Wajah Layla terlihat tidak bersahabat lagi. Dia tersenyum miring dengan memajukan wajahnya. "Kamu tidak lupa, kan, kalau kamu milikku sepenuhnya?"
Bee sama sekali tidak mendongakkan kepalanya. Dia masih terus fokus menghabiskan sarapan yang kelewat siang. Benar, dia tidak memiliki kendali lagi untuk mengatur hidupnya. Layla telah mengambil semua itu setelah dia dipungut di jalanan lima tahun yang lalu.
"Ini hakku, karena dia memberikannya untukku."
Layla segera mengisyaratkan pengawalnya untuk merampas tas Bee dengan paksa. Tidak ada penolakan dari gadis itu, dia sudah tahu kalau dia tidak akan menang melawan dua pria berbadan kekar dengan tubuh kecilnya itu.
"Bagus, jadilah anak baik selama di sini." Layla tersenyum puas memandangi Bee sekarang. Dia membuka tas itu dan mengambil setengah dari uang yang diberikan Roy tadi dan melempar sisanya ke arah Bee. "Kamu boleh menyimpan setengahnya, karena aku tidak akan membiarkanmu menyimpan uang lebih."
Bee menatapnya dengan tajam. Ingin sekali dia menusuk jantung wanita itu dengan pisau tajam hingga dia tergeletak tidak bernyawa. Tapi sekali lagi, Bee tidak akan bisa melawan. Kedua matanya penuh amarah yang ia tahan. Dendam, dan semua rasa sakit yang tak pernah terungkapkan.
Kedua tangan Bee masih menggenggam erat sendok sekaligus garpu begitu erat seperti mencekramnya. Kemudian dia meletakkan itu begitu saja dan pergi dari sana setelah menyahut tasnya.
Layla memang seperti itu. Dia membatasi keuangan semua anak yang ia jajakan karena tidak mau jika mereka sampai kabur jauh dirinya. Apalagi Bee, yang merupakan idola semua klien-nya.
Dia naik, menuju kamar yang dikhususkan untuk dirinya sendiri dari Layla. Sementara teman-temannya yang lain tidur dengan dua sampai tiga orang dalam satu kamar. Tidak terlalu besar, tapi setidaknya Bee punya tempat privat.
Dia membanting tubuhnya ke atas kasur berukuran sedang dengan sedikit lebih keras. Tatapanya kosong, memandangi langit kamar. Dia tidak pernah menitikkan air matanya lagi sekarang. Hanya kedua matanya yang tidak berkedip, seperti melihat bayangan seseorang di atap itu.
Kedua orang tuanya, terlintas di pikiran Bee. Sungguh dia rindu memanggil kata mama, papa, dia rindu ada telapak tangan yang mengusap kepalanya. Potongan ingatannya mulai terlintas satu persatu seperti cuplikan film.
Dia masih ingat, bagaimana dia memeluk mamanya ketika dia pulang sekolah. Menyambut papanya saat dia pulang bekerja. Andaikan itu bisa dia ulang kembali.
Bee memiringkan tubuhnya dengan kedua kaki yang ia tekuk. menatap pergelangan tangan yang masih terlihat memar karena ikatan. Jemarinya menyusuri luka itu. Kenapa tidak ada rasa sakit?
Bukan hanya hatinya yang mati rasa, tapi tubuhnya pun mengalami hal yang sama.
Dia terus memandangi luka itu. Pikirannya kosong, Bee hanya ingin kembali tertidur, dan berdamai dengan dirinya.
Tidak apa-apa, kamu kuat dan hebat. Bilang terima kasih pada dirimu sendiri, Bee! Terima kasih, sudah bertahan sampai sejauh ini.
Bee terlelap perlahan. Tubuhnya masih sangat lemah dan Lelah. Dia membiarkan kepalanya tergeletak tanpa bantal. Tubuhnya tertekuk seperti bayi yang berada di dalam kandungan.
Kemudian dia merasakan ada usapan lembut di kepalanya. Tangan yang selama ini dia rindukan. Terasa begitu damai setiap telapak tangan itu menyentuh puncak kepalanya. Bee manikmati itu, dan tidak ingin itu berakhir.
