Qenna tercenung, saat sepasang manik matanya melihat lukisan yang di buat oleh putrinya itu. Ada makna yang tersirat, dari genggaman tangan di antara gambar si Ibu dan ayahnya. Ia tahu bahwa Qiara menginginkan situasi seperti dalam gambar. "Gimana Mama? Lukisan Qia bagus, kan? Qia akan memajang lukisan ini di kamar, agar Papa di alam sanak melihat dari jauh bahwa Qia sangat merindukan Papa," tutur Qia, seraya melihat pada sosok gambar pria yang ia buat."Papa pasti senang." Sorotan mata Qenna menatap nanar pada sembarangan arah. Berusaha menghindari dari Qiara yang sedang menghayal dengan lukisannya itu. Qenna tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada sang anak. Ia benar-benar mendambakan sosok seorang ayah. Tetapi, kembali pada dia? Qenna sungguh tidak mau lagi. Apa jadinya jika Qia tahu

