“Menangislah dan jangan ragu ungkapkan!” Ucapan Gus Anam membuatku semakin terisak. Dia adalah putra kedua Kyai Sya’roni.
Untuk apa dia ke sini? Bahkan seorang gus rela hujan-hujanan demi memberikan sebuah payung untukku. Apakah aku terlihat sangat mengenaskan?
“Mengapa semua ini terjadi kepadaku, Gus? Tinggal sedikit lagi aku lulus. Untuk apa mereka melakukan semua ini jika akhirnya meninggalkanku sebelum waktunya tiba?” Aku tertunduk lemah. Kupukul dan kucabut sampai akar rumput jepang di depanku yang tidak bersalah.
“Rizki, jodoh, dan mati sudah digariskan takdirnya. Kamu harus Ikhlas, menangis tidak akan membuat mereka kembali. Kamu bisa saja mati sekarang jika tidak segera masuk ke rumah. Siapa yang akan mendoakan mereka jika kamu juga meninggal?
Bahkan kamu belum cukup ilmu. Sudahkah kamu siap jika Malaikat Munkar dan Nakir memberikan pertanyaan kepadamu di alam kubur? Siapa yang akan mendoakanmu nanti? Kamu bahkan tidak punya sanak saudara. Bukankah kamu anak tunggal?”
Sejenak aku bergeming. Sudah cukup lama aku menangis. Namun, perasaanku masih terasa pedih. Kehilangan orang tua yang sangat kucintai ternyata sesakit ini.
“Pakai payung ini! Kamu bisa demam dan Umi yang akan kesusahan.” Gus Anam mengulurkan sebuah payung bergambar Hello Kitty kepadaku.
Aku menerima payungnya, tetapi lekas kubuang. “Aku tidak perlu payung. Aku ingin orang tuaku. Aku ingin Ayah dan Ibu kembali. Aku tidak percaya mereka sudah meninggalkanku, Gus! Semua ini bohong, ini tidak nyata.”
Aku masih berharap semua ini hanya mimpi. Belum satu jam mereka pergi dan tiba-tiba aku mendengar kabar mereka kecelakaan. Secepat itukah takdir memisahkan?
“Sadarlah! Semuanya sudah menjadi kehendak Allah.” Gus Anam berjongkok di depanku.
Wajah putih dengan jambang tipis itu terlihat pucat karena tengah kedinginan. Entah mengapa aku lancang membalas tatapannya. Mata yang selama ini selalu kuhindari karena mampu membuat hatiku goyah. Orang yang selalu membuat hatiku bergetar meski hanya dengan mendengar namanya saja.
“Mundur! Jangan mendekat!” Aku mundur selangkah darinya.
Gus Anam semakin mendekat ke arahku. Aku harus menjaga jarak darinya. Jantungku sudah tidak bisa diajak kompromi, rasa sesak bercampur dengan tangis dan– entahlah, aku tidak mampu mengucapkan kata-kata puitis.
“Aku hanya ingin memayungimu. Aku melakukan ini juga terpaksa karena Umi. Jadi, hargailah usahaku ini. Aku juga tidak akan melakukannya jika bukan Umi yang meminta. Kamu tidak lihat? Bajuku menjadi basah semua.”
Gus Anam maju selangkah lagi. Begitu juga denganku. Semakin dia mendekat, semakin aku mundur. Namun, hujan semakin lebat. Aku sudah mulai kedinginan, tetapi juga tidak bisa satu payung berdua dengan Gus Anam. Aku sudah melempar payung yang dia berikan dan terhempas entah ke mana karena angin begitu kencang.
“Kamu semakin pucat. Pakailah payung ini, aku tidak akan menyentuhmu.” Gus Anam menyerahkan payungnya untukku.
Hujan semakin deras, angin kencang membuat suasana semakin mencekam. Aku ingin berdiri, tetapi kakiku terasa sangat kaku. Kulitku memutih dan berkerut, pucat seperti mayat.
Aku hendak meraih payung dari Gus Anam, tetapi rasanya kepalaku pusing dan pandanganku mulai gelap.
***
“Masya Allah, anak Ibu sudah besar.” Ibu memelukku erat saat kami bertemu. Beliau sampai menangis, padahal Ibu dan Ayah selalu mengunjungiku setiap satu bulan sekali.
“Alhamdulillah, Bu. Sebentar lagi Shafia lulus,” ucapku kemudian mencium punggung tangan Ayah dan Ibu bergantian.
Aku tinggal di pondok pesantren Al Falah semenjak lulus SD karena orang tuaku ingin aku menjadi anak yang mandiri saat dewasa nanti. Sebagai anak tunggal, mereka selalu memanjakanku dari kecil. Semua keinginanku selalu terpenuhi, hingga akhirnya mereka memasukkanku ke pesantren.
Aku merasa mereka sudah tidak sayang lagi padaku karena membuangku ke pesantren. Namun, setelah sampai di detik ini membuatku sadar betapa sayangnya mereka kepadaku.
“Gimana ujian kitabnya? Lancar?” tanya Ayah.
“Alhamdulillah lancar, Yah. Semua berkat doa dan dukungan dari Ayah dan Ibu.”
Kami berbincang cukup lama malam ini seolah esok sudah tidak bertemu lagi. Ibu membawakanku banyak makanan. Sebagian untuk Abah dan sebagian bisa kubagikan kepada teman-teman.
“Kamu makan yang banyak, ya! Kamu harus kuat menjalani hidup meski tanpa kami.” Ibu menyuapiku dengan potongan bolu pisang, makanan kesukaanku dari kecil.
“Kalau bukan sama kalian, aku mau hidup sama siapa lagi? Bahkan aku tidak memiliki saudara. Kenapa, sih, Ayah dan Ibu enggak bikinin aku adik? Kalian ‘kan masih muda,” ucapku merajuk.
“Anak itu rezeki, Fia. Kalau Allah belum memberikannya, berarti belum rezeki kita. Ayah dan Ibu sudah berusaha, selanjutnya Allah yang menentukan,” ujar Ayah kemudian memberikanku sebuah amplop, aku sudah tahu isinya, pasti uang untuk membayar muwadaah.
“Kamu belajar yang rajin, ya! Anak Ibu dan Ayah harus menjadi anak yang salihah.” Ayah selalu memberiku wejangan setiap kali datang. Berbeda dengan Ibu yang selalu mau menjadi tempatku berkeluh kesah.
“Baik, Yah. Fia akan belajar dengan sungguh-sungguh supaya kalian bisa melihatku berdiri di panggung mendapatkan penghargaan.”
Aku selalu menjadi santri berprestasi. Setelah ini aku akan melanjutkan kuliah di kampus impian supaya bisa membanggakan Ayah dan Ibu. Menjadi seorang guru adalah impianku, tetapi jika hanya lulusan pondok pesantren sepertinya tidak berguna. Ijazah MA tidak diakui di zaman sekarang ini, minimal harus sarjana.
“Insya Allah kami akan datang, Nduk. Doakan saja Ibu dan Ayah diberi umur panjang supaya bisa melihat kesuksesanmu.” Ibu memelukku lagi.
Kurasakan ada yang berbeda dengan kedatangan mereka kali ini. Rasanya aku ingin selalu dalam dekapan Ibu. Aku ingin lebih lama lagi merasakan hangat sentuhannya.
“Ibu, jangan bicara seperti itu! Aku selalu mendoakan Ibu dan Ayah di setiap salatku. Kalian akan menemaniku sampai menjadi kakek dan nenek. Kalian tidak boleh meninggal sebelum aku memiliki suami dan anak,” ucapku manja. Aku duduk di antara mereka, merasakan hangatnya sebuah keluarga.
Menjadi anak tunggal membuatku selalu dimanja bagaikan tuan Putri. Meskipun demikian, Ibu selalu mengajariku soal urusan dapur. Setiap pulang ke rumah, beliau selalu mengajakku masak untuk Ayah.
“Jadi wanita itu, selain pintar juga harus bisa masak. Kita harus memanjakan lidah suami supaya tidak jajan di luar. Uangnya lumayan buat nambah beli gula, Fia.” Nasihat Ibu selalu kuingat sampai kapan pun.
Ayah memegang tanganku, “Insya Allah, Fia. Kami akan menyaksikanmu tumbuh menjadi gadis dewasa yang mandiri. Doakan kami semoga panjang umur. Ayah tidak tahu akan hidup berapa lama lagi karena rezeki, jodoh dan mati sudah ditulis di Lauhul Mahfuz.” Ayah mengeluarkan mauidho hasanahnya lagi.
Mereka memasukkanku ke pesantren supaya aku bisa menjadi anak yang mandiri. Tidak percuma mereka memasukkanku ke pesantren. Banyak sekali pelajaran yang kudapatkan di sini.
“Hush! Jangan bilang seperti itu, Yah.” Ibu menyenggol lengan Ayah. Namun, ayah malah tertawa.
“Sudah malam, kami pamit dulu, ya, Fia.” Ayah dan Ibu memelukku bergantian. Entah mengapa rasanya begitu berat berpisah dengan mereka.
Pukul delapan malam, orang tuaku berpamitan. Sesuai pesannya, aku memberikan sayuran yang dipetik dari hasil panen di kebun Ayah kepada Umi. Selebihnya aku membawa makanan dan jajanan untuk makan bersama teman-teman.
“Nad, nanti tolong bagikan makanan ini ke kamar sebelah, ya!”
Aku meminta tolong kepada Nadia untuk membagikan makanan yang dibawakan Ibu. Aku tidak akan mampu menghabiskannya sendirian, apalagi bolu pisang tidak bisa bertahan lama.
Aku mengambil pisau cutter yang kusimpan di atas almari. Ibu pasti lupa membawakan pisau di dalam kotak bolu pisang. Aku sengaja menyembunyikannya di tempat yang aman supaya tidak ketahuan saat ada razia benda berbahaya.
“Aw!” Jariku terkena mata pisau saat memotong bolu pisang. Darah segar mengalir hingga membasahi kardus.
“Kamu, kok, nggak hati-hati, Fia. Sini aku bantu!” Nadia membantuku memotong bolu menjadi beberapa bagian kemudian memasukkannya ke dalam plastik.
“Kamu obati saja lukamu!” ujar Nadia sebelum keluar kamar.
Aku membersihkan lukaku dengan tisu, kemudian menempelkan plester di jari telunjuk. Setelah merasa lebih baik, aku membereskan kamar dan bersiap hafalan kitab Aqidatul Awam. Namun, dari jauh terdengar suara sirene polisi. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar.
Perlahan kubuka mata, pemandangan ini tidak asing bagiku. Aku berada di kamarku sendiri, di rumahku. Pakaianku sudah kering dan berganti baju tidur.