Episode 2. Fitnah Ayah tiri

1036 Kata
Seroja melangkah gontai menyusuri jalanan yang tertutup oleh genangan air hujan. Di atas sana, langit masih menumpahkan tangisnya. Seperti tangis Seroja saat ini. Gadis itu bingung, bercampur kesal dan lelah. Tak tahu lagi harus ke mana meminta pertolongan. Tidak mungkin ia mendatangi rumah tetangga yang pintunya sudah tertutup dengan rapat. Hari semakin larut, bahkan sudah menjelang tengah malam. Seroja terus berjalan, sebisa mungkin ia menjauh dari rumahnya karena takut sang Ayah tiri mengejarnya. Sesekali, gadis itu menoleh ke belakang, memastikan lelaki b***t itu tak mengejarnya. Sepi, bahkan hanya ada suara hujan yang ia dengar. Hampir setengah jam, Seroja berjalan di tengah malam sendirian. Suara rintik hujan menemaninya menyusuri jalan hingga ia sampai di sebuah pondok tepi sawah milik tetangganya. Seroja merangkak naik, gadis itu lalu duduk menekuk lutut dengan kedua tangan saling bertautan. Tubuhnya menggigil kedinginan tetapi tak ia pedulikan. Yang terpenting saat ini dirinya sudah aman dari terkaman Karsam. “Tuhan ... kenapa hidupku seperti ini?” rintih gadis itu. Tak lama ia pun terlelap dengan baju basah kuyup dan tubuh kelelahan. Sementara di rumahnya, Karsam panik. Lelaki itu mondar-mandir di dalam rumah. Niat hati ingin sekali mengejar Seroja tetapi hujan yang turun semakin deras membuatnya urung untuk keluar dari rumah. Sesekali, lelaki itu meringis kesakitan akibat tendangan Seroja yang tepat mengenai barang berharganya. “Kurang ajar! Lari ke mana dia, jangan sampai anak itu mengadu pada tetangga. Atau besok akan mengadu pada ibunya. Aku harus membuat rencana dan mengarang cerita agar Masitah percaya padaku,” ujar Karsam panik, lelaki itu mondar-mandir di tengah-tengah ruang tamu. “Lebih baik sekarang aku betulkan saja pintu ini. Sebelum Masitah pulang besok pagi.” Karsam lalu mengambil peralatan tukang di ruang belakang. Lelaki bertubuh tambun itu segera membenahi pintu kamar Seroja yang tadi ia rusak. Setelah selesai, ia putuskan untuk istirahat di dalam kamar. Karsam tak peduli dengan keadaan anak tirinya yang saat ini tengah melarikan diri akibat perbuatannya. ---°°°--- “Nduk, Nduk, bangun. Loh kok tiduran di sini?” Seorang perempuan paruh baya menggoyang-goyang tubuh Seroja. Seroja terkejut, gadis itu mengerjap beberapa kali. Setelah pandangannya benar-benar terang ia lantas bangun dan duduk bersandar pada dinding pondok. “Kamu ngapain tidur di sini?” Orang yang membangunkannya kembali bertanya. Seroja bingung, hendak berkata apa pada orang itu. Beberapa saat, gadis itu masih membisu. Sementara, orang yang saat ini tengah berdiri di depannya menunggu jawaban dari Seroja. “Emm ... a-anu Mbah, tadi saya jalan-jalan setelah Subuh. Lalu, duduk di sini malah ketiduran,” ujar Seroja memberikan alasan. “Oh ... yo wes, sudah siang. Pulang sana nanti dicariin ibumu, Nduk.” Seroja mengangguk, ia lalu memutuskan pulang saat matahari sudah bersinar terang. ‘Semoga saja ibunya telah pulang dan saat ini sudah berada di rumah.’ Harapan gadis itu. Saat berjalan menuju ke rumahnya, kembali Seroja mengingat wajah Ayah tirinya, yang buas malam tadi membuatnya takut untuk bertemu dengan lelaki itu. Ada keraguan yang hinggap di hati Seroja tatkala kakinya sudah menapaki halaman rumah. Pelan, Seroja mulai melangkah ke arah teras rumah dengan perasaan takut. Rumah sederhana berdinding batu bata itu tampak sepi sekali. Pintunya tertutup rapat pun juga dengan jendelanya. Seroja mengembuskan napas pelan, dengan tangan gemetaran gadis itu mulai mendorong pintu rumah. Namun, belum sempat terbuka dengan sempurna tiba-tiba saja sang Ibu keluar dengan wajah yang menyeramkan. “Dasar, anak tidak tahu diuntung! Kurang ajar, berani-beraninya kau berbuat yang tidak-tidak saat sendirian di rumah!” teriak Masitah lantang, perempuan itu lalu menghambur dan memukuli Seroja tanpa ampun. “Ampun, Bu, ampun sakit, Bu,” rintih Seroja karena dipukuli menggunakan gagang sapu. Sementara, Karsam tampak tersenyum menyeringai di belakang Masitah, sang Ibu. Lelaki itu berkacak pinggang menyaksikan Masitah memukuli anaknya. “Berani-beraninya kau membawa laki-laki ke dalam rumah. Mau jadi apa kamu hah?! Untung saja ayahmu segera datang, kalau tidak mau ditaruh mana muka ibumu ini, Seroja!” Masitah semakin kalap, perempuan itu membabi buta memukuli Seroja dengan gagang sapu. Belum sempat Seroja membantah, sang Ibu kembali memukulinya bertubi-tubi. Tidak peduli pada tetangga yang lewat di depan rumahnya. Masitah mengamuk seperti orang kesurupan. Seroja menangis, gadis itu pasrah, ia tak bisa berbuat apa pun kecuali hanya duduk bersimpuh di lantai menahan perih di sekujur tubuhnya. “Sudah, Dek, sudah. Ingat dia anakmu, kalau sampai terjadi apa-apa sama Seroja bagaimana?” Karsam pura-pura melerai pertengkaran antara anak dan Ibu tersebut. “Jangan halangi aku, Mas. Biar aku hajar anak ini, bikin malu orang tua saja!” Masitah masih tak terima dengan aduan suaminya, yang mengatakan kalau malam tadi anak perempuannya membawa masuk laki-laki ke dalam rumah. “Sudah, Dek, sudah. Kasihan anakmu,” ujar Karsam pura-pura. “Kamu dengar, Seroja! Sekali lagi Ibu tahu kamu berbuat yang tidak-tidak. Ibu tak akan segan-segan mengusirmu dari rumah ini!” ancam Masitah. Setelah puas memukuli anaknya, Masitah berlalu pergi meninggalkan Seroja yang masih terduduk di ambang pintu. Sementara, Karsam tersenyum menyeringai ke arah gadis itu. “Makanya, jangan coba-coba melawan kepadaku!” ucap Karsam, setelahnya lelaki itu keluar dari rumah. Seroja masih terduduk menangis di ambang pintu. Kedua tangan dan kakinya lebam kehitaman akibat pukulan dari ibunya. Gadis itu tak peduli dengan perkataan lelaki b***t itu. Bahkan, tak sedikit pun teringin menatap wajah Karsam. Hati Seroja sakit, Ibu yang seharusnya melindungi dirinya kini malah dengan tega memukulinya. ‘Kenapa Ibu tak mendengar penjelasan dariku dulu?’ gumam Seroja dalam hati. Meskipun susah payah untuk berdiri, Seroja tetap memaksa bangun dari atas lantai. Tubuhnya sakit, kepalanya pula terasa berputar-putar. Pelan-pelan, ia mulai melangkah masuk ke dalam kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Seroja merebahkan tubuh di atas ranjang. Gadis itu menangis meluapkan kekesalan hatinya. Ia sangat benci dengan Ayah tirinya. Andai saja ibunya dulu mendengarkan perkataan Seroja untuk tidak menerima pinangan Karsam. Mungkin saat ini hidup Seroja tak akan semenderita ini. “Bapak, Seroja kangen, Bapak,” lirihnya dalam isak tangis. Mungkin karena lelah dari semalam ia berlarian, kehujanan, lalu tidur di pondok pinggir sawah punya orang, sampai di rumah gadis itu mendapatkan pukulan dan cacian dari ibunya, membuat tubuh Seroja terasa sakit semua. Setelah puas menangis menumpahkan segala beban di hatinya. Seroja terlelap dalam tidur. Hingga, menjelang tengah hari gadis itu tak kunjung keluar dari kamarnya. Sementara, sang Ibu sudah berangkat ke tempat kerja tanpa mau tahu keadaannya putrinya. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN