Ulama Pesantren (1) KH Wahab dan KH Hasan Besari

4257 Kata
KH Wahab Hasbullah Founding Father NO Tokoh utama lain pendiri NU adalah K.H. Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971). Beliau lahir pada bulan Maret 1888 di Tambak Beras Jombang. Beliau dikenal sebagai kiai yang cerdas, dinamis, intelek, sekaligus pejuang yang ikut bertempur melawan Belanda dan Jepang. Ia adalah putra pasangan Kiai Chasbullah dan Nyai Lathifah. Keluarga Hasbullah adalah pengasuh Pesantren Tambak Beras dan masih punya hubungan kekerabatan dengan K.H. Hasyim Asy'ari. (YSZ, 1994:135). Sepeninggal istri pertamanya saat menunaikan ibadah haji pada tahun 1921, Kiai Wahab menikah lagi dengan Alawiyah putri Kiai Alwi. Istri kedua inipun meninggal setelah dikaruniai seorang anak. Sesudah itu, Kiai Wahab pernah menikah tiga kali namun tidak berlangsung lama dan tidak dikaruniai putra. Kemudian ia menikah dengan Asnah, putri Kiai Said dari Surabaya dan dikaruniai 4 orang anak, salah satunyai K.H.A. Wahib Wahab (Mantan Menteri Agama RI). Setelah Asnah meninggal, Kiai Wahab menikah kembali dengan Fathimah, tapi tidak dikaruniai putra. Tapi, Fathimah membawa seorang anak yang bernama K.H. Ahmad Syaichu. Setelah itu beilau menikah kembalai dengan Masmah dan memperoleh seorang anak. Kemudian ia menikah dengan Ashlikah, putri Kiai Abdul Madjid dari Bangil dan memperoleh 4 orang anak. Terakhir, Kiai Wahab memperistri Sa'diyah (kakak Ashlikhah) setelah Ashlikah meninggal, dan mempunyai 5 anak, sampai akhir hayatnya pada tahun 1971. (YSZ, 1994:135-136). Bekal pendidikan Kiai Wahab sejak kecil diberikan sendiri oleh ayahnya. Baru setelah dewasa ia berkelana dari pesantren ke pesantren. Di antaranya Pesantren Langitan, Tuban, Pesantren Mojosari, Pesantren Cepoko Nganjuk, Pesantren Tawangsari Surabaya, Pesantren Kademangan Bangkalan dan langsung berguru kepada Kiai Cholil, kiai kharismatis yang juga guru K.H. Hasyim Asy'ari. Pada usia 27 tahun ia meneruskan berguru ke Mekah kepada Kiai Mahfudz Al-Tarmasy, Syaikh Achmad Khatib, Kiai Bakir Yogyakarta, Kiai Asy;ari Bawean, Syaikh Said Al-Yamani, Syekh Umar Bajjened, dan lain-lain. (ibid: 136-137). Seperti disinggung di atas sejak pulang dari Mekah bersama Kiai Mas Mansur, Kiai Wahab membentuk kelompok diskusi Taswirul Afkar di Surabaya pada tahun 1914. Pada tahun 1916 mendirikan madrasah Nahdlatul Wathan, juga bersama Kiai Mas Mansur. Pendirian madrasah ini mendapat dukungan dari ulama-ulama lain. Di kalangan pemuda dibentuk Syubbanul Wathan, yang di dalamnya terdapat tokoh muda seperti Abdullah Ubaid. Ia juga berhubungan dengan tokoh-tokoh nasional lain seperti Soetomo dalam Islam Studie Club yang didirikannya bersama kaum terpelajar lain. (Ibid.138-139). Peran paling besar Kiai Wahab adalah saat menjelang pendirian NU pada tanggal 31 Januari 1926. Ia mengajak musyawarah di rumahnya ulama-ulama senior dan tokoh-tokoh Komite Hijaz seperti Kiai Hasyim Asyari dan Kiai Bisri Sansuri dari Jombang, Kiai Ridlwan dari Semarang, Kiai Asnawi dari Kudus, Kiai Nawawi dari Pasuruan, Kiai Nahrowi Malang, Kiai Alwi Abdul Aziz Surabaya, dan lain. Pertemuan itu kemudian menorehkan sejarah kelahiran Jamiyyah Nahdlatul Ulama yang mempertahankan akidah Ahlussunah Wal Jamaah dan Mazhab Empat. (Ibid., 140). Nama NU sendiri diusulkan Kiai Alwi Abdul Aziz dari Surabaya. Sementara pencipta lambang adalah Kiai Ridlwan dari Surabaya. Kiai Wahab sendiri tidak bersedia menjadi Rais Akbar dan merasa cukup menjadi Katib Am (Sekjen) dalam organisasi ini. Jabatan tertinggi diserahkan kepada tokoh kharismatik dari Jombang, Kiai Haji Hasyim Asy'ari. Selanjutnya kiprah perjuangan Kiai Wahab banyak sekali mewarnai perjalanan NU dari masa ke masa. Momen-momen penting dalam NU dalam percaturan politik nasional sangat diwarnai peran kiai ini. Beliau juga dikenal sebagi perintis tradisi intelektual NU dan pernah menerbitkan majalah tengah bulanan Suara Nahdlatul Ulama yang dipimpinanya sendiri. KH Wahab Hasbullah wafat 29 Desember 1971 dan di makamkan di kompleks Ponpes Tambak Beras,Jombang Jawa Timur.(***) Aji Setiawan KH R As'ad Syamsul Arofin Situbondo Tokoh Penting Berdirinya NU Kiai Haji Raden As'ad bin Syamsul Arifin bin Ruham bin Ihsan bin Khomsi, lahir pada 1897 di Mekkah - Ia adalah ulama sekaligus tokoh penting dalam berdirinya Nahdlatul Ulama, sebab ia adalah penyampai pesan isyarat berupa tongkat disertai ayat Al Qur'an dari Syaikhona Kholil kepada KH. Hasyim Asy'ari, yang merupakan cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama. Hingga wafatnya ia menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan juga sebagai pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Situbondo. Ia di anugerahi Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 9 November 2016 sesuai Keputusan Presiden Nomor 90/TK/Tahun 2016. Kiai As'ad adalah anak pertama dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maimunah, keduanya berasal dari Pamekasan, Madura.Ia mempunyai adik bernama Abdurrahman. Ia dilahirkan di perkampungan Syi'ib Ali, dekat Masjidil Haram, Mekah, ketika kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji dan bermukim di sana untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman.[2] Kiai As'ad masih memiliki darah bangsawan dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Raden Ibrahim (yang kemudian lebih dikenal dengan nama K.H. Syamsul Arifin) adalah keturunan Sunan Kudus dari jalur sang ayah.Sedangkan dari pihak ibu masih memiliki garis keturunan dari Sunan Ampel. Pada usia enam tahun, Kiai As'ad dibawa orang tuanya pulang ke Pamekasan dan tinggal di Pondok Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan, Madura.Sedangkan adiknya, Abdurrahman, yang masih berusia empat tahun dititipkan kepada Nyai Salhah, saudara sepupu ibunya yang masih bermukim di Mekah.[2][3] Setelah lima tahun tinggal di Pamekasan, Kiai As'ad diajak ayahnya untuk pindah ke Asembagus, Situbondo yang sekarang daerah tersebut masuk kedalam kecamatan Banyuputih, Situbondo, daerah tersebut dulunya masih berupa hutan belantara yang terkenal angker dan dihuni oleh banyak binatang buas dan makhluk halus. Kiai As'ad diajak ayahnya pindah ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam di sana. Pendidikan Sebagai anak seorang ulama, sejak kecil Kiai As'ad sudah mendapat pendidikan agama yang diajarkan langsung oleh ayahnya. Setelah beranjak remaja, ia dikirim ayahnya untuk belajar di Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan, sebuah pesantren tua yang didirikan oleh K.H. Itsbat Hasan pada tahun 1785. Saat Di Pondok Pesantren tersebut, Kiai As'ad diasuh oleh K.H. Abdul Majid dan K.H. Abdul Hamid, keturunan dari K.H. Itsbat. Setelah tiga tahun belajar di Pesantren Banyuanyar (1910-1913), ia kemudian dikirimkan ayahnya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan melanjutkan belajarnya di sana. Di Mekah, ia masuk ke Madrasah Al-Shaulatiyah, sebuah madrasah yang sebagian besar murid dan guru-gurunya berasal dari al-Jawi (Melayu). Ia belajar ilmu-ilmu keislaman kepada ulama-ulama terkenal, baik yang berasal dari al-Jawi (Melayu) maupun dari Timur Tengah. Di antara guru-guru Kiai As'ad ketika belajar di Mekah antara lain: Syeikh Abbas al-Maliki, Syeikh Hasan al-Yamani, Syeikh Muhammad Amin al-Quthbi, Syeikh Hasan al-Massad, Syeikh Bakir (K.H. Bakir asal Yogyakarta) dan Syeikh Syarif as-Sinqithi. Setelah beberapa tahun belajar di Mekah, Kiai As'ad kemudian pulang ke Indonesia.