulai sekarang aku juga pasti akan menyukainya,” ujar Kenzo membuat kedua alis Grace saling bertautan sempurna. Grace tidak ingin memperlambat waktu makannya, wanita itu sudah tidak sabar ingin melahap habis semua menu makanan yang telah Kenzo pesankan untuk dirinya. Padahal Grace hanya meminta beberapa menu saja, tetapi rupanya Kenzo ingin supaya Grace bisa lebih leluasa memilih makanan mana saja yang diinginkan oleh wanita idaman hatinya tersebut. Melihat Grace melahap makanan dengan senyuman di wajahnya, Kenzo lantas berusaha mengabadikan moment tersebut secara diam-diam menggunakan ponselnya. Ada perasaan tenang dan bahagia saat Kenzo bisa duduk damai bersebelahan dengan Grace. “Kalau boleh tahu, darimana kamu mengetahui tempat tinggalku?” tanya Grace. “Aku kan sudah bilang, kita tetangga satu gedung. Jadi tidak ada yang tidak aku ketahui,” kata Kenzo beralasan. Grace berdecak. “Kamu kurang pandai mencari alasan,” ejek Grace menyeruput minuman dingin miliknya. Kenzo hanya terkekeh di tempatnya melihat Grace menatapnya jengah. Wanita di depan Kenzo ini memang punya seribu keunikan yang mampu membuat Kenzo merasa ada banyak sekali hal unik yang harus Kenzo ketahui dari Grace. “Berapa lama kamu akan berada di Madrid?” Kenzo membuat Grace menghentikan aktivitasnya saat ini. “Tidak dalam waktu lama, mungkin beberapa pekan,” jawab Grace. “Kalau begitu aku akan membuatmu menetap lebih lama dari rencanamu,” ucap Kenzo. Pandangan mata hijau hazel milik Kenzo malah membuat Grace merasa ada yang salah dengan detak jantungnya saat ini. Grace tahu benar lelaki di depannya ini merupakan tunangan dari teman baiknya sendiri. Dia hanya akan dituding sebagai orang ketiga dan perusah hubungan orang jika Grace masih meladeni Kenzo Matteo. “Ken, apakah Shareen yang mengutusmu menemaniku hari ini?” Grace kembali terusik dengan alasan Kenzo yang sebenarnya. “Tidak ada yang mengutusku, aku bukan seseorang yang bisa diperintahkan begitu saja. Kecuali dirimu pemberi perintahnya,” jelas Kenzo. Jawaban Kenzo bukanlah kebohongan, lelaki itu benar-benar menyambangi Grace atas keinginannya sendiri. Kenzo tidak akan melakukan sesuatu yang tentunya bukan berasal dari keinginan lelaki itu sendiri. Kenzo menyambangi Grace adalah sesuatu yang murni dari kehendak lelaki itu tanpa dapat dicegah oleh siapapun. Grace hanya sedang merasa sungkan atas hubungan Kenzo dan Shareen, bagaimanapun lelaki itu adalah seseorang yang mempunyai kedekatan dengan teman Grace sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN