8, praak

801 Kata
Praaaaak Aaaaah! Auhhh tolong .... Wanita itu menjerit minta ampun, keningnya berdarah, saat kulepas tengkuknya dia meluncur jatuh dan terkapar di aspal. "Aku peringatkan padamu, untuk jangan main main denganku," ujarku sambil tersenyum miring dan masuk kembali ke mobil, wanita itu terkapar, ia merintih kesakitan dan berusaha bangkit, keningnya pecah lalu mengucurkan darah "Laporkan saja insiden ini pada pacarmu, aku menunggu reaksinya," lanjutku sambil tancap gas dan pergi begitu saja. Wanita itu memandangku dengan kesal tapi dia tak menjawabku. "Beraninya wanita obralan sepertinya mencoba memisahkanku dan suamiku." Aku menggunam lalu mengencangkan laju mobil. * Waktu kembali bergulir, siang jadi malam, dan suamiku belum kunjung pulang, aku rasa dia menolong gundiknya, membawanya ke rumah sakit dan merawatnya. Hingga pukul sembilan dia belum kunjung datang, kucoba untuk menghubungi tapi dia tak menjawabnya. Baru aja akan kucari, dia sudah ada di ambang pintu. "Dari mana saja Mas, aku gelisah," ucapku bersandiwara. Aku sengaja memasang kekhawatiran seperti yang selalu ia lakukan padaku. "Aku ada urusan," ujarnya sambil melepas jas dan menyerahkannya padaku. "Apa jas ini kotor?" "Iya, cuci saja, besok aku pakai jas lain," balasnya. "Kau sudah makan?" "Belum. Temani aku makan, sejak siang aku belum makan." "Apa yang kau lakukan sampai lupa makan?" "Kerja lah, masak main main," ujarnya setengah kesal. Kutemani dia makan kuhidangkan ke piring juga kutuang minum untuknya, lelaki itu maakan dengan lahapnya tanpa mencurigai apa apa. "Kau suka makanannya?" "Selalu." "Kau senang makan masakanku dan bertemu aku tiap waktu?" "Iya, sudah kubilang kau poros hidupku." "Apa kau yakin, kita tak akan terpisah." "Tidak akan kecuali maut memisahkan." "Bagaimana kalau kamu yang berusaha meninggalkanku?" pertanyaanku membuat lelaki itu berhenti makan, dia menatapku dengan ekspresi tak nyaman "Kok kamu nanya gitu terus, ada apa ya?" "Ga ada Mas, aku cuma nanya. Karena begitu dicintai aku jadi serakah ingin memilikimu seutuhnya, apa kau bisa memberiku janji untuk setia." "Oh, itu? Bukannya aku selalu bersamamu?" "Bagaimana kalau kau meninggalkanku?" "Tidak akan!" Dia menegaskannya. "Meski dunia menawarkan kemewahan kau tak mau menukarku?" "Tidak akan, tidak akan pernah," balasnya sambil menggenggam tanganku. "Aku lega Mas." "Memangnya ada orang yang bilang aku hendak meninggalkanmu?" "Tidak ada, hanya firasat saja." "Itu firasat yang konyol," balasnya menyudahi makan. ** Kubawakan teh ke ruang tv, melayani pria yang sudah ganti baju itu, dia berselonjor kaki sambil nonton film aksi. "Apa kau belum mengantuk Mas?" "Belum Aku ingin nonton film." "Kelihatannya kamu lelah sekali Apa mau ku pijitin kakimu?" "Terima kasih Hafsah." Aku tersenyum lalu duduk di ujung kakinya dan kemudian mulai memicu pria itu. Dia memang menonton TV tapi lebih banyak pandangan matanya terarah kepadaku. Mungkin dia merasa bersalah, mungkin juga dia senang karena aku masih berbakti meski dia menipuku. "Kalau kau lelah tidak usah terlalu lama." "Tak masalah Mas lelahnya seorang istri tidak akan lebih lelah dari tulang punggung keluarga." "Kau adalah istri yang berbakti dan kau yang terbaik hafsah." "Doakan semoga aku selalu Istiqomah menjadi istri yang baik dan bersabar atas semua ujian rumah tangga dan bagaimana sikapmu setiap harinya." Lelaki memperbaiki posisi duduknya lalu meraih tanganku. "Aku tidak bisa bayangkan bagaimana jadinya hidupku tanpa kamu." "Maka pertahankanlah agar aku tetap bersamamu. Aku telah berbakti dan jangan buat masalah yang akan membuat aku meninggalkanmu. Kau akan kesulitan Mas." "Aku tidak meragukan perkataanmu sama sekali. Kau benar." "Baiklah Jangan tidur terlalu lama aku izin dulu untuk tidur lebih cepat." "Iya, Sayang," ujarnya sambil merayu wajahku lalu menciumnya aku menerima ciuman itu meski getir di hatiku. Aku nak menahan perlakuannya demi kestabilan rumah tangga dan serta Aku ingin tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Aku baru saja hendak berbaring tapi aku lupa membereskan jas yang baru diberikan suamiku saat pulang tadi. Aku harus memeriksa Apa isinya sebelum aku melempar jas itu ke keranjang cucian. Biasanya dia meninggalkan dompet, nota, uang atau kunci mobil di sana. Jadi aku harus memeriksanya seperti apa yang selama ini kulakukan. Benar saja dompetnya ada di sana, kulit akan benda itu di atas kaca rias lalu mengeluarkan sisa-sisa kertas yang biasanya ada di sakunya. Saat merogos aku bagian kanan aku merasakan ada sesuatu yang seperti kain. Kupikir itu sapu tangan deh tapi alangkah terkejutnya aku saat mengangkat benda itu dari dalam jas suamiku. Itu adalah CD dengan renda tipis yang cukup menantang, "Astaghfirullah." Aku berseru sambil melempar benda itu ke lantai. Tatapan mataku nanar melihat benda pribadi milik seorang wanita ada di dalam baju suamiku. Aku yakin bukan mas Farid yang melakukannya tapi wanita itu sengaja memancing diriku dan membuatku sakit hati. Dia tahu, aku akan memeriksa jas suamiku jadi dia sengaja meletakkan pakaian dalamnya di sana. Tapi kapan itu terjadi dan Kenapa Mas Farid tidak menyadarinya. Apa setelah jam 11.00 siang tadi, setelah pertengkaran di sebuah ruangan yang belum jadi, suamiku kembali menemui wanita itu lalu kemudian mereka b******a di suatu tempat? Ya Allah, tiba-tiba kepalaku pusing dan aku tidak sanggup menahan lagi air mataku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN