Bizar: Keluarga Damanik "Sori, gue nggak bisa ikut jemput lo di rumah sakit." Aku mengangguk walaupun Dominiq tidak bisa melihatnya. "Nggak apa-apa. Saya tahu kamu lagi sibuk." Di seberang sana, Dominiq mendecakkan lidah. "Bisa nggak sih lo ngomongnya jangan pake 'saya'?" "Kamu juga," balasku lalu memindahkan ponsel ke telinga kanan. "Hubungan kita sampai sejauh ini, dan kamu nggak pernah manggil nama saya." "Okay." Dominiq menarik napas panjang. "Bizar..." "Mas," Aku menambahkan. "Dih! Nggak mau!" tolak Dominiq. "Panggil Abang aja gimana?" "Kenapa harus Abang?" tanyaku. Dominiq cekikikan di telepon. "Biar uwu kayak Btari sama Bang Hans! Ya?" Kini, ganti aku yang menarik napas. "Nggak usah," Aku menolaknya. "Panggil saya sesuka kamu aja. Asal jangan panggil Abang." Do

