Naomi uring-uringan di tempat tidur. Beradu argumen antara ucapan bu Widia dan dirinya sampai-sampai Naomi bangun untuk mengecek ponselnya—rencana ingin menghubungi Samudra, tapi ragu dan meletakkan kembali ponsel di atas nakas karena sudah jam 1 dini hari. Alhasil Naomi kembali merebahkan tubuhnya, beradu dengan segala hal yang datang silih berganti dalam kepalanya. Sungguh miris, Naomi tidak bisa untuk memejamkan mata. “Gak mungkin aku harus menikah dengan dokter. Meskipun dia menerima, tapi … tapi, mana ada laki-laki yang mau istrinya mandul. Pasti cari yang lebih sempurna, apalagi dia yang memiliki banyak uang, kekuasaan, bahkan ganteng,” gumam Naomi berusaha menyadarkan dirinya agar tidak terlena dengan apa yang dikatakan bu Widia. Hidup itu bicara tentang realita bukan tenang imin

