Rico mendengus kesal seraya menatap tumpukkan kertas di hadapannya. Pria itu menyender di kursi tempat kerjanya, seraya memijit pelipisnya yang terasa pening. Entahlah, akhir-akhir ini pria paruh baya itu seperti tidak ada gairah hidup. Sejak anak lelakinya minggat dari rumah, Rico selalu mengabaikan anak dan istrinya. Seperti saat ini, Amara sedari tadi duduk di sofa ruang kerja. Membujuk ayahnya untuk ikut liburan. "Ayolah, Ayah!" Amara bersikeras mengajak Ayahnya, tapi jawaban Rico tetap sama. 'tidak'. "Lagian kita udah lama nggak liburan bersama," ujar perempuan itu. Rico berdiri, dengan tatapan datar pria itu menghampiri Amara. Amara tersenyum dan ikut berdiri, ia kira Ayahnya akan setuju untuk berliburan bersama. Tapi, perlakuan ayahnya membuat ia tak percaya. Plak! Su

