Dikuasai oleh Kemarahan

1009 Kata
"Berlebihan kau bilang ? Lelaki kalau uda berani kasar itu penyakit diri, sampai kapan pun dia pasti akan ringan tangan!" Ucap Bapak kesal. " Terserah kalian aja, aku cuma mau anak itu nikah sama Al." Bentak Ibu. Plak.. Satu tamparan melayang kewajah sang istri, Yanti. "Makin gila pikiranmu ya, menjerumus kan anak ketempat yang berbahaya." Emosi Pak Santo. Yanti sedikit ketakutan melihat sang suami tersulut emosi, tak menyangka dia akan semarah ini. Tapi bukan Yanti namanya kalau tak bisa melawan, dia tak bisa dikalahkan. "Kurang ajar, Bapak uda berani menamparku demi anak gak tau terimakasih ini, ha ? Sudah sewajarnya dia berbakti kepada orangtuanya mengikuti apa kata orangtua ini demi kebaikannya juga!" Ucap Yanti yang meledak-ledak. "Kalau demi kebaikan ku, Ibu gak akan melanjutkan perjodohan gila ini. Ibu hanya mau mengambil keuntungan kalau aku bisa menikah dengannya, pikiran macam apa itu!" Sarah pun ikut emosi. "Nak jika ada pria baik yang ingin melamarmu, jumpai Bapak secara baik-baik, datang lah kerumah dengan niat yang baik dan sopan-santun. Bapak akan melepasmu dengan pilihanmu sendiri." Ucap Bapak sambil memeluk anaknya. Sarah menangis sejadi-jadinya dipelukan cinta pertamanya yaitu Bapaknya. Baginya cuma sang Bapak yang sangat menyayanginya dan memperlakukannya sebagai anak bukan sebagai musuh seperti Ibunya lakukan. Ibu kesal melihat rencananya pasti akan gagal, dan dia pun meninggalkan suami dan anaknya berpelukan sambil menangis. "Kebanyakan drama banget!" Gerutunya sambil membanting pintu kamar. Berbeda ditempat Ashraf berada. Ia mendapat informasi dari orang suruhannya kalau Sarah lagi bertengkar hebat dengan Ibunya dan yang pasti Ashraf juga mengetahui kedatangan Al untuk melamar gadis yang ia sukai. Geram ? Tentu saja ingin rasanya Ashraf membawa Sarah pergi keluar dari rumah itu dan membahagiakannya. Tak habis pikir dengan sikap Ibunya yang begitu tega terhadap anaknya sendiri. "Kok ada ya Ibu kandung bersikap kurang ajar kepada anaknya!" Pikirnya. "Tunggu aku Sarah, aku pasti akan membahagiakan mu, aku akan datang secepatnya dan meminta restu kepada Bapakmu, tak kan kubiarkan Ibu dan adikmu yang benalu itu mengganggu kebahagiaanmu." Ucapnya dalam hati. "Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Lala, Ibu Ashraf. "Ma, ngagetin aja." Ucapnya. "Habisnya kamu ngelamun gitu, apa belum ngantuk ? Tumben masih diluar, apa ada masalah ?" Tanya Mama. "Belum bisa tidur. Ma, apa Mama akan menyayangi Sarah jika dia jadi menantu Mama?" Tanya Ashraf. "Kenapa kamu bicara seperti itu ? Itu pilihanmu dia menerima mu itu juga sudah menjadi pilihannya. Kalian menikah anak Mama akan bertambah satu, dia bukan hanya sebagai menantu tapi dia Mama anggap sebagai anak perempuan Mama. Kasih sayang Mama akan sama seperti anak kandung Mama sendiri, Mama juga yakin Sarah itu anak yang manis dan penurut. Ibunya saja yang tidak bersyukur memiliki anak gadis seperti Sarah." Ujar Mama. "Aku kasian liatnya Ma, dia makin ditekan oleh Ibunya. Ingin rasanya aku segera membawanya pergi dari rumah itu. Tapi aku juga gak boleh egois, aku hargai keputusan Sarah untuk memberikannya waktu." Ucap Ashraf. "Mama percaya samamu, semoga kalian berjodoh. Bahagiakan dia." Ucap Mama. *Seminggu berlalu "Sarah, seperti biasa kamu makan siang bareng dengan saya!" Perintahnya. "Iya Pak." Jawab Sarah singkat. "Bismillah, kalau memang Pak Ashraf menanyakan tentang jawabanku, aku sudah siap." Ucapnya dalam hati. Jam makan siang yang ditunggu akhirnya tiba. Dengan langkah yang lebar dan rasa penasaran dan tidak sabarnya Ashraf mendatangi meja Sarah ingin cepat segera membawa wanita itu keluar menuju resto yang sudah disiapkan Ashraf. "Bismillah, kok aku yang deg-degan ya?" Monolog Ashraf. "Apapun jawabannya InsyaAllah aku siap dan dengan lapang d**a menerima keputusan dari Sarah, tapi aku sangat berharap semoga jawabannya sesuai dengan yang kuharapkan Ya Allah." Ucapnya melangitkan doa dan harapan. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di restoran yang sudah disiapkan Ashraf. Begitu mereka sampai makanan pun langsung disajikan dan tertata rapih diatas meja, karena menu-menunya sudah dipesan Ashraf terlebih dahulu agar mereka bisa cepat selesai makannya dan tentunya bisa berbincang. "Loh kok uda tersaji Pak?" Tanya Sarah heran. "Iya saya sudah pesan terlebih dahulu, jadi kita tinggal makan." Ujar Ashraf. "Tapi, makanan ini..." Ucap Sarah menggantung. "Apa yang saya tidak tau tentang kamu, Sarah ? Bahkan makanan kesukaanmu pun aku dengan mudahnya mengetahuinya." Ucap Ashraf jumawa. Hal manis seperti itu mampu membangunkan jutaan kupu-kupu didalam hati Sarah. Tanpa ia sadari Ashraf memperhatikannya secara diam-diam. "Apa kau kenyang dengan cara melihatnya?" Ucap Ashraf yang membuyarkan lamunan Sarah. Sarah pun mengerjap karena merutuki kebodohannya dan merasa malu di pergoki sedang melamun. "E-eh gak Pak, maaf saya cuma terkejut aja kenapa Bapak bisa tau." Ujar Sarah terbata. "Dengan sangat mudah saya mencari taunya, dan yang pasti apa kau lupa kita sering makan siang dan aku sudah hafal menu apa yang akan kau makan dan minum." Jelasnya. Sarah tertunduk malu. "Sarah ?" Panggil Ashraf. "I-iya Pak?" Jawab Sarah terbata. Rasa tak sabar dalam diri Ashraf terus mengganggu pikirannya. "Sudah seminggu aku menunggu jawaban darimu, apa kau sudah menyiapkannya ?" Tanya Ashraf disela-sela Sarah lagi menikmati makanannya. Uhuk.. uhukkk "Pelan-pelan rah, maaf aku menganggu makanmu!" Ucap Ashraf lirih sambil memberikan air minum kepada Sarah. Sebelum memberi jawaban, Sarah mengambil posisi duduk yang lebih nyaman lalu memberanikan diri menatap lawan bicaranya. "Pak, saya sudah pikirkan ini selama satu minggu, saya juga sudah mintak petunjuk lewat jalur langit.." ucap Sarah menunduk dan terpotong. "Saya akan terima dengan lapang d**a apapun keputusanmu, semoga kamu mendapatkan pria yang baik dan semoga kamu selalu bahagia." Ucap Ashraf seakan dia tau kemana arah bicara Sarah. Sarah pun dengan tak segan ingin mengerjai pria dihadapannya itu. "Sekali-sekali gak apa-apa ya kan, kalau dikerjain. Tapi.. kalau dia marah gimana ya? Duhh." Monolog Sarah dalam hati. "Maaf Pak." Ucapnya lirih. "Iya tidak apa-apa saya coba ikhlas menerimanya." Ucap Ashraf mencoba ikhlas padahal hatinya rapuh banget. "Ya sudah, cepat selesaikan makanmu. Kita kembali kekantor." Ujar Ashraf terlihat ketus. Sarah pun tanpa rasa berdosa melanjutkan makannya dengan sangat santai dan semakin menikmati. Ashraf mencoba untuk memalingkan wajahnya dari Sarah, ia tak mau semakin dalam dengan rasa yang ia merasa tak mungkin bisa digapai. Sarah diam-diam memperhatikan wajahnya yang terlihat tegang dan dengan jelas terlihat bahwa ia merasa patah hati. "Ih lucu banget wajahnya kalau lagi patah hati, hahaha," kekeh Sarah dalam hati. "Tapi kasian!" Lirihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN