Setelah mendengar apa yang dikatakan Abian, Nada menjadi bingung sendiri. Kenapa pemuda yang telah sah menjadi suaminya itu, tiba-tiba saja berubah? Padahal, di luar sana sedang tidak ada angin tidak ada hujan.
Tangan Nada pun tergerak lalu memegang dahi Abian. "Udah enggak panas, kok," gumamnya, membuat Abian tersenyum.
Pemuda itu dapat membayangkan, meski tak dapat melihat, jika saat ini wajah istrinya itu pastilah nampak sangat lucu. Tunggu-tunggu, istrinya? Sejak kapan Abian mengakui jika Nada adalah istrinya?
Pemuda itu pun menghela napas panjang. "Maafkan atas sikapku beberapa hari ini, Nad," kata Abian yang membuat Nada semakin kebingungan.
"Apa gara-gara masuk angin, seseorang bisa tiba-tiba berubah?" gumam Nada bertanya pada dirinya sendiri dengan sangat lirih, tetapi karena jarak mereka berdua sangat dekat, Abian masih dapat mendengar dengan baik.
Pemuda itu kembali tersenyum. "Tentu saja bisa, Nada. Karena semalam aku masuk angin, aku jadi semakin tahu jika kamu adalah wanita yang tulus. Rasanya tidak pantas jika aku terus saja menyakitimu dengan bersikap ketus seperti yang sudah-sudah. Sekali lagi, aku minta maaf, Nad."
Nada terdiam, mencerna perkataan Abian. Sementara pemuda itu juga diam, menunggu respons dari Nada. Keheningan yang sejenak tercipta itu pun membawa ingatan Abian kembali ke masa beberapa hari, setelah dia dan Nada resmi menjadi suami istri.
"Maaf, Den Aji. Tak seharusnya Aden bersikap seperti ini pada saya. Saya ini wanita bersuami, meski saya sadar suami saya tidak pernah mengharapkan diri saya. Tapi, sebagai seorang istri saya harus tetap menjaga kehormatan suami saya," kata Nada dengan lantang ketika Aji hendak berbuat yang tidak senonoh padanya.
"Hahaha ... kehormatan? Kehormatan yang seperti apa yang kamu maksudkan, Manis? Abian sudah tidak memiliki kehormatan lagi, sejak dia kehilangan penglihatan! Dia itu hanyalah pemuda menyedihkan, yang ditinggal kabur oleh tunangannya! Sayang sekali jika wanita secantik kamu harus menghabiskan waktu bersama pemuda buta seperti dia, Nad! Mending, kamu sama aku saja, Nada!"
"Lebih baik, saya menghabiskan waktu dengan pemuda yang buta penglihatannya, daripada saya harus menghabiskan waktu dengan orang yang buta mata hatinya seperti Anda, Den Aji! Setidaknya, Den Bian adalah pria yang baik. Dia pria sejati karena tidak melecehkan wanita seperti Anda!"
Abian yang mendengar perdebatan tersebut, menghela napas berat. Dadanya terasa sesak mendengar sang kakak berkata seperti itu tentangnya. Meski sebelumnya pemuda itu sudah tahu, jika sang kakak memang tidak pernah menyukai keberadaan Abian yang dianggap telah menyingkirkan Aji di keluarga besar Brata.
Abian juga tahu, jika sang kakak sangat bahagia atas musibah yang menyebabkan kebutaan pada kedua matanya itu. Dia juga mengetahui, Aji bersorak girang ketika mengetahui jika Zizi pergi meninggalkan Abian, tepat sepuluh hari sebelum acara pernikahan. Akan tetapi, selama ini Abian hanya memendam sendiri, dan membiarkan Aji berbuat semaunya.
Hanya saja saat ini, Abian tiba-tiba merasa ikut sakit hati ketika Aji hendak melecehkan Nada. Pemuda itu hendak keluar dari kamar mandi, tetapi dia urungkan ketika suara tegas Nada kembali terdengar. Ya, Aji tiba-tiba masuk ke kamar Abian di saat pemuda itu sedang berada di kamar mandi, dan kakaknya tersebut bermaksud merayu Nada untuk diajak tidur bersama.
"Saya tegaskan sekali lagi pada Den Aji jika saya tidak akan tergoda dengan Anda, Den, meski Den Aji mengiming-imingi saya uang banyak seperti yang Den Aji lakukan kemarin. Perlu Aden ingat, saya menikah dengan Den Bian memang karena perjodohan untuk melunasi utang orang tua saya, tapi saya bukanlah wanita yang silau dengan harta. Meski keluarga Ndoro Brata akan menyingkirkan Den Bian seperti selentingan yang sering saya dengar dari saudara-saudaranya dan tanpa sepeser pun harta, saya akan tetap setia mendampingi Den Bian karena dia suami saya."
Abian terpaku di tempatnya mendengar perkataan Nada. Ini bukan kali pertama Nada membelanya. Kemarin, ketika budhe-budhe dan kakak-kakak sepupunya membicarakan keburukan Abian, Nada pun berani membela pemuda itu.
Satu lagi yang membuat Abian semakin bersimpati pada wanita kampung yang telah resmi menjadi istrinya itu, yaitu Nada senantiasa bersikap lembut pada Abian, meski dia memperlakukan Nada dengan sangat buruk. Bukan hanya karena belum dapat menerima kehadiran Nada, Abian bersikap buruk pada wanita belia itu, tetapi karena Abian sendiri sampai saat ini masih belum dapat menerima kebutaan yang dia alami, dan Nada, lah, yang menjadi pelampiasan kekesalannya.
Ya, saudara sepupu Abian tidak menyukai pemuda itu karena Abian ditunjuk sebagai ahli waris dari perkebunan teh milik Ndoro Brata karena dia putra dari satu-satunya anak laki-laki Ndoro Brata. Bukan Aji yang anak sulung karena Aji lahir dari rahim wanita yang tidak disukai oleh Ndoro Brata, yaitu mendiang istri pertama papanya Abian. Sementara saudara-saudara sepupu Abian, adalah anak dari budhe-budhenya yang sudah diberi modal banyak oleh Ndoro Brata untuk membuka usaha sendiri.
Sebenarnya, masing-masing telah mendapatkan bagiannya, dan semua sama banyak, termasuk bagian untuk Aji yang berupa usaha perhotelan di kota yang masih dikelola papanya karena Aji dinilai belum dapat bertanggungjawab. Hanya saja, hasutan dari Aji, serta keserakahan yang bercokol di hati masing-masing, membuat mereka seolah sepakat membenci Abian, dan bermaksud ingin mengambil semua harta yang akan diwariskan pada pemuda itu. Namun, untuk saat ini mereka belum berani bertindak lebih jauh pada pemuda buta itu karena Ndoro Brata masih ada.
"Den, tolong lepaskan tangan saya. Saya mau tidur di bawah saja." Suara lembut Nada, menyeret Abian dari lamunan panjangnya.
"Tidak, Nad. Mulai sekarang, kamu tidur di sini. Kita tidur di ranjang yang sama, Nad."
"A-apa, Den? Sa-saya tidak salah dengar, kan?"
Abian kembali tersenyum. Entahlah, mendengar kebingungan Nada melalui perkataan wanita belia itu, membuat Abian merasa terhibur. Dia dapat membayangkan jika wajah lugu itu pasti sangatlah lucu.
"Kok, Aden malah senyum-senyum gitu?"
"Kamu enggak salah dengar, Nad. Ayo, kita tidur lagi," ajak Abian kemudian seraya menepuk tempat kosong di sebelahnya, setelah pemuda itu bergeser untuk memberikan ruang pada Nada.
Tak ada pergerakan dari Nada, setelah cukup lama Abian menanti. Pemuda itu pun kembali membuka suaranya. "Kamu jangan khawatir, Nad, karena kita hanya akan tidur. Aku janji tidak akan meminta hakku jika memang kamu belum siap untuk menjadi istriku seutuhnya."
"Eh, siapa bilang saya tidak siap? Sejak ijab qabul terucap, saya sudah mempersiapkan diri, kok, untuk menjadi istri yang seutuhnya buat Aden. Den Bian saja yang memberi jarak pada kita dengan tidak mengizinkan saya tidur di ranjang yang sama dengan Aden. Aden sendiri juga 'kan yang waktu itu bilang, kalau Aden tidak akan tertarik dengan saya?"
Entah keberanian dari mana, Nada mengungkapkan semua isi hatinya, dan itu sukses membuat Abian tertawa, sekaligus berurai air mata. Abian tertawa karena merasa, apa yang disampaikan Nada itu lucu. Sementara air matanya mengisyaratkan penyesalan karena tanpa dia sengaja, Abian sudah menyakiti hati wanita yang telah dia nikahi.
Ya, sifat keras kepala yang dia miliki, rupanya telah menyakiti hati seseorang yang sama sekali tidak bersalah atas apa yang menimpa Abian. Abian bersikukuh bahwa hanya Zizi, lah, satu-satunya wanita yang sempurna di muka bumi ini, hingga Abian menolak Nada yang dia nilai hanyalah sebagai gadis kampung yang pasti tak menarik. Abian melupakan jika wanita yang sangat dia cintai itu, telah tega meninggalkan dirinya di saat dia sedang sangat terpuruk dan membutuhkan dukungan.
"Iya, Nad. Aku minta maaf atas ucapanku kala itu," kata Abian kemudian setelah beberapa saat. "Aku benar-benar menyesal, Nad. Kamu mau 'kan memaafkan aku?"
Nada mengangguk. Wanita belia itu lupa jika pemuda di hadapannya tak dapat melihat.
"Nad, kok diem aja? Kamu keberatan, ya, memaafkan aku? Tak mengapa, Nad. Aku bisa mengerti karena apa yang aku lakukan kemarin-kemarin itu memang keterlaluan."
"Eh, enggak, kok, Den. Saya sudah memaafkan Aden."
"Benarkah, Nad? Terima kasih, ya," kata Abian seraya tersenyum tulus. Senyum yang membuat pemuda itu terlihat semakin tampan dan menyenangkan untuk dipandang dan Nada terpesona memandangi ketampanan wajah suaminya tersebut.
"Yuk, bobok lagi!" Abian mengulang ajakannya dan Nada pun menurut.
Keesokan harinya, Nada merasakan jika sikap Abian mulai berubah padanya. Tak lagi acuh dan dingin seperti biasanya. Abian menjadi lebih perhatian dan tidak lagi merepotkan Nada.
"Den, keluarga Aden sebentar lagi mau pulang. Apa Aden mau saya antar keluar sekarang?" tawar Nada, setelah dia membantu Abian berpakaian.
"Boleh. Aku jalan aja, Nad. Tolong, ambilkan tongkatku," pinta Abian dengan melembutkan kata-katanya.
Nada tersenyum lalu mengambilkan alat bantu jalan untuk suaminya. Wanita belia itu kemudian mendampingi Abian keluar dari kamar untuk menemui keluarganya. Setibanya di ruang keluarga, Abian disambut hangat oleh kedua eyang, serta kedua orang pemuda itu.
Namun, tidak dengan Nada. Wanita belia itu langsung disuruh kembali ke kamar dan tidak diperbolehkan untuk bergabung. Aji tersenyum seringai, mendengar Nada diusir dari sana.
Nada pun segera berbalik dan tetap melangkah untuk kembali ke kamar, meski Abian sempat mencegah. "Tidak apa-apa, Den. Barangkali, keluarga Aden mau membicarakan masalah penting," bisik Nada, sebelum berlalu dari sisi Abian.
Baru saja Nada masuk ke kamar, tubuhnya telah diempaskan oleh tangan besar dengan kasar di atas pembaringan. Nada jatuh tertelungkup dan ketika wanita belia itu hendak bangkit, tubuh besar Aji telah menindihnya.
"Kamu milikku, Nada! Hanya milikku!"
bersambung ...