"Bayu ... dia tadi ngelamar aku," ucap Viona tanpa menatap ke arah Diana. Dan pengakuan gadis itu sukses membuat sang sahabat melotot sempurna. Seandainya kini tengah minum, pasti langsung menyemburkannya ke wajah di tekuk Viona. Menatap tak percaya ke arah Viona dengan wajat shoknya. "APA!!" pekik Diana. Karena terlalu kencang, sampai membuat Viona harus menutup telinganya. Kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Diana yang duduk tepat di sebelahnya. "Isshh ... nggak usah teriak-teriak, entar kalau ada yang denger gimana? Lupa, kalau ini di klinik?" ingatkan gadis itu. Walau dia sedang dalam kondisi kurang baik, tapi otak dan kesadarannya masih sehat. Mana mungkin dia mau menjadi pusat perhatian bahkan di kasihani atas apa yang di alaminya saat ini hanya karena sahabatnya yang sediki