Dia mengerjap perlahan, ingin sekali melihat wajah pemilik telapak tangan itu. Saat dia membuka matanya, ternyata tidak ada orang sama sekali. Itu hanya mimpi, pengobat rindunya di alam bawah sadar.
Jika sejak awal dia sadar itu hanya mimpi, maka dia tidak akan mau untuk terbangun lagi. Biarkan dia lebih lama merasakan itu, meskipun dia tidak pernah melihat wajahnya.
Bee tersenyum kecut, menertawai dirinya sendiri. Kemudia dia keambali menelentangkan tubuhnya. Retinanya melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul enam sore. Dia harus segera bersiap, karena Layla mengatakan dia akan dijemput klien-nya pukul tujuh nanti.
***
Tidak ada tambahan luka malam ini setelah dia menyelesaikan ronde pertamanya. Semua klien-nya normal, kecuali hanya Roy yang setengah gila jika sudah berada di atas ranjang. Dia keluar kamar hotel dengan santai, meninggalkan pria yang masih tanpa busana tertidur di atas Kasur.
Rambutnya kembali rapi seperti semula. Masih ada waktu dua jam lagi untuk ronde kedua. Dia memutuskan untuk pergi menemui Raksa di kelab biasanya. Saat dia dia melewati tempat parkir, dari kejauhan dia melihat seorang wanita yang tengah diperlakukan tidak manusiawi oleh seorang lelaki.
Kepalanya dibentur-benturkan di kaca mobil yang transparan itu. Pria yang melakukan itu memakai setelan jas hitam, dan duduk di sisi wanita itu. Bee memperlambat langkahnya, dia mengawasi adegan yang sama sekali sudah biasa baginya.
Kemudian wanita itu ditarik keluar oleh seorang lelaki lainnya dengan kasar. Sepertinya dia juga korban perdagangan manusia seperti dirinya saat ini. Awalnya dia tidak mau tahu, melewati mereka begitu saja. Toh dia juga merasakan hal yang sama.
Namun, Entah dorongan dari mana, dia kembali berbalik dan mengikuti langkah gadis yang sepertinya sepadan dengannya. Saat pintu lift hendak tertutup, dia masuk dan berdiri sejajar dengan wnita itu. Mereka tidak berbicara apa pun, sampai Bee berpikir kalau dia salah mengambil tindakan. Seharusnya dia pergi saja tadi, dan tidak usah kembali lagi.
gadis itu terus menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat penuh luka. Bee seperti melihat dirinya sendiri di wajah gadis itu. Kemudian, dia memencet lantai di mana dia melayani pria tadi. Tapi gadis itu tidak juga turun, padahal itu sudah lantai teratas.
Sudahlah, Bee tidak mau tahu lagi setelah ini. Dia keluar dari lift itu dan berhenti ikut campur masalah gadis yang tidak ia kenali. Pintu lift kembali tertutup. Akan tetapi, saat Bee baru saja berpaling dari sana, perasaannya masih saja tidak enak. Gadis itu memenuhi pikirannya, dan akhirnya Bee kembali mengikuti dia dengan naik ke rooftop.
Benar, dia berada di sana, di saat yang tepat tapi di posisi yang keliru. Gadis itu sudah berdiri di pingir gedung, dia bersiap untuk melompat dari ketinggian hotel itu. Bee terlihat sedikit panik, tapi tidak kaget sama sekali.
Dia berjalan perlahan ke arah gadis itu dengan mencoba menenangkan dirinya sendiri. Gadis itu sudah melepas high heels, dengan kepala yang menatap lurus. Kehadirannya sudah disadari oleh gadis itu, tapi dia hanya diam dan tidak bergerak sama sekali.
Bee berdiri di bawahnya. kedua matanya menatap lurus dengan berkata, "Kamu tau, aku juga pernah berada di posisimu seperti yang kamu lakukan sekarang."
Gadis itu tetap diam, dia persis seperti dirinya selama ini. Bee dapat merasakan semuanya, bagaimana sakitnya, bagaimana putus asanya wanita itu yang juga ada dalam dirinya.
"Pergilah, atau kamu akan menjadi tersangka."
***