Pattaya terbangun keesokan harinya. Dia merasakan miliknya seolah merenggang dan tidak sama. Ingatan tentang apa yang terjadi semalam bagai tamparan untuknya. Hatinya serasa diremas dan dia marah pada dirinya sendiri, bagaimana bisa dia sebodoh itu kemarin menyerahkan mahkotanya pada iblis seperti Jared, orang yang dia benci. Dia memiliki mimpi, di mana dia akan menyerahkan mahkotanya pada pria yang dia cintai dan mencintainya nanti. Walau dia hidup di dunia barat, tapi benaknya dipenuhi dengan angan-angan cinta sejati yang suci. Dan Jared sama sekali tidak termasuk di dalamnya. Air mata terasa menyengat di matanya, dia menghapusnya segera. Tiba-tiba sebuah lengan mendekap perutnya erat dan membawanya merapat pada d**a bidang yang terasa hangat. Nafas hangat menggelitik di telinga Patta