[2] Setelah sampai di kampungnya, ia tidak langsung mengajar di pesantren ayahnya, Kiai As'ad memutuskan untuk memperdalam ilmunya dan melanjutkan belajarnya. Ia pergi ke berbagai pesantren dan singgah dari pesantren satu ke pesantren lain, baik untuk belajar maupun hanya untuk ngalap barakah (mengharap berkah) dari para kiai. Beberapa pesantren tersebut antara lain, Langitan, Sidogiri (KH. Nawawi) , Buduran (KH. Khozin) , Lasem (KH. Ma'shum Ahmad) dan Demangan Bangkalan (Syaikhona Kholil bin Abdul Latif) Pada tahun 1924, Syaikhona Kholil mengutus Kiai As'ad yang saat itu berumur 27 tahun untuk mengantarkan sebuah tongkat ke Kiai Hasyim Asy'ari, Tebuireng, Jombang dan menghafalkan Surat Thaha ayat 17-23 untuk dibacakan di hadapan Kiai Hasyim. Berangkatlah Kiai As'ad dengan mengayuh sepeda, Kiai As'ad telah dibekali uang oleh Syaikhona Kholil untuk di perjalanan, namun ia justru berpuasa selama di perjalanan. Kemudian setibanya di Tebuireng, Kiai As’ad menghadap Kiai Hasyim Asy'ari dan menyerahkan tongkat itu. Kiai Hasyim bertanya “Apakah ada pesan dari Syaikhona?” Lalu Kiai As’ad membaca Surat Thaha ayat 17-23 yang arti terjemahannya : “Apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa ? Dia (Musa) berkata, “Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.” Allah berfirman, “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu ia melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Dia (Allah) berfirman, “Peganglah ia dan jangan takut, Kami (Allah) akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, Dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih (bercahaya) tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain, untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar”. Berselang beberapa hari, Syaikhona Kholil kembali mengutus Kiai As'ad untuk mengantarkan sebuah tasbih kepada Kiai Hasyim. Ketika Syaikhona Kholil menyerahkan tasbihnya, Kiai As'ad enggan untuk menerima dengan tangannya, ia memohon kepada Syaikhona untuk mengalungkan tasbih itu ke lehernya. Syaikhona Kholil berpesan agar Kiai As'ad membaca "Yaa Jabbar Yaa Qahhar" hingga sampai Tebuireng dan membacanya di hadapan Kiai Hasyim. Selama di perjalanan, Kiai As'ad sama sekali tidak berani menyentuh tasbih itu, hingga sesampainya di Tebuireng, Kiai As'ad segera menghadap Kiai Hasyim dan memohon Kiai Hasyim untuk mengambil tasbih itu dari lehernya searaya ia membaca "Yaa Jabbar Ya Qahhar". KH. Hasyim Asy'ari telah menangkap dua isyarat kuat tersebut yang mengartikan bahwasannya Syakhona Kholil telah memantapkan hati beliau dan merestui didirikannya Jam'iyah Nahdlatul Ulama. Setahun kemudian, pada tanggal 31 Desember 1926 M / 16 Rajab 1344 H di Surabaya berkumpul para ulama se-Jawa-Madura. Mereka bermusyawarah dan sepakat mendirikan organisasi Islam Nahdlatul Ulama. Membesarkan partai NU Saat Nahdlatul Ulama memutuskan menjadi sebuah partai politik dan meninggalkan Partai Masyumi pada tahun 1952, Kiai As'ad dan para ulama senior kala itu melakukan pengembangan, pengabdian, dan peluasan guna menuju politik kebangsaan. Pada tahun 1957, ia menjadi juru kampanye Partai NU dan dipercayai sebagai penasehat pribadi KH. Idham Chalid yang kala itu menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri RI. Mengasuh pesantren. Pada tahun 1908, setelah pindah ke Situbondo, Kiai As'ad dan ayahnya beserta para santri yang ikut datang dari Madura membabat alas (menebang hutan) di Dusun Sukorejo untuk didirikan pesantren dan perkampungan.[3][5] Pemilihan tempat tersebut atas saran dua ulama terkemuka asal Semarang, Habib Hasan Musawa dan Kiai Asadullah.[3] Usaha Kiai As'ad dan ayahnya tersebut akhirnya terwujud.[5] Sebuah pesantren kecil yang hanya terdiri dari beberapa gubuk kecil, mushala, dan asrama santri yang saat itu masih dihuni beberapa orang saja. Sejak tahun 1914, pesantren tersebut berkembang bersamaan dengan datangnya para santri dari berbagai daerah sekitar. Pesantren tersebutlah yang akhirnya dikenal dengan nama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah. Setelah K.H. Samsul Arifin meninggal pada tahun 1951, pondok pesantren tersebut ganti diasuh oleh Kiai As'ad. Di bawah kepemimpinan Kiai As'ad, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah berkembang semakin pesat, dengan bertambahnya santri hingga mencapai ribuan.[2] Kemudian, lembaga pendidikan dari pesantren tersebut akhirnya semakin diperluas, tanpa meninggalkan sistem lama yang menunjukkan ciri khas pesantren. Pesantren tersebut mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah, kemudian didirikan pula sekolah umum seperti SMP, SMA, dan SMEA. Karya buku yang berhasil ia tulis antara lain ; Ekonomi Dalam Islam, Syair Madura, Risalah Shalat Jumat, Isra' wal Mi'raj, Tsalats ar-Risail, Tarikh Perjuangan Islam Indonesia, Risalah at-Tauhid. Kiai As'ad wafat 4 Agustus 1990 di Situbondo pada usia 93 tahun). (***) Aji Setiawan KH Hasan Genggong Sosok Ulama Sangat Rendah Hati dan ikhlas. Dialah KH. Mohammad Hasan Genggong Probolinggo Jawa Timur. Alkisah pada suatu malam, sepasang suami istri tidur terlelap di rumahnya. Sang suami, bernama Kyai Syamsuddin sehari-hari bekerja mencetak genteng, dijual untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Istrinya adalah seorang ibu rumah tangga yang patuh namanya Khadijah. Malam itu Kyai Syamsuddin bermimpi indah. Dalam mimpinya, beliau melihat istrinya merenggut bulan purnama kemudian bulan itu ditelan tanpa tersisa sedikitpun. Ketika terbangun, Kyai Syamsuddin bertanya-tanya apa makna mimpinya itu. Beliau dan istrinya hanya bisa bermunajat kepada Allah Swt berharap bahwa mimpi itu merupakan pertanda baik bagi mereka berdua. Kyai Syamsuddin oleh masyarakat lebih akrab dipanggil dengan sebutan Kyai Miri dan Nyai Miri. Waktu terus berlalu, lahirlah jabang bayi laki-laki yang dinanti-nantikan itu. Tanggal 27 Rajab 1259 H, bertepatan dengan 23 Agustus 1843. Oleh Kyai Miri, putranya itu beliau beri nama Ahsan. Ahsan bin Syamsuddin. Ahsan tumbuh di bawah bimbingan ayah dan ibunya. Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama, karena sang ayah, meninggal dunia pada saat Ahsan masih kecil. Ketika kecil, Ahsan telah menampakkan suatu keistimewaan tersendiri dibandingkan saudara-saudara dan teman-teman sebayanya. Selain ibunda, Ahsan juga dibimbing oleh seorang pamannya yang bernama sama dengan sang ayah yaitu Kyai Syamsuddin. Sebagai pribadi, Ahsan kecil memiliki sifat rendah hati, ikhlas, selalu menghormati orang lain, ramah pada siapapun yang dijumpai. Dalam bertutur kata Ahsan diajarkan untuk selalu berkomunikasi dengan bahasa madura yang halus dan santun disertai dengan sikap yang lemah lembut pula. Ahsan kecil belajar mengaji Al-Qur’an dan pengetahuan keagamaan di kampung halamannya. Bersama Asmawi (putra pamannya) serta teman masa kecilnya yang lain, Ahsan berguru pada Kyai Syamsuddin. Pada dasarnya memang Ahsan dan Asmawi adalah anak-anak yang cerdas. Selain cerdas, keduanya juga rajin dan punya rasa ingin tahu yang besar, terlebih lagi pada ilmu pengetahuan. Ketika berusia 14 tahun, sekitar tahun1857 Ahsan dan Asmawi, berangkat menuju ke Pondok Sukunsari Pohjentrek Pasuruan. Jarak antara Sentong ke pondok tersebut sekitar 70 km. Ahsan dan Asmawi sudah tentu berjalan kaki. Ahsan dan Asmawi belajar dan mengabdi di pondok yang diasuh KH. Mohammad Tamim itu. Keduanya hidup sederhana di pesantren itu. Mereka juga gemar menabung. Tabungan disimpan di kamar; ditempatkan di atas loteng. Suatu ketika, Kyai Tamim berencana merenovasi bangunan pondok. Biayanya cukup besar. Kyai Tamim akhirnya mengutarakan niat tersebut pada para santri beliau, siapa tahu ada yang bisa membantu memberi pinjaman. Setelah majelis selesai, keduanya bergegas menuju kamar. Simpanan uang yang diletakkan di kamar mereka ambil tanpa dihitung terlebih dahulu. Mereka menghadap Kyai Tamim untuk menyerahkan semua uang simpanan itu. Kyai Tamim merasa terharu dan memanjatkan do`a kepada Allah Swt untuk keduanya. NGAJI DI BANGKALAN Selepas menuntut ilmu di Sukunsari, Ahsan dan Asmawi melanjutkan ngaji di pondok Bangkalan Madura. Dengan berjalan kaki, kemudian menyeberangi laut, mereka berangkat Pondok Bangkalan Madura. Mereka mengaji kepada Syaikhona KH. Mohammad Kholil. Saat itu tahun 1860/1861. Selama berada di Madura, selain berguru pada Kyai Kholil, Ahsan sempat berguru pada Syeikh Chotib Bangkalan dan juga KH. Jazuli Madura. Sebenarnya ada guru Ahsan yang bernama Syekh Nahrowi di Sepanjang Surabaya dan Syekh Maksum dari Sentong, desa kelahiran Ahsan. Sangat disayangkan tidak ada penjelasan mengenai di mana dan kapan Ahsan berguru kepada Syekh Nahrowi. Tidak diketahui juga kapan dan di mana Ahsan berguru pada Syekh Maksum. Jadi persoalannya ialah kapan dan di mana Ahsan berguru pada Syekh Nahrowi dan Syekh Maksum. Selama tiga tahun berada di Bangkalan, suatu ketika Asmawi ingin lebih memperdalam lagi ilmunya. Asmawi selalu bertanya-tanya, mengapa Ahsan selalu lebih cepat menghafal dan menangkap pelajaran daripada dirinya. Dalam pikirannya Asmawi menganggap Ahsan lebih cerdas dan sulit dilampaui kecerdasannya oleh Asmawi. Setiap pelajaran kitab yang dipelajari, Ahsan selalu saja terlebih dahulu paham Asmawi bertekad untuk menambah ilmunya. Tempat tujuan itu hanya satu dan cukup jelas di pikiran Asmawi: Makkatul Mukarromah. Tahun 1863, berangkatlah Asmawi sendirian menuju Makkatul Mukarromah untuk menunaikan Ibadah Haji di samping akan memperdalam ilmunya. Girang benar perasaan Asmawi. Sementara di Bangkalan, Ahsan melepas keberangkatan Asmawi dengan perasaan bangga memiliki saudara sepupu yang haus ilmu. Di hati kecilnya, saat itu muncul pula keinginan untuk menyusul saudaranya itu ke Mekkah. Namun waktu itu menyusul berangkat Asmawi adalah sesuatu yang sangat sulit. Ahsan pun bermunajat pada Allah Swt memohon agar dapat menyusul saudaranya itu. Tidak lama setelah Asmawi berangkat, Ahsan dipanggil pulang ke Sentong oleh sang ibunda. Ibunda menasehati, jika hendak ke Mekkah, maka Ahsan harus giat mencetak genteng dan terpaksa tidak kembali ke Bangkalan. Pilihan itu memang sulit. Ahsan pun melakukan istikharah (mohon petunjuk) kepada Allah Swt. Dari istikharah itu, Allah memberikan satu petunjuk dengan suatu kalimat yang ditampakkan pada Ahsan. Isinya adalah kalimat If`al Laa Taf`al (kerjakan dan jangan kerjakan). Dari isyarat itu, Ahsan menarik suatu kesimpulan bahwa bekerja di rumah atau tetap meneruskan mondok dan tidak bekerja adalah sama saja. Berangkat ke Mekkah guna menuntut ilmu juga akan tetap terlaksana jika Allah menghendaki. Atas kesimpulan itu, Ahsan memilih untuk meneruskan mondok saja. Akhirnya Ahsan kembali menuju ke Bangkalan. Setibanya di Bangkalan, Ahsan langsung menghadap kepada Kyai Kholil untuk mengadukan hal tersebut sekaligus memohon doa kepada Kyai Kholil, supaya Allah segera mentakdirkan keberangkatannya ke tanah suci dan terlaksana dengan mudah. Kyai Kholil pun mendo`akan niat dan harapan itu. Selanjutnya Ahsan kembali melakukan aktifitasnya sebagai santri. Selang beberapa waktu, ibunda kembali menyuruh Ahsan untuk pulang lagi. Ahsan mendapati bahwa ongkos pembiayaan ke Mekkah sudah cukup tersedia, meski hanya cukup untuk ongkos perjalanan saja. Namun karena kegigihan dan bulatnya tekad Ahsan, maka Ahsan tetap berangkat dengan biaya tersebut. Ahsan pun berpamitan pada ibundanya dan Kyai Kholil. Ahsan berangkat ke Mekkah sekitar tahun 1864. Di Mekkah, Ahsan kembali berkumpul saudaranya, Asmawi. Asmawi gembira mendapati saudaranya juga ditakdirkan oleh Allah juga tiba untuk menuntut ilmu di Mekkah sekaligus menunaikan ibadah haji. Namun hati kecilnya mengatakan bahwa ia akan kembali kalah dalam menerima ilmu pengetahuan kepada Ahsan. Asmawi yang tiba lebih dulu dan telah mengetahui seluk beluk Mekkah, selang beberapa hari setelah Ahsan tiba kemudian mengajak Ahsan untuk bertamu pada salah satu temannya yang bernama Abdul Qohar. Setelah bertemu ternyata oleh Asmawi keduanya dipertemukan untuk ber-mujadalah (debat). Berlangsunglah mujadalah itu dan hasilnya semua persoalan mujadalah dapat diselesaikan dengan baik oleh Ahsan. Lawan debatnya mengakui kemampuan ilmu yang dimiliki Ahsan. Di tengah perjalanan pulang, Ahsan bertanya pada Asmawi kenapa dirinya diadu-debat. Untuk menutupi maksudnya menguji kemampuan Ahsan, Asmawi berkelit bahwa pertemuan itu hanyalah ajang musyawarah. Asmawi semakin yakin bahwa Ahsan memang memiliki kemampuan yang luar biasa, namun perdebatan itu masih belum cukup untuk membuktikan hal tersebut. Akhirnya Asmawi kembali mengajak Ahsan untuk ber-mujadalah. Kali ini dengan seorang keturunan Magrabi yang telah bermukim di Mekkah selama 40 tahun, dia seorang ulama yang alim di Mekkah. Ahsan yang memang tidak pernah berprasangka buruk pada siapapun menurut saja ketika dirinya diajak bertamu pada ulama tersebut dan tidak mengetahui maksud pertemuan itu. Seperti pertemuan dengan orang sebelumnya, pertemuan itu kembali berlangsung dengan mujadalah. Pertemuan yang dimulai sejak pagi setelah sholat dluha itu berlangsung jam demi jam hingga berlangsung hingga waktu sholat Dluhur, dan berjamaahlah mereka bertiga. Setelah sholat, mujadalah kembali berlangsung. Setiap pertanyaan yang dialamatkan pada Ahsan secara bertubi-tubi dari ulama itu dijawab dengan baik oleh Ahsan. Dalam hatinya ulama itu mengakui kecerdasan Ahsan. Di ujung mujadalah, Ahsan hendak mengajukan pertanyaan untuk dijawab oleh sang ulama lawan debatnya, namun tak dapat dijawab. Serta merta ulama tersebut berkata, ”Sungguh dia adalah pemuda yang benar-benar ’alim!” Ahsan kemudian meminta kakandanya itu tidak lagi mempertemukan Ahsan dengan orang-orang jika tujuannya adalah mujadalah. Demi mendengar permintaan itu, Asmawi kemudian berjanji tidak akan mengulangi hal tersebut. Ahsan kemudian berguru pada beberapa orang syekh terkemuka di Mekkah di samping pada beberapa orang ulama Indonesia yang bermukim. Guru-guru mereka selama menuntut ilmu di Mekkah adalah KH. Mohammad Nawawi bin Umar Banten, KH. Marzuki Mataram, KH. Mukri Sundah, Sayyid Bakri bin Sayyid Mohammad Syatho Al-Misri, Habib Husain bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi, Syekh Sa`id Al-Yamani Mekkah, dan Habib Ali bin Ali Al-Habsyi. Nama terakhir ini adalah guru Ahsan ketika sempat bermukim di Madinah. Sejak kecil Ahsan dan Asmawi memang mempunyai tanda-tanda bahwa keduanya memiliki keistimewaan yang akan berguna bagi masyarakat suatu saat nanti. Kelak hal itu benar-benar terbukti, masyarakat tidak lagi memanggil dua orang itu dengan nama Ahsan dan Asmawi. Masyarakat telah mengenal dua orang tokoh dan ulama besar itu dengan nama KH. Mohammad Hasan Genggong dan KH. Rofi’i Sentong. Selama berguru sejak kecil hingga berada di Mekkah, Ahsan memiliki banyak sahabat. Selain Asmawi, banyak lagi sahabat-sahabat lainnya seperti KH. Hasyim Asy`ari Tebuireng Jombang, KH. Nawawi Sidogiri Pasuruan, KH. Nahrowi Belindungan Bondowoso, KH. Abdul Aziz Kebonsari Kulon Probolinggo, KH. Syamsul Arifien Sukorejo Situbondo, KH. Sholeh Pesantren Banyuwangi, KH. Sa`id Poncogati Bondowoso, Kyai Abdur Rachman Gedangan Sidoarjo, Kyai Dachlan Sukunsari Pasuruan, dan Habib Alwie Besuki. Setelah pulang ke tanah air, Ahsan kemudian berganti nama Kyai Haji Mohammad Hasan. Ia kemudian menikah dengan putri KH. Zainul Abidin yang bernama Nyai Ruwaidah. Sejak pernikahan inilah KH. Mohammad Hasan membantu mertuanya dalam membina pesantren. Beliau mengembangkan sistem pendidikan pesantren salafiyah (tradisional) dengan metode pembelajaran dan pendidikan klasikal. KH. Mohammad Hasan dikenal sebagai salah satu Mursyid Thariqah Tijaniyah, sebuah thariqah yang berasal dari daerah Tijani, Maroko. Sekalipun thariqah ini sempat diperdebatkan diperselisihkan oleh sebagian ulama dan habaib Jawa Timur, karena keterkaitan sanadnya melalui mimpi bertemu Rasulullah Saw. Akhirnya melalui berbagai forum, Thariqat Tijaniah disahkan sebagai salah satu Thariqah yang diakui dan menjadi thariqah yang muktabar (sah mempunyai keterkaitan sanad) bersambung sampai Rasulullah Saw. Saat ini Mursyid Thariqah Tijaniyah diampu oleh KH Soleh Basalamah, Ponpes Darussalam, Jatibarang, Brebes-Jawa Tengah. Beliau menjadi pengasuh pesantren cukup lama, sejak wafatnya KH. Zainul Abidin tahun 1890-1952 M. KH. Mohammad Hasan wafat pada malam Kamis, jam 23.30 tanggal 11 Syawal tahun 1374 h/01 Juni 1955 M dan dimakamkan di komplek Ponpes Genggong, Probolinggo,Jawa Timur. Saat ini Ponpes Genggong diasuh oleh KH. Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah, yang juga dikenal sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul ’Ulama (PWNU) Jawa Timur. (***)Aji Setiawan KH Ageng Mohammad Hasan Besari Pejuang dari Pesantren Tegalsari, Gontor Ponorogo Dia salah seorang ulama yang menjadi penerang umat di zamannya. Cahaya keilmuan dan ahlaqnya menjadi teladan bagi mereka yang mengikuti jejak ulama salaf Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari merupakan pendiri pesantren Gebang Tinatar atau Tegalsari. Pesantren ini berada di di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo Kiai yang melahirkan ulama dan pujangga Tanah Jawa ini membuat luluh Paku Bowono IV. Belanda menuduhnya pembangkang dan suka main hakim sendiri. Mengapa? Tahun 1800-an, Pesantren Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur, merupakan pesantren terbesar di Jawa. Ribuan santri yang mondok di pesantren yang dipimpin Kiai Hasan Besari (Kasan Besari dalam pengucapan orang Jawa) ini berasal dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Banyak putra bupati dan bangsawan baik dari Keraton Surakarta, Yogyakarta, maupun Mangkunegara. Salah seorang di antara mereka adalah Bagus Burhan, yang kemudian terkenal dengan nama Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873), berguru dan nyantri selama beberapa tahun (baca: Bintang Zaman “Perjalanan Spiritual Ronggowarsito”). Bagus Burhan adalah cucu Kiai Yasadipura II yang punya hubungan akrab dengan Kiai Hasan Besari. Sejak kecil hingga masa tuanya, selalu bekerja-sama, termasuk saat penyusunan naskah Serat Centhini – ensiklopedi pengetahuan Islam di Jawa dalam seribuan halaman – yang dikerjakan atas inisiatif bersama dengan Sunan Paku Buwono IV (1788-1820). Selain Ronggowarsito, ada pula santri Kiai Hasan Besari yang terkenal. Yaitu Bagus Darso atau Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo, pendiri Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, di tahun 1830. . Ada pula santri beliau bernama Kiai Mujahid yang kemudian menjadi pengasuh Pesantren Sidoresma, Surabaya. Kasan Besari lahir sekitar tahun 1760-an. Beliau keturunan dari Pendiri Kerajaan Majapahit dan Ibunya dari Baginda Rasulullah ,dari jalur Ayah (Kiai R. Nedo Kusumo), Kiai Ageng merupakan keturunan ke-31 dari pendiri Kerajaan Majapahit yaitu Raden Wijaya. Sedangkan dari garis keturunan Ibu (Nyai Anom Besari), nasabnya sampai kepada Rasulullah Saw keturunan ke-48 melalui garis Sayyidati Fatimah Az-Zahro. Ia adalah cucu pendiri Pesantren Tegalsari, Kiai Ageng Muhammad Besari (wafat 1773). Ayahnya adalah Kiai Ilyas (wafat 1800) yang melanjutkan kepemimpinan pesantren pasca wafatnya sang pendiri. menghabiskan masa mudanya berguru kepada ayah dan kakeknya sebelum akhirnya memegang tampuk kepemimpinan pesantren mulai tahun 1800 hingga wafatnya. Selama nyantri sama kekeknya, Kiai Hasan Besari satu seperguruan dengan pujangga kenamaan Yasadipura II (wafat 1844). Kasan Besari tidak disenangi oleh Pemerintahan Belanda, baik VOC maupun setelah berubah menjadi Pemerintahan Hindia Belanda. Kasan Besari berusaha untuk menegakkan hukum Islam di Tegalsari, yang merupakan desa perdikan. Penegakan hukum Islam tersebut bertujuan untuk menciptakan masyarakat lebih tertib, aman, dan lancar. Namun demikian, tindak tegas ini mengandung resiko karena bermunculan kelompok-kelompok masyarakat yang kurang senang. Pemerintahan Hindia Belanda menyatakan bahwa tindakan Kasan Besari adalah salah dan bertentangan dengan hukum yang berlaku. Kemudian Kasan Besari dituduh sebagai pembangkang dan suka main hakim sendiri. Paku Buwono IV (1788-1820) yang sudah termakan hasutan Pemerintah Belanda, memanggil dan menghukum Kasan karena dianggap melanggar aturan. Kasan Besari ditahan di penjara Surakarta untuk sementara waktu. Pemerintah memutuskan Kasan Besari akan dihukum selong atau dibuang atau diasingkan ke luar daerah. Rencananya Kasan Besari akan dibuang ke luar Jawa tapi anehnya setiap kapal yang akan membawanya berlayar dari Batavia a tidak bisa jalan begitu ia naik. Hal tersebut terjadi berulang-ulang. Murid-murid atau santri Kasan Besari juga melakukan protes dan meminta pembebasan untuk Kasan Besari yang menurut mereka tidak bersalah. Akhirnya Kasan Besari kembali ditahan di Keraton Surakarta tapi ditempatkan di masjid. Diceritakan, suatu saat, Keraton mengadakan sholawatan. Kiai Kasan Besari ditunjuk sebagai imam. Suaranya membuat Paku Buwono IV, yang terkenal dengan bukunya Wulanggreh, terpikat kepadanya. Kasan Besari bukan hanya dibebaskan, tapi juga dikawinkan dan diambil menenatu oleh Paku Buwono IV. Ia dinikahkan dengan Raden Ayu Cokrowioto, kemenakan Susuhan. Setelah itu Kasan Besari memboyong istrinya yang putri Keraton itu ke Tegalsari. Salah satu sumbangan istri Sang Kiai adalah masuknya ilmu keterampilan membatik ke dalam pesantren. Waktu itu seni membatik baru terbatas dalam kehidupan keraton. Ketika sang istri beserta pengiringnya dari istana memperkenalkan batik, para santri pun – terutama santri-santri putri – ikut belajar membatik, sehingga menjadi bagian dari ilmu yang dipejari di Pesantren Tegalsari. Sejak itu masyarakat Ponorogo pun merasakan dampak yang besar yang diberikan keterampilan batik ini bagi kehidupan perekonomian mereka. sosok Kiai Ageng Hasan Besari pandai dalam berbagai keilmuan, di antaranya agama (tasawuf), ketatanegaraan, strategi perang dan kesusastraan sehingga beliau dikenal banyak orang dari penjuru Nusantara, mereka h-duyun menimba ilmu kepadanya. Kiai Hasan Besari melahirkan tokoh-tokoh, pertama Pakubuwana II, Sultan Kartasura yang berkancah dalam dunia politik. Kedua, Bagus Burhan atau Raden Ngabehi Ronggowarsito, sastrawan Jawa yang menciptakan kidung Zaman Edan. Dan ketiga, H.O.S Cokroaminoto, tokoh pergerakan nasional pendiri Sarikat Islam. Kemudian ketiga tokoh ini menginspirasi sang Proklamator, Ir.Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tidak lepas dari itu, keilmuan Kyai Ageng Hasan Besari juga sampai pada KH. Hasyim Asy'ari. Adabul Alim wal Muta'alim karya KH. Hasyim Asy'ari masih ada keterkaitan dengan Krama Negara karya Kyai Ageng Hasan Besari, yang keduanya bermuara pada Kitab Silakrama karya Empu Prapanca. Kyai Ageng Hasan Besari wafat pada 12 Selo 1165 H (1747 M), dimakamkan di Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Makamnya menjadi wisata religi yang ramai dikunjungi oleh para peziarah, terutama saat malam Jumat. Selepas Kiai Kasan Besari wafat Pesantren Tegalsari lambat laun mengalami kemunduran sebelum akhirnya punah. Namun, di antara anak turun Kiai Kasan Besari, ada yang membuka pesantren baru sebagai pengembangan dari Pesantren Tegalsari di daerah Gontor, Ponorogo. Pesantren yang bermula bercorak salafiyah sebagaimana pesantren induknya ini, kemudian dikembangkan oleh tiga bersaudara, yang keseluruhannya merupakan keturunan Kasan Besari, yaitu Ahmad Sahal, Zainuddin Fanani, dan Imam Zarkasy. Itulah Pondok Moderen Gontor Ponoroga yang masyhur itu. (***) Aji Setiawan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN