Sean menatap foto kenangan semasa senior high school. Persahabatan mereka sangat rumit bahkan sampai sekarang. “Kau belum sarapan?” Sean mendongkak menatap Mingmei yang berdiri di ambang pintu. Kakaknya meletakkan nampan dengan sarapan di atas meja kerja Sean. Gadis itu tersenyum dan menuangkan the hangat ke dalam cawan. “Minumlah,” ujarnya. Sean menerima teh yang Mingmei berikan. Untuk pertama kali Sean merasakan hatinya damai. Ia bisa tersenyum di pagi hari. Meski matanya masih bengkak karena menangis sepanjang malam. Biarlah ia dibilang pria cengeng. Bukalnkah pria juga memiliki perasaan sensitif. “Terima kasih,” ucapnya pada Mingmei. Gadis itu menggenggam tangan Sean lembut, memberikan kekuatan pada Sean. “Hidup akan lebih nyaman tanpa dendam, apa kau merasakannya?” Sean mengan

