BAB 3

1402 Kata
“ Kamu tidak apa-apa.? " Tanya Alex saat melihat Aisyah tersungkur di depan mobilnya. Aisyah terlihat meringgis kesakitan sambil memegangi kepalanya. Saat ini, kepalanya sangat pusing dan pandangannya kabur, ia bahkan tidak bisa melihat wajah Alex dengan jelas. Saat Aisyah menoleh kebelakang, samar-samar terlihat olehnya lelaki tadi sudah hampir sampai di dekatnya. Ia pun langsung panik. “ Tuan, tolong saya Tuan. Dua lelaki itu orang jahat, mereka mengejar dan ingin menangkap saya. Tolong saya tuan, bawa saya pergi dari sini saya mohon." Pintanya menangis sambil melipat tangannya memohon bantuan pada Alex yang sedang berdiri di depannya. Alex tidak menjawab, ia tahu kedua lelaki yang mengejar Aisyah itu adalah anak buah Gery sang Mucikari, Alex sangat mengenalnya. “ Tuan. Kasihanilah saya, orang-orang di sini tidak ada yang perduli pada saya Tuan. " Aisyah tidak berhenti memohon pada Alex. Namun, pria itu sama saja. Ia tidak perduli padanya juga. Hingga akhirnya, Aisyah berpikiran ingin lari lagi dari sana, Namun, saat ia berdiri dan hendak kabur, tiba-tiba tubuhnya sudah hilang keseimbangan dan ambruk lagi ke aspal. Mungkin karena reaksi obat dan minuman yang tadi di minumnya. Ia juga sudah kehabisan tenaga untuk berlari, apa lagi di tengah hujan yang membuatnya kaku dan kedinginan. Hingga akhirnya, Aisyah pun jatuh pinsang. “ Siapa gadis ini.? " Tanya Alex pada kedua anak buah Gery. “ Gadis yang di siapkan Bos Gery untuk menghibur Tuan Alex, malam ini " ucap salah seorang dari mereka. Alex tersenyum menyunggingkan bibirnya, ia tahu gadis yang dipilihkan Gery untuknya adalah gadis Perawan. “ Oh, kalau begitu bawa dia ke mobilku. " Perintah Alex. Dua pria tadi segera mengangkat Aisyah dan memasukkan ke dalam Mobil Alex untuk dibawah kembali ke Club. Setalah sampai di Club, kedua anak buah Gery sudah lansung tahu tugas apa yang harus mereka kerjakan. Mereka membawa Aisyah kembali masuk kedalam kamar tadi dan tidak lama kemudian Alex juga menyusul masuk ke sana. “ Sudah siap, Tuan " ucap kedua pria tadi kepada Alex. Alex mengangguk. Setelah meraka pergi, ia segera mengunci pintu lalu menghampiri Aisyah. Dilihatnya Aisyah terbaring pinsang di atas ranjang. Hanya tertinggal pakaian dalamnya saja yang masih melekat pada tubuhnya saat itu. Jilbab yang tadinya menutupi kepalanya kini sudah dilempar entah kemana. Pria tampan itu kemudian membelai pipi Aisyah dengan lembut, pipinya yang memerah terasa masih basah. Matanya juga terlihat sembab, mungkin karena terlalu lama menangis. Alex tersenyum saat memandangi setiap lekuk di wajahnya. “ Hmmmm, cantik juga dia. " Ujarnya. Kemudian dipandangi seluruh bagian tubuh Aisyah dari kepala hingga ujung kaki. Alex pun mulai tergoda dengannya, ia tidak menyangka gadis berjilbab dan berpakaian serba tertutup tadi mempunyai bentuk tubuh yang sangat indah. Beruntung sekali, ia bisa menikmatinya malam itu. Kemudian, tanpa mengulur waktu lagi. Alex segera menyelesaikan hajatnya. Ia menghabisi Aisyah diatas ranjang yang berukuran kecil itu dalam keadaan tidak sadarkan diri. Alex melakukannya tanpa rasa iba, yang dilakukan olehnya adalah dimana hasratnya bisa