Banyak menebak dan berprasangka yang tidak-tidak, akan membawamu masuk terperosok ke dalam lubang gelap yang bernama zona nyaman.
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
Nama lengkap: Devon Anderson.
Tanggal lahir: 02 Maret 1996.
Umur : 24 tahun.
Tinggi badan: 178 cm.
Berat badan: 64 kg.
_____
Selama 24 tahun Devon hidup, tidak semudah itu menyandang nama Anderson di belakang namanya. Menjadi anak tunggal di keluarganya juga merupakan rintangan yang harus dihadapi Devon. Bermain-main bukan teman baik baginya. Apa jadinya nanti, jika Devon merusak masa mudanya?
Drtt! Drtt!
Ponsel Devon tak henti-hentinya berdering sejak kemarin malam. Ribuan notifikasi berlomba-lomba menampakkan diri ingin dibaca. Tidak ada yang benar-benar Devon respon, bahkan Devon sudah berusaha mematikan ponselnya dan meng-uninstal aplikasi media sosialnya.
Voila, setelah membiarkan benda itu mati semalaman, notifikasi kembali memenuhi ponselnya. Nampaknya pagi ini adalah pagi yang sangat berbeda dari pagi-pagi lain pada umumnya. Biasanya diiringi riuh suara burung, kini ditemani berisiknya suara notif ponsel.
Devon berusaha sekuat tenaga mengabaikan bunyi-bunyian yang memasuki telinganya. Ia memfokuskan diri tenggelam dalam iPad, masalah yang harusnya terselesaikan beberapa hari yang lalu terbengkalai begitu saja. Sudah saatnya Devon menuntaskannya.
Drrt! Drtt!
Bukan dari ponsel, iPad miliknya malah ikut-ikutan mengerjainya. "Ini notifikasi apa, sih? Kenapa malah pindah ke iPad?"
Masih pagi dan Devon sudah dibuat darah tinggi. Siapa yang tidak kesal, jika jadi Devon? Dengan perlahan Devon menyesap kopinya, berusaha memindahkan rasa pahit kopi menguasainya agar bisa mengambil alih semua beban yang tengah ia pikul.
"Sabar, orang sabar cepet dapet pacar."
Kalimat penyemangat yang absurd. Tetapi beginilah hidup Devon, harus semangat tanpa adanya penyemangat. Siapa lagi yang akan menyemangatinya jika bukan dirinya sendiri?
Setelah menunggu sepersekian menit, Devon membelalakkan mata saat membaca salah satu pesan yang masuk ke email-nya.
_____
@asdfghjkl_ mentioned you in a comment: makasih banyak buat love-nya, kak Devon. Huwaaa mimpi apa gue semalam sampai bisa di notice sama kakak. Mood booster parah ini, mah.
_____
"Heh, apa-apaan nih? Kok, kok begini? Love? Apa maksudnya? Siapa yang ngasih love?"
Kening Devon berkerut dalam, memikirkan hal terakhir yang terjadi dengan ponselnya. Pasalnya bukan hanya satu akun itu saja, banyak akun yang sejenis dengan pesan yang isinya hampir sama berbondong-bondong menyerbu ponselnya. "Oh, s**t!"
Devon baru sadar akan suatu hal. Cia! Orang terakhir yang meminjam ponselnya dengan alasan minta hostpot. Devon buru-buru me-logout e-mail pribadi yang ada di iPadnya. Iya, benar. Devon punya dua akun e-mail, akun pekerjaan dan akun pribadi.
IPadnya sudah aman, tinggal handphone-nya. Notifikasi ini melebihi notifikasi yang ia dapatkan saat baru memposting satu postingan.
"Enggak keponakan, enggak sepupu, enggak keluarga, semua kelakuannya sama aja. Hobi banget bikin orang darah tinggi."
Sudah Devon katakan menyandang nama Anderson di belakang namanya sangatlah susah. Sejauh ini belum ada satu pun teman-temannya yang menyadari bahwa Devon termasuk dalam anggota keluarga Anderson. Terlebih circle pertemanan Devon, tidak jauh-jauh dari lingkup keluarganya.
Tidak ada yang bisa dipercaya di dunia ini. Semua terlihat fana dan penuh kepura-puraan. Entahlah, namun itu yang Devon rasakan selama ini. Tangan Devon bergerak meraih cangkir kopinya. Rasa pahit kopi tidak jauh beda dengan pahitnya kehidupan.
Semua orang hanya melihat keluarga Anderson dari satu sisi saja. Keluarga bahagia, harmonis, berkecukupan, dan berharta melimpah. Hanya itu yang mereka lihat. Mereka tidak melihat prosesnya, mereka hanya melihat hasilnya tanpa mengetahui seberapa banyak keringat yang menetes hingga terukir hasil yang indah.
Dikelilingi kehangatan keluarga memanglah apik, tetapi pernahkah kalian membayangkan betapa beratnya beban yang harus dipikul demi melihat secercah senyuman tetap berada pada tempatnya.
"Huh." Devon menyugar rambutnya ke belakang. Tolong kepada anak rambut Devon, jangan ikut-ikutan mengerjai Devon. Jangan, untuk saat ini.
Jemari Devon dengan cepat mengetik username i********: yang telah ia hafal di luar kepala.
@devonand_
Akun i********: dengan 3,8 juta pengikut. Bukan bahagia, Devon malah sengsara. Ia bahkan sempat berpikir bagaimana caranya influencer bisa tidur dengan tenang saat handphone-nya selalu berbunyi setiap detiknya. Devon tidak kuat akan hal itu.
Tidak ada sesuatu yang menarik dari akun Devon. Hampir semua postingan yang ada di Instagramnya tidak memperlihatkan wajahnya secara keseluruhan. Angle samping dan potongan beberapa bagian wajah yang buram terpampang nyata secara abstrak dalam feed i********: Devon.
Lagi, hanya ada 10 postingan yang ada di sana, sejak 7 tahun lalu saat Devon pertama kali membuat akun. Satu tahun memposting 2 foto adalah salah satu keajaiban bagi Devon. Lalu bagaimana bisa 3,8 juta orang mengikutinya hanya karena melihat 10 postingan di akunnya? Sangat tidak masuk akal, bahkan postingan-postingan itu buram, menyisakan hawa misterius di dalamnya.
"What the hell, is it? Ini enggak lucu!"
Deringan telepon terdengar beberapa kali, sangat mudah tertebak sang penerima telepon di ujung sana membiarkannya tak terjawab begitu saja. "Dasar Cia t***l! Kurang kerjaan banget jadi orang."
Mata Devon terbelalak kaget saat dirinya berhasil masuk lewat second acc miliknya. Yang pertama, postingan screen capture dari beberapa orang yang memperlihatkan bahwa akun miliknya tak sengaja mampir ke akun mereka bertebaran di mana-mana. Yang kedua, postingan-postingan tersebut di-repost oleh akun-akun gosip besar seperti akun lambe-lambean. Ketiga, ini semua pasti ulah Cia.
Yang Devon permasalahkan hanya kinerja ponsel dan iPad-nya yang akan terganggu. Satu hal yang pasti, lemot dan ngebug. Sepele? Tetapi merupakan masalah bagi Devon. Mungkin, di saat semua orang akan mengeluhkan citranya di depan orang lain, tetapi tidak dengan Devon. Pekerjaannya lebih penting dari kabar burung yang beredar di luar sana.
Drrt! Drrt! Drrt!
Itu bukan deringan telepon. Tetap sama, bunyi notifikasi yang tidak ada habisnya. Sebegitu berefek-kah satu buah pencetan love dari akun Devon? Apa yang sebenarnya mereka lihat dari diri Devon? Devon benar-benar penasaran dengan akasannya. Bagaimana bisa seseorang yang tidak pernah bertemu bisa menyukai orang lain sampai seperti itu, bahkan belum tentu orang yang kamu puja mengetahuimu hidup dan berada entah di belahan bumi sebelah mana.
Devon mengembuskan napas lelah, rasanya pekerjaannya akan kembali tertunda. Ponselnya sudah terdeteksi ngebug. Tanpa menyentuh pun, Devon sudah mampu mengetahuinya. Jalan satu-satunya adalah mematikan dan membiarkan ponselnya tanpa adanya daya. Memaksakan kehendak, tidak akan menyelesaikan masalah untuk saat ini. Malah menambah masalah yang ada.
"Cia, Dio, dan Lily."
Devon menandai kurcaci-kurcaci kecil pembawa masalah dalam hidupnya beberapa hari belakangan ini. Tinggal memasukkan ke dalam blacklist jika mereka ini kembali membuat ulah dalam waktu dekat.
Apa bahagianya menjadi bagian keluarga Anderson? Dikerjai setiap saat, iya. Dipojokkan dan dikatai, iya. Ya meski pun harus Devon akui, keluarganya begitu solid dan selalu bahu-membahu.
Cia is calling...
Foto dan nama Cia tiba-tiba muncul melambai-lambai di layar iPad-nya tanpa diduga-duga. Devon mengeluarkan smirk-nya, waktu yang tepat untuk meminta pertanggungjawaban Cia.
"Halo ... dengan Cia di sini, hoam." Terdengar suara uapan tertahan. "Halo."
Devon memutarkan bola matanya mendengar nada bicara Cia. Tidak di dunia nyata, tidak di dunia maya, sikap Cia sama saja. Sama-sama menyebalkan dan tidak tahu diri.
"Ck, mana ada anak perawan bangun siang-siang," sindirnya lirih.
"HALOO! Ini siapa, sih? Kurang kerjaan banget pagi-pagi iseng telepon orang."
"Heh, lo apain—"
"Bang Devon?"
Tut tut tut...
Devon menghempaskan iPad-nya. "Bocah kurang ajar, awas aja kalau dateng-dateng minta tolong."
Krek. Krek.
Devon membunyikan jari-jarinya bergantian. Berusaha untuk membuat dirinya merasa rileks, meski pun segala macam jenis umpatan bercokol di hatinya.
"Kalau begini jadinya, gue harus ngapain? Padahal otak gue udah nyusun plan serapi mungkin buat hari ini. Cia sialan."
Untuk membunuh rasa bosan, Devon kembali melihat isi i********: dalam second acc miliknya. Dirinya mencari-cari alasan dari 3,9 juta orang mengapa memilih untuk mengikuti main acc miliknya. Sempat terlintas di otak Devon, bagaimana susahnya hidup menjadi influencer. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana ribetnya mengatasi gadget ngebug setiap harinya. Dapat dipastikan setiap detiknya, pasti ada yang notifikasi masuk.
_____
@ikankembung gila idaman sih ini.
@kentangmekdi ish sumpah gue juga pengen di notice bang Dev.
@matchantik gila beruntung banget kalian, huwaa.
@akuiri alah palingan cuma kepencet doang.
@blackshadow fix lo suka sama dia.
@butter.fly SUMPAH GANTENGNYA NAMBAH 1000 KALI LIPAT.
_____
"Astaga, lihat fisik banget ini mah." Tangan Devon menscroll jutaan komen itu dan semua isinya hampir sama.
Ganteng.
Ganteng.
Ganteng.
Semua orang yang terlahir di dunia ini itu ganteng dan cantik. Semuanya memiliki porsinya masing-masing, itu hukum alam. "Terus apa salahnya kalau gue beneran pencet love dengan sepenuh hati? Dangkal banget pemikirannya."
Meninggalkan postingan screen capture yang ada di akun lambe-lambean itu, Devon mulai menjelajah dalam postingan rekomendasi yang muncul di bagian search. Jangan kaget mengapa Devon bisa memiliki second acc. Untuk ukuran orang yang memiliki bisnis, dirinya memilih terjun langsung untuk melihat mangsa pasar.
Otaknya membantah. "Halah bilang aja sekalian cari jodoh, kalau ada yang bening langsung sikat."
Selalu seperti itu hati dan otaknya tidak selalu berjalan beriringan. Namun Devon percaya itu adalah hal yang wajar dialami oleh semua orang. Wajar, kan?
Tangan Devon terus menscroll secara acak. Nihil, hasilnya sama saja setelah sekian menit menghindar. Happy national girlfriend's day selalu muncul di setiap postingan yang ia lihat.
"Harus ya umbar kemesraan di depan publik?"
Devon menghela napas lelah. Apa mungkin dirinya berada di fase quarter life crisis? Di saat semua orang mungkin bingung cara menata karir, Devon bingung bagaimana menata alur cerita cintanya. Devon adalah Devon dan orang lain adalah orang lain. Mereka orang yang berbeda dan pasti memiliki masalah yang berbeda pula.
Devon mengalami krisis percaya diri akan kisah percintaannya kelak, dirinya takut berekspektasi terlalu tinggi. Ingin merasakan kisah cinta yang mulus seperti orang-orang kebanyakan, namun dirinya sendiri tidak ingin bertindak lebih jauh dan terlalu nyaman dalam zona kesendiriannya.
Tapi, kan ... terlalu banyak kata 'tapi' yang berseliweran di otaknya. Devon masih sibuk menyelesaikan pendidikannya, belum lagi usaha yang ia rintis perlu untuk diprioritaskan. Adakah hal yang lebih penting dari itu? Tapi Devon iri, untuk hal yang satu ini hati dan otaknya tidak bisa menyangkal lagi. Dirinya benar-benar iri.
Tangan Devon menjauhkan iPad, menelungkupkan layarnya. Kalau kalian tahu di mana tempat mencari pacar, tolong hubungi Devon. Devon ingin beli satu. []