"Wah, wah, ada papa...." Alexa turun dari kamarnya diikuti oleh Handy yang juga sudah bangun. Kedua anakku menuruni tangga dengan antusias dan senyum lebar di wajah mereka. Mereka memeluk dan menyalami mas Farid seakan sudah tidak ada lagi dendam dan sakit hati diantara kami dan ayahnya. "Pa, apa kabar?" "Baik, Nak." "Tapi kenapa Papa terlihat kurus dan pucat seperti itu, mata Papa sampai cekung, seakan kurang tidur," ujar Alexa sambil memeriksa wajah ayahnya dengan seksama. "Ayah baik baik saja." "Apa Papa stres karena wanita rewel itu ataukah sepanjang malam papa begadang untuk menggodanya?" godaan Handi seketika membuat kami tergelak bersama-sama. "Sejujurnya aku gelisah dan tidak bisa tidur karena memikirkan kalian berempat, alih-alih bahagia dengan bulan madu, aku lebih seri

