Delapan Puluh Lima

1868 Kata

Warung makan itu, sama seperti warung makan biasa yang sering kali ada di tempat asal mereka. Etalase berisikan deretan makanan rumahan. Kipas usang di beberapa sisi ruangan yang menghembuskan angin pelan, serta deretan bangku kayu tanpa sandaran tersusun di depan etalase yang memiliki lebihan papan kayu. Menjadi meja untuk para pelanggan menyantap makanan yang ada. Ketika Ardi, Dini dan Elang memasuki warung itu. Perempuan yang notabene adalah ibu kandung Ardi tersebut bergegas keluar dari balik etalase. Meletakkan segelas air dan teh hangat tepat di depan Ardi. "Diminum, kalau mau obat bilang aja sama suami saya." Mendengar itu, pandangan Ardi teralih ke sosok pria paruh baya yang hanya tersenyum tipis di balik etalase. Sedang mengelap piring-piring yang baru saja dicuci menggunakan se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN