Tetap Tertuduh

2259 Kata
Arya menghela nafasnya, menyaksikan dengan prihatin sikap Farid dan Dewa yang kontradiktif. “Om, dia yang menyebabkan Resty jatuh!” seru Dewa tidak terima. Farid menatap Dewa dengan ekspresi lelah. “Kita sudah lihat di CCTV jika Larisa tidak bersalah, Wa. Lagipula dia ingin menengok orang sakit, kenapa dilarang?” ucapnya panjang lebar. Dewa mendesah kecewa. Tetapi akhirnya menerima sikap ayah kekasihnya itu. Dia bisa apa? Farid yang lebih berhak memutuskan. Arya mengulum senyum menyaksikan kebijakan Farid. Hari Senin Larisa sudah diperkenankan masuk. Awalnya dia enggan, takut orang-orang di kantor masih memusuhinya. Tetapi papa dan mamanya menyemangatinya. Dari pagi Reina sudah menelponnya, membujuknya untuk masuk kerja dengan dalih deadline kerja. Sa, tim kita untuk koleksi ini lebih banyak pakai desainmu. Jadi kamu harus bertanggung jawab, kata Reina tadi pagi lewat sambungan telepon. Bahkan Alex bersedia menjemputnya meski harus berangkat lebih pagi. Rumahnya di Kalibata, harus menjemput Larisa yang berdomisili di Pasar Rebo. Dan kantor mereka di kawasan Sudirman. Merasa sungkan dengan semangat Alex dan Reina, Larisa pun memutuskan masuk kantor. Apalagi menurut mamanya, dia harus berani menghadapi segala kemungkinan yang ada didepannya. Nasi sudah menjadi bubur. Tinggal buburnya dibikin enak, karena tidak mungkin memaksa bubur kembali jadi nasi. Sepanjang perjalanan, Alex selalu melemparkan bercandaan receh, demi Larisa bisa sedikit rileks. “Sa, sudah dikunci pintunya?” tanya Alex sebelum menjalankan mobilnya. “Sudah, Kak,” jawab Larisa. “Hatimu sudah dikunci juga?” lanjut Alex. “Apaan sih, Kak?” sergah Larisa sebal yang disambut kekehan tawa saudara merangkap sahabatnya itu. Kemudian saat di tengah perjalanan, Alex bertanya lagi. “Tahu nggak beda semut dan kupu-kupu?” Larisa menggeleng. “Kalau semut berjalan di dinding dan lantai,” beritahu Alex. “Kalau kupu-kupu?” tanya Larisa. Akhirnya tertarik untuk membahasnya. “Beterbangan di hatimu,” gombal Alex. Larisa memutar bola matanya malas. Tetapi tak ayal dia bersyukur, karena bercanda recehnya Alex bisa sedikit meredakan rasa gugupnya. Benar saja dugaan Larisa. Sesampainya mereka di kantor, orang-orang melihatnya dengan pandangan ganjil. “Udah, santai,” kata Alex sambil merangkul bahunya, menyalurkan perasaan nyaman di hatinya. “Dari dulu gitu sama Alex, jadi enggak perlu bikin Resty koma,” suara salah satu orang yang satu lift dengan mereka. Alex menggenggam tangan Larisa pelan. Liana yang satu lift dengan mereka, menatap benci ke arah genggaman tangan itu. Ya, dari dulu dia menaruh hati kepada Alex. Tetapi laki-laki itu tidak pernah meresponnya. “Lumayan deh, dia punya serepnya,” timpal yang lain. Alex memerah mukanya. Sedang Larisa merasa jika gerak lift sangat lambat sampai ke lantai tujuh. “Innocent mukanya, play girl juga nggak tahunya,” genggaman tangan Alex pada Larisa terasa keras. Gadis itu menoleh ke arahnya. “Mau aja Alex jadi serepnya.”. Liana menyeringai mendengarnya. Kesempatan dirinya untuk menumpahkan segala kekesalannya. “Begitu amat jadi perempuan.”. Kali ini suara dari sudut lain ikut berisik. Ini sudah cukup! Alex berbalik dan menatap sekitarnya. “Hai orang-orangan sawah! Ada bukti Larisa tidak bersalah dari penyelidikan polisi! Mulutnya jahat banget ya kalian!” Seketika sindiran itu berhenti. Alex yang dikenal ceria sedang meradang. Dia marah dengan mulut-mulut jahat di dalam lift. “Kalau kudengar lagi ada yang mencela Larisa, berhadapan dengan saya! Paham?!” ancam Alex pada semua orang yang di dalam lift. Yang mendengarnya masih diam. Liana memandang Larisa dengan kebencian yang semakin menggunung. Lift berhenti di lantai tujuh, Alex segera menarik tangan Larisa dan keluar dari sana. Liana mengikuti mereka dengan hati kesal. “Kak, ruanganmu kan lantai delapan,” kata Larisa mengingatkan. “Kuantar kamu sampai selamat di depan Mbak Reina,” sergah Alex. Tiba-tiba dia Larisa tersenyum kecil. “Nyari alasan biar ketemu Bu Reina,” usilnya. Tawa Alex membahana mendengar sahutan gadis itu. “Nah itu tahu!” seru laki-laki berwajah sedikit Arab itu seraya mengacak rambut kriwil Larisa. “Mbak Rei!” seru Alex begitu mereka memasuki ruangannya. Reina yang sedang membuat kopi di sudut ruangan, menoleh dan tersenyum riang ke arah mereka. “welcome back,” sapa Reina bersemangat. Ditinggalkannya kopi bikinannya, kemudian bergegas menghampiri keduanya. Dipeluknya staff juniornya dengan sayang. “Lho, aku nggak dipeluk, nih!” protes Alex, begitu dilihatnya keduanya berpelukan. “Jangan ngarep!” sergah Reina sadis, sedang Larisa hanya tertawa lirih. Alex cengengesan melihat reaksi gadis itu. Pipi atasan sahabatnya itu memerah. “Oke deh, aku tinggal dulu. Titip Larisa ya, Mbak,” kata Alex yang bersiap ke ruangannya. “Siap,” jawab Reina. Lain dengan sikap riang Reina ketika menyambut kedatangannya, teman satu ruangan yang lain hanya menatap sinis kepadanya. Larisa menghela napasnya. Ternyata orang lebih mudah percaya dia bersalah daripada bukti yang menyatakan kebalikannya. Alex menepuk bahunya. “Aku balik ke ruanganku ya, nanti kusamperin buat makan siang,” kata laki-laki berhidung mancung itu. Larisa menganggukkan kepalanya. “Aku ikut ya,” pinta Reina. “Waduh, seneng banget aku ini ditemani makan siang dengan dua bidadari sekaligus!” seru laki-laki itu kegirangan. Kedua perempuan itu mencibir. “Sana balik ke ruangan!” usir Reina dengan pipi yang masih memerah. Alex tertawa seraya berjalan keluar ruangan. Sepeninggalan Alex, ruangan mulai terasa dingin. Orang-orang menatap penuh cemooh kepada Larisa. “Ayo semua bekerja!” seru Reina, kemudian menepuk bahu Larisa. “Semangat ya,” bisik Reina menyemangati. Larisa mengangguk dan duduk di kursinya. Dia harus konsentrasi, ada banyak pekerjaan yang menumpuk menunggunya untuk diselesaikan. Sementara Alex yang sudah keluar dari ruangan, dicegat oleh Liana. “Alex!” seru gadis cantik berkulit kuning itu, mengejar sekaligus memanggilnya. Alex mengerutkan kening seraya menghentikan langkahnya. Menunggu Liana berdiri menghadapinya. “Ada apa?” tanya Alex dengan suara datar. “Kamu pacaran sama Larisa?” tanya perempuan itu tho the point. Alex menatap Liana dengan ekspresi jengah. “Kalau iya kenapa?” “Kamu nggak lihat kemarin dia ngejar-ngejar Pak Dewa dan bikin Resty koma?” tanya Liana pedas. “Dan kamu nggak tahu kalau CCTV membuktikan Larisa tidak bersalah?” tanya Alex kalem. Liana tergagap, dia baru tahu berita ini dan panik mendengarnya. “CCTV?” ulangnya. Alex menyipit menatap Liana sengit