Anak itu bungkam. Hanya tangisan dalam keheningan yang dia tampilkan. Suara makian, sumpah serapah dan semua kalimat yang tidak pantas dilontarkan pada anak kecil berumur enam tahun.
Anak itu tersentak nyeri saat bibinya kembali memukul punggungnya dengan balok kayu kasar berdiameter kira-kira sepuluh sampai lima belas sentimeter.
Anak itu hanya bisa mengepalkan lengannya dan menangis dalam sunyi. Dia tidak bisa berteriak maupun menangis, karena itu hanya bisa memicu keinginan gila bibinya untuk semakin menyakiti Jared. Dia ingin melawan, tapi dia hanyalah anak kecil.
"Ayo berteriak anak sial! Ayo berteriak!"
Perempuan gila itu kembali tertawa keras seiring dengan dengusan nafasnya yang memburu dan matanya yang nyalang menggila. Jared menggigit bibirnya berusaha tidak berteriak.
Mary berhenti memukul saat dia melihat Jared ambruk dari posisi setengah membungkuknya. Mary melempar balok kayu itu sembarangan menciptakan bunyi memekakkan telinga. Mary meraih rambut Jared yang mulai panjang menyentuh leher. Dia menariknya hingga wajah Jared berhadapan dengan wajahnya. Jared tampak kepayahan. Wajahnya memerah dengan mata yang menyedihkan.
Mary meludahi wajah Jared.
"Kamu tidak boleh ambruk secepat itu anak sial! Kamu sudah membunuh kakakku dan suaminya! Kamu tidak boleh ambruk secepat itu! KAMU TIDAK BOLEH AMBRUK ANAK SIAL!!"
PLAKK …
Mary menampar Jared dengan sangat keras hingga badannya terpental. Jared menangis dalam diam. Jika saja boleh memilih dia memilih mati.
"Kamu tidak usah makan malam ini!"
Setelah kembali meludah pada tubuh Jared yang meringkuk, Mary meninggalkan ruangan itu. Disusul bantingan pintu yang sangat keras.
Jared berusaha duduk. Dia memeluk dirinya sendiri dan kembali menangis. Ruangan berbentuk persegi kecil itu begitu pengap dan gelap. Sebuah ruangan di bawah tanah rumah bibinya. Cahaya hanya berasal dari cahaya rembulan yang mengintip dari satu satunya jendela kecil yang berada di atas sebuah meja .
Posisi rumah yang berada di kaki gunung, ditambah agak menjorok ke hutan, membuat rumah Bibi Mary berjauhan dengan tetangga yang lain. Tidak ada yang mengetahui kelakuan kejam yang dilakukan wanita berumur 55 tahun itu. Kelakuan Mary yang sering berganti-ganti pasangan dan turun gunung menuju kota untuk meraup hingar bingar dunia membuat para tetangga tidak terlalu memperdulikannya. Ditambah lagi, Mary selalu mengurung Jared di ruang bawah tanahnya. Hampir tidak ada orang yang mengetahui keberadaan Jared kecuali keluarga kecil yang rumahnya terletak beberapa meter di belakang rumah Jared. Mereka mengenal Jared karena anak perempuan mereka yang tidak sengaja pernah bertemu Jared saat Jared mencoba kabur.
Tuk … tuk … tuk …
Jared menengok ke arah jendela. Ada bayangan samar-samar di sana. Dia tersenyum. Kaki kecilnya berlari menuju jendela. Menahankan semua perih yang dia rasakan. Jared membuka jendela dan dia berhadapan dengan seorang anak perempuan yang menenteng tas kecil berwarna pink cerah. Perempuan itu memiliki wajah yang cantik menggemaskan dengan semburat merah di kedua pipinya.
"Ata."
Perempuan bernama Ata itu langsung menangis melihat keadaan Jared. Dia meloncati jendela dan langsung memeluk Jared erat. Jared merasa nyeri yang amat sangat karena pelukan itu tapi dia menahannya.
"Ata."
"Jared, tante Mary jahat. Dia bukan manusia. Dia setan. Hayu aduin ke paman dan bibi Ata. Jadi Jared gak akan dipukulin lagi."
Jared terenyuh. Dia tersenyum sendu. Ata memang tinggal bersama paman dan bibinya. Orang tuanya tinggal di Kota.
Perempuan itu terus menangis. Jared tersenyum kecil. Dia membelai kepala Ata perlahan.
"Jared ga bisa. Kalau Jared ngelakuin itu, bibi bisa marah. Nanti Jared ga bisa ketemu Ata lagi. Ata jangan bilang siapa-siapa."
Jared melepaskan pelukan Ata. Dia tersenyum menahankan rasa nyeri dari lukanya.
"Ata bawa apa?"
Ata meraih ujung bajunya. Dia membuang ingusnya ke sana. Dan mengelap matanya dengan tangan.
"Ata bawa makanan."
Jared tersenyum. Dari tadi pagi, Mary tidak memberikan sedikitpun makanan pada Jared. Perut Jared terasa perih meminta makanan.
Ata menarik lengan Jared agar duduk di lantai. Dia membuka tas tenteng kecilnya dan mengeluarkan tempat makan mungil dari dalamnya. Ata menyodorkan tempat makan itu pada Jared.
"Ini makan semuanya. Ata ga ikut makan. Tadi udah."
Jared merasa matanya memanas. Dia membuka kotak bekal itu tergesa-gesa dan melihat dua potong roti isi. Jared segera memakannya.
Air matanya menetes seiring tiap kunyahan.
"Makasih Ata. Makasih."
***
Jared terpaku pada foto dalam genggamannya. Potret seorang anak kecil. Perempuan cantik dengan pipi bulat yang bersemu merah menggemaskan. Perempuan itu berdiri di bawah rimbun foto di pinggir danau. Dia tahu betul di mana tempat itu. Dan dia kenal siapa anak di dalam foto itu.
"Ata."
***
Jared menatap Pattaya yang sedang tertidur. Dia berdiri di sudut ruangan di bawah bayangan dalam diam. Dia terlihat begitu tenang. Tapi tidak dengan gejolak pertentangan yang sedang berperang dalam jiwanya. Dan itu semua terapresiasi dalam sorot matanya.
Jared tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia harus membunuh Pattaya. Karena Pattayalah percik kegilaan dalam jiwanya terus membesar. Dia juga sudah bertekad menghapus semua yang pernah terlibat dalam masa lalunya saat tinggal bersama Aunty Mary. Tapi kini, apa dia sanggup membunuh perempuan yang sudah sangat baik padanya? Perempuan yang menangis untuknya juga perempuan yang memberinya makan?
Jared mengeraskan ekspresinya. Kepalanya betdenyut hebat dengan semua pergelokan dalam jiwanya. Dia harus melindungi Pattaya dari dirinya sendiri. Dia akan mendorong Pattaya menjauh. Tapi, apa itu bisa dilakukannya di saat dia sangat membutuhkan Pattaya? Tatapannya jatuh ke wajah Pattaya yang tertidur.
Kenapa harus kamu yang menolongku dulu? Kenapa harus kamu yang menjadi anak dari karyawan yang mengkhianati orang tuaku? Kenapa harus kamu yang ingin membunuhku?
Jared memejamkan matanya. Tahu bahwa mulai dari saat ini semuanya akan lebih sulit.
***
Pattaya mengernyit dalam tidurnya. Dia kembali berbalik mencari posisi yang nyaman. Tapi berapa kalipun dia mencoba untuk terlelap, dia tidak bisa. Dalam matanya yang terpejam, bayangan Jared terus membayanginya. Rasa takut serasa mencekik Pattaya, tidak peduli betapa kuat dia mencoba menguatkan hatinya. Tapi di satu sisi dia mengagumi sosok pria dengan wajah bak malaikat itu. Mata Pattaya terbuka. Dia mengerjap perlahan dan terkejut melihat sosok pria di ujung ruangannya. Tapi bayangan pria itu tidak jelas. Penglihatannya terbatas karena kelambu dan tanpa penerangan. Pattaya duduk dari tidurnya dan balas menatap pria yang menatapnya.
Jared … Mimpi bodoh.
Pattaya mengira ini adalah mimpi. Dia duduk diam dan menikmati momen ini. Jared yang melihat Pattaya terbangun dan menatapnya tidak bergeming. Pandangannya turun ke arah pakaian yang dipakai Pattaya. Sebuah kaos tali spageti tipis dan celana pendek. Pahanya terekspos karena selimut yang dia kenakan menggulung di ujung ranjang. Sebelah tali spagetinya turun mengekspos kulitnya yang mulus. Jared tersenyum miring. Dia kembali menatap Pattaya.
Pattaya mengernyit merasakan tatapan yang seolah ingin memakannya hidup-hidup. Dia bergerak ke nakas pinggir tempat tidurnya dan menyalakan lampu. Ruangan mulai terang benderang. Dia kembali menoleh ke arah Jared tadi tapi dia tidak bisa menemukan apapun. Pattaya memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya.
Apa yang baru saja kualami itu? Mimpikah atau hanya khalayanku saja?
***
Pattaya membenahi cardigan sederhana yang dia kenakan. Dia berjalan memasuki tower tempat dia bekerja. Dia tersenyum kecil menjawab sapaan Angel.
Tiba-tiba pandangan Angel jatuh ke belakang Pattaya. Pattaya menoleh dan menangkap sosok Jared yang baru datang. Lengkap dengan pakaian eksekutifnya. Wajahnya tersenyum menjawab sapaan beberapa orang.
Deg …
Pattaya menangkup dadanya yang berdebar semakin keras. Bayangan mimpinya kemarin malam kembali terlintas. Membuat wajahnya memanas. Pattaya menguatkan dirinya. Dia mengangkat wajahnya dan hendak menyapa Jared. Tapi Jared hanya melewatinya tanpa memperhatikan keberadaan Pattaya. Jared benar benar hanya lewat tepat di sampingnya. Jantung Pattaya terasa sesak entah karena apa.
Kenapa?
"Pattaya."
Pattaya menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Angel
"Kenapa dengan Mr J?"
Pattaya hanya menggeleng. Karena dia pun tidak tahu kenapa. Mr J, sosok pemimpin yang ramah pada siapapun, dengan senyum mempesona yang terus melekat di wajahnya mengabaikannya.
Pattaya kembali berjalan ke arah lift dan menunggu lift terbuka. Saat lift terbuka, dia masuk ke dalam bersama karyawan yang lain. Pattaya diam di pojokan lift. Memainkan kedua ibu jarinya dengan kepala menunduk. Dia kembali teringat yang terjadi tadi lobby.
Kenapa?
Ting …
Lift terbuka, dan dia memasuki lantai tempatnya bekerja. Beberapa orang terlihat bergerombol dan sedang membicarakan sesuatu. Dia mengernyit.
Ada apa? Tumben.
"Pattaya."
Pattaya menoleh mendengar namanya dipanggil. Dia tersenyum pada pria berwajah Asia yang menjadi rekannya saat ini. Satu-satunya karyawan dalam divisinya yang baik padanya. Pattaya melangkah mendekat ke arah Wey Ming.
"Kamu tau apa yang sedang diperdebatkan sekarang?"
Pattaya menggeleng.
"Ada sebuah kasus besar. Mr J tidak akan turun tangan langsung. Dia melemparkannya pada divisi kita. Kudengar kasus ini menyangkut beberapa proyek besar. Yang mendapatkan kasus ini pasti akan langsung mendapat promosi."
Pattaya tersenyum kecil. Dia tau kalau dia tidak akan ikut berpartisipasi. Karena dia tidak begitu menyukai hukum. Hukum menurutnya tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Lambang sang dewi keadilan menurutnya hanyalah sebuah lambang tak berguna.
"Semoga kamu mendapatkannya Ming."
Wey Ming mengernyit dan menatap tidak percaya pada Pattaya.
"Kamu tidak tertarik?"
Pattaya menggeleng.
"Ini sebuah promosi untuk karirmu."
"Aku yakin kamu atau mungkin Ms Kellyn yang akan memenangkannya."
Ming bergidik.
"Kurasa Medusa itu yang akan memenangkannya."
Pattaya terkekeh kecil.
Tiba tiba suasana menjadi hening. Pattaya menengok dan melihat Mr J ditemani sekretarisnya berdiri di tengah-tengah lantainya.
"Ada yang ingin kusampaikan."
Semua hening menunggu lanjutan kalimat Jared.
"Tentu kalian sudah menerima email berisi rincian kasus yang kuberikan pada divisi ini. Bagi yang tertarik, bisa membuat proposal mengenai kasus ini dan diberikan langsung pada saya."
Seperti kata Ming ini kasus yang cukup penting. Tapi, kenapa aku tidak menerima email?
"Mr J, bagaimana jika kasus ini diberikan pada Pattaya? Dia baru di sini, jadi kita bisa mengevaluasinya."
Apa?!
Pattaya menatap tidak percaya pada Wey Ming. Wey Ming hanya tersenyum menyemangati. Dia menatap orang-orang disekitarnya yang menatapnya. Pattaya mulai jengah. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian. Dia melirik ke arah Jared yang hanya menatapnya datar.
"Sa.."
Kalimat Pattaya terpotong oleh seorang karyawan yang daritadi menatap Pattaya tidak suka. "Kurasa kasus ini diberikan pada Ms Kellyn saja. Ms Kellyn sudah sangat berpengalaman dalam kasus seperti ini. Dia akan memenangkannya. Kita tidak boleh kalah dalam kasus ini Sir, kasus ini walau menurut pengamatan saya mungkin mudah, tapi menyangkut beberapa perusahaan mega power."
Pattaya menatap wanita itu. Tinggi, dengan wajah feminis yang menawan. Semua yang melekat padanya bagai memang dibuat khusus untuknya. Sangat sempurna. Teman baik Kellyn.
Diam-diam Pattaya merasa kesal. Dia merasa tidak dianggap. Semua orang di divisinya menerima email tentang kasus besar itu kecuali dirinya. Dia juga merasa orang-orang mulai menyepelekannya. Pattaya mengepalkan lengannya karena kesal.
"Aku akan mengambil kasus itu."
Semua orang menatap Pattaya termasuk Jared. Dia menaikkan sebelah alisnya. Dia tahu kalau Pattaya memalsukan semua dokumen ijazahnya termasuk semua sertifikatnya. Pattaya memang dari jurusan hukum. Tapi nilainya tidak spektakuler yang tertulis di ijazah. Awalnya dia menerima Pattaya di divisi khusus ini hanya untuk mempermainkan gadis itu.
"Kamu?"
Pattaya merasa geram dengan ekspresi meremehkan yang diberikan Jared.
"Iya. Aku akan memenangkan kasus ini. Jadi berikan padaku."
Jared melengkungkan senyum indahnya. Topengnya yang sempurna.
"Apa kamu yakin?"
"Iya."
Jared mengedipkan sebelah matanya membuat semua orang terpana dan memujinya. Tapi Pattaya tau, mata itu bersinar berbahaya. Pattaya menelan salivanya. Jared mengancamnya.
"Baiklah, tapi semua orang boleh ikut berpatisipasi. Kalian boleh memberikan proposal kalian."
"Tidak. Berikan kasus itu padaku. Aku akan memenangkannya."
Entah apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Dia tidak perduli. Dia mengabaikan semua tatapan menusuk yang diarahkan padanya. Satu hal yang dia syukuri. Kellyn sedang cuti.
"Mr J, jika aku memenangkannya, kamu harus kencan denganku," Pattaya menutup mulutnya.
Apa yang kukatakan?