Bab 7

823 Kata
Jam 9 malam... Perspektif Jonathan.. Sudah satu jam dan aku masih belum menyelesaikan PR sains saya. Ditambah lagi, PR matematika dan IPS masih ada di daftar tunggu. Saat seperti ini, aku berharap bisa bertanya kepada Pak Dimas mengapa dia harus memberi kami terlalu banyak PR dalam sehari, ketika aku bisa melakukan hal-hal lain seperti mencari pekerjaan paruh waktu, yang kini belum bisa ku lakukan dengan banyaknya PR. Aku tidak mendesah sekalipun. Aku tidak ingin merasa seperti berada di salah satu drama TV di mana karakter utamanya akan merasa hancur karena hal sepele. Itu hanya akan terkesan dramatis. Saat aku lanjut mengerjakan PR IPA ku, tiba-tiba aku mendengar ketukan dari pintu kamar. Aku berasumsi itu mungkin Johnny. "Masuk!" Aku tidak repot-repot untuk melihat siapa pun yang memasuki ruangan. Namun, begitu mendengar pintu terbuka, aku mendengar langkah kecil memasuki kamarku, bersamaan dengan suara yang menggelegar di telingaku. "Hai..." Oke, itu bukan Johnny. Dia tidak memiliki tipe suara feminin, dan jelas bahwa suara yang baru saja kudengar adalah milik seorang wanita. Aku menoleh ke samping untuk melihat Amanda berdiri dengan ransel berwarna biru muda di tangan kanannya. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku bingung. Aku tidak berharap dia muncul saat ini terutama tanpa dia memberitahuku sebelumnya. Meski sejujurnya, kehadirannya sama sekali tak mengganggu ku. "Maaf. Aku hanya ingin bertanya apakah kamu bisa membantuku mengerjakan PR," katanya, matanya menatap ke bawah. Aku membentuk senyuman kecil di bibir ku. Aku ingat bahwa Amanda tak menyukai IPA sama seperti ku, jadi kemungkinan itu adalah alasannya membutuhkan bantuan di jam segini. "Mari kita mulai," ku berkata, membuatnya menoleh ke arahku. Sebuah senyum kecil terbentuk di bibirnya. Aku memutuskan untuk memindahkan PR ku ke lantai, di mana aku duduk di sebelah Amanda yang tengah mengeluarkan PR nya dari ranselnya. Sudah lama kami tidak mengerjakan PR bersama, mungkin karena biasanya Amanda akan keras kepala dan bersikeras bahwa dia tidak butuh bantuan. Setidaknya, ia lebih sering bersikap seperti itu. Setengah jam kemudian... Perspektif Amanda... Menghabiskan waktu mengerjakan PR bersama, aku tidak berani menatap matanya yang terus memikat dari waktu ke waktu. Matanya terlihat seperti jendela ke laut, yang menurut ku cukup menarik. Kadang-kadang aku bahkan kehilangan fokus ketika mendengarkan dia, sehingga membuat ku sedikit kesulitan untuk berkonsentrasi. Ini bukan pertama kalinya aku menatap sahabat ku sedekat ini, tetapi untuk kami bisa memiliki waktu berduaan bersama malam ini benar-benar memberikan ku perasaan damai. Sebenarnya, alasan sesungguhnya aku datang ke sini malam ini tidak sepenuhnya karena aku membutuhkan bantuan dengan PR. Sebenarnya, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya malam ini. Dan meskipun kedengarannya egois, entah kenapa aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun malam ini, termasuk saudara kembarku. "Tumben...Alina tak ikut," Jo berkata tiba-tiba. Aku menoleh untuk menghadapinya dengan wajah yang agak datar. Tentu saja, dia merasa aneh ketika Alina tak hadir karena kami hampir selalu bersama. "Dia beristirahat di rumah," kataku dengan nada dingin. "Oh," jawab Jo dengan santai. Aku mengalihkan pandanganku untuk melihatnya fokus kembali pada PR nya. Sengatan kecil melekat di hati ku ketika dia bertanya tentang saudara kembar ku. Setelah kesepakatan kita kemarin malam tentang hubungan kita sebagai teman, kenapa aku masih belum puas dengan keputusan akhir kita? Itu untuk kebaikan kita, tapi kenapa aku masih kecewa? Saat seharusnya aku bahagia karena kita bertiga bisa kembali seperti dulu. Aku merasa egois. "Selesai." Aku mendengar suara Jo berkata dengan nada lega di telingaku. Dia kemudian berdiri untuk meletakkan kembali PR di meja belajarnya, sebelum menoleh ke belakang untuk menghadapku. "Kamu baik-baik saja?" dia bertanya padaku. Aku mengalihkan pandanganku ke atas untuk melihatnya berdiri di samping mejanya. Mata kami bertemu dan aku hanya bisa menatap tajam ke matanya. Saat ini aku berharap mata ku dapat mengirimkan semacam pesan tentang perasaan yang rumit ini. Tetapi sekali lagi, aki tahu bahwa ini akan menjadi kesalahan yang egois. "Amanda?" suaranya bergemerincing di telingaku lagi. Aku mengalihkan pandanganku ke bawah, lalu menghela napas. Gila, Amanda, apa yang terlintas dalam pikiranmu? Kamu tidak boleh merasa seperti ini pada sahabatmu, apalagi setelah mengetahui bahwa saudara kembarmu juga menyukainya. Perasaan mu terhadapnya tidak hanya dapat merusak persahabatan mu, tetapi juga akan menyakiti perasaan saudara mu. "Aku baik-baik saja," ku berkata. Jonathan menatap ku dengan wajah bingung. Dia tidak terlihat seperti dia percaya padaku, dimana aku sudah punya perasaan dia tidak akan percaya. Aku bukan pembohong yang baik karena wajah ku berbicara terlalu banyak. Dia berjalan perlahan dan duduk di sampingku di lantai. Dia menoleh ke arahku, di mana aku menghindar untuk menatap ke arahnya Sesaat keheningan canggung memenuhi udara, karena aku sendiri bisa merasa gugup tiba-tiba. "Kuharap tidak ada yang canggung di antara kita," kata Jonathan tiba-tiba. Aku menoleh untuk akhirnya melihatnya. Mata kami bertemu setelah beberapa saat ia menghindariku, dan sekali lagi matanya tidak pernah gagal untuk menumbuhkan percikan di hatiku. Tatapannya dipenuhi dengan semacam keajaiban. Aku ingin berharap dia tidak tahu tentang perasaan ku yang begitu rumit saat ini, tetapi ku meragukannya. Dia mungkin sudah membaca ku terlalu banyak. "Aku ingin semuanya kembali seperti semula," kataku. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN