David terbangun dari tidurnya. Semalam ia menangis hingga lupa untuk kembali ke kamar. David menatap rumahnya yang terlihat sepi. David memejamkan matanya berharap semua yang dialaminya hanya mimpi. Tapi rasa sakit itu masih ia rasakan hingga sekarang. David meremas dadanya yang terasa sakit. “Kau membuatnya terluka,” gumam David lemah. Suara dering ponsel membuat kepalanya terangkat. Dengan enggan David menjawabnya. “Bagaimana? Apa kau sudah mengatakan pada Mayleen?” David menghela napasnya, ia tidak ingin membahas apa pun saat ini, terutama Mayleen. “Semuanya berakhir sebelum dimulai,” ujar David lemas dan mengahiri panggilan itu. Ponselnya kembali berdering, ia tahu Manager Li pasti khawatir dengan keadaannya. Terlebih pria itu sangat antusias dengan rencana David untuk menyatakan