terpenuhi malam itu. Aisyah yang malam, kini telah kehilangan mahkota berharganya. Lagi-lagi kesucian seorang gadis berhasil di renggut oleh Alex, ia tersenyum puas saat melihat bercak darah melekat di pangkal paha Aisyah. “ Ternyata, gadis ini benar-benar masih virgin." Gumamnya. Aisyah yang tengah pinsang, belum menyadari apa yang sedang terjadi padanya saat itu. Ketika hari hampir subuh, Aisyah pun mulai sadar. Ia membuka matanya perlahan, Aisyah bingung dimana ia berada saat itu. Begitu melihat ke sekeliling, tiba-tiba ia teringat dengan ruangan itu. Ya, tempat dimana kedua pria tadi membawanya pertama kali. Aisyah terkesiap dan hendak bangkit dari tidurnya. Tiba-tiba, ia merasa ada rasa nyeri dibawah sana. Perasaannya mulai tidak enak, baru saja ia menyingkap selimut dan alangkah kagetnya, saat ia menyadari tunuhnya polos tanpa sehelai benang pun yang melekat. “ Ya Allah, apa yang terjadi. ?" Ujarnya panik. Saat ia hendak mencari pakaiannya kembali, tampak seorang pria sedang duduk di sofa kamar sedang memperhatikannya sambil merokok. Pria itu hanya bertelanjang d**a dan memakai bokser. Aisyah sangat panik dan mulai takut, ia kemudian segera menggulung tubuhnya menggunakan selimut agar pria itu tidak lagi melihat auratnya. “ Kamu siapa ? A... Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada disini, bersamamu ? " Tanya Aisyah gelagapan dengan air mata yang sudah menggenang. Alex kemudian mematikan asap rokoknya diatas asbak, kemudian berjalan mendekati Aisyah di tepi ranjang. Setelah itu, dibelainya wajah Aisyah dengan lembut menggunakan punggung jarinya. Aisyah mencoba mengelak. “ Apa kamu lupa sayang, barusan kita habis bersenang-senang. " Ujarnya berbisik di telinga Aisyah. Bagai petir yang menyambar di telinga Aisyah saat mendengar ucapan Alex, air matanya yang tergenang akhirnya jatuh juga. Merasa tidak percaya dengan ucapan pria itu, Aisyah mencoba memeriksa kembali bagian tubuhnya yang berada di dalam selimut. Dan ternyata benar, selain tubuhnya yang nampak polos, ada bercak darah juga di pangkal pahanya. “ Tidak, tidak mungkin. Ini semua tidak mungkin terjadi, kenapa kamu melakukan ini padaku? Kenapa kamu memperkosaku.?" Teriaknya menangis histeris dengan tubuh bergetar. Alex yang merasa kesal karena dituduh memperkosa, lansung mencekram pipi Aisyah menggunakan sebelah tangannya dengan kasar. “ Hei, perempuan murahan. Apa kamu bilang tadi ? Aku memperkosamu.? Dasar tidak tahu diri, kamu itu hanya wanita penghibur yang sudah kubayar mahal, paham. Tidak ada istilah pemerkosaan dalam diniamu, kamu mengerti.? " Alex kemudian melepaskan kembali cengkraman tangannya dari wajah Aisyah dengan kasar . Hancur sekali hati Aisyah saat ini, ia tidak menyangka kehormatan yang selama ini ia jaga kini telah di renggut oleh lelaki yang bukan mahramnya. Air matanya mengalir bagai hujan tanpa henti, bibirnya kelu tak tahu harus berkata apa lagi. “ Berhenti kamu menangis di depanku, karena aku tidak akan kasihan padamu. Sekarang, kamu nikmatikah pekerjaan ini, lama-lama kamu pasti akan suka." Ujar Alex sambil mengenakan kembali pakaiannya bersiap-siap untuk pergi. Tangis Aisyah makin pecah, sakit sekali hatinya mendengar ucapan pria itu. “ Hey, kenapa kamu masih menangis ?Berhentilah, aku sudah sangat hapal dengan wanita-wanita sepertimu. Awalnya nangis-nangis karena kehilangan keperawanan, padahal dia sendiri yang telah menjualnya demi uang. Kalau kamu ingin uang tip dariku, bilang saja, aku akan memberikannya. " Ucap Alex. Kemudian, ia merogoh dompet di kantong celananya. Lalu mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan, kemudian melemparkannya ke wajah Aisyah yang masih menangis. “ Ini tipku untukmu. Anggap saja, sebagai ungkapan terimakasih ku karena kamu telah memuaskanku, malam ini " ujarnya tersenyum menyunggingkan bibirnya. Setalah itu, Alex bersiap-siap untuk pergi meninggalkan Aisyah. Begitu ia membalik badan, Aisyah lansung mencegah tangannya. “ Tuan, jangan tinggalkan saya disini, saya mohon Tuan. Saya bukan perempuan murahan seperti yang tuan tuduhkan. Saya berada disini karena dijual oleh Paman saya, tolong bawa saya keluar dari tempat ini, tolong kasihanilah saya tuan. Saya mohon. " Ujarnya memohon pertolongan pada Alex. Alex kemudian kembali tersenyum menyunggingkan bibirnya. “ Hah, yang benar saja kamu. Apakah kamu pikir aku ini kurang kerjaan, sampai harus membawa wanita penghibur sepertimu keluar dari sini. Menambah beban hidupku saja, kamu tahu.?" Alex mencoba melepaskan genggaman tangannya dari Aisyah, tapi Aisyah tidak mau melepaskan. “ Tuan, saya mohon kasihanikah saya. Saya janji, suatu saat nanti akan membalas kebaikan Tuan bagaimana pun caranya. Saya takut berada disini Tuan, saya bukan wanita penghibur Tuan, Demi Allah hanya Tuan satu-satunya lelaki yang pernah menjamah tubuh saya. " Alex terdiam, ia mulai kasihan pada Aisyah. Ia pun sebenarnya bisa merasakan kalau Aisyah memang belum pernah dijamah lelaki lain selain dirinya. “ Maaf, aku tidak bisa membantu mu. Lagi pula, kamu mana bisa keluar dari tempat ini tanpa uang jaminan. Apa kamu punya uangnya.? " Ujar Alex. Aisyah makin takut saat mendengar ia tidak bisa keluar dari tempat itu tanpa jaminan, dari mana ia akan mendapatkan uang saat itu, sedangkan sepersen pun ia tidak punya. “ Tuan, saya tidak punya uang sepersen pun saat ini. Tolong Tuan, pinjamkan saya uang. Saya janji saya akan menggantinya, saya tidak akan melupakan jasa Tuan. Saya janji, atau Tuan bisa menjadikan saya pembantu. Saya bisa mengerjakan apa saja, percayalah. Saya sangat takut berada disini, tolonglah Tuan " Aisyah terus menangis sambil melipat tangannya memohon pada Alex. Alex berpikir sejenak. “ Oke, aku akan membantumu keluar dari sini, tapi dengan satu syarat. " Aisyah mulai menaruh harapan. “ Apa syaratnya Tuan ? Saya pasti akan melakukannya. " Ujarnya bersemangat. “ Syaratnya, kamu menjadi simpananku dan melayaniku dengan baik kapanpun aku ingin bersenang-senang denganmu." Aisyah terdiam membisu saat mendengar persyaratan dari Alex, dua pilihan itu sama saja. Harga dirinya sama-sama tidak ada artinya . Air mata Aisyah kembali berderai membayangkan betapa malangnya nasibnya. Lepas dari kandang harimau, masuk ke kandang buaya. Ia benar-benar bingung pilihan mana yang harus diambilnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN