“Kenapa pulang cepat sekali? Apa kamu sudah berbicara dengan Naomi?” Bu Widia heran melihat putranya kembali dengan sangat cepat. Bahkan dia saja belum sempat berbicara dengan cucunya akan masalah yang sedang terjadi. Samudra mencari sofa, merebahkan bokongnya di sana sembari mengusap gusar wajahnya. “Naomi menolak bicara denganku.” Bu Widia duduk di samping Samudra, menepuk paha putranya dengan lembut. “Jangan menyerah! Wanita itu mudah sensitif. Menyelesaikan masalah dengan perasaan bukan dengan logika. Jadi, kamu jangan baperan!” “Aku melihat Naomi beda sekali hari ini. Dia terlihat lebih menyeramkan.” Bu Widia terkekeh mendengar keluhan putranya yang tak biasa. “Aku serius, Ma. Aku sampai kaget dibentak sama dia. Dia … dia benar-benar mirip bu Angel ketika marah.” Lagi Bu Widia t

