“Febby,” lirih Agatha yang kedua kalinya. Febby tersenyum lalu memeluk temannya dengan erat. “Feb, menangis lagi, enggak apa-apa, kan?” kata Agatha sembari melepas pelukannya. “Ga apa, asalkan bisa membuatmu lebih lega,” jawab Febby sembari memakai tasnya. Dia sudah harus berangkat ke lokasi syuting. Bingung antara pergi atau menemani temannya. Tapi, kontrak kerja yang membuatnya harus tetap pergi ke lokasi. Agatha menyimpan air matanya lalu ikut Febby keluar dari rumah. Menuju mobil masing-masing dengan tujuan yang berbeda. Agatha menemukan sebuah masjid yang ada di tepi jalan. Menghentikan mobilnya lalu mengambil kain panjang yang ada di mobilnya. Memakainya walau hanya disampirkan tanpa peniti. Semenjak hatinya merasa damai kala mendengar suara azan, cara berpakaiannya semakin ter

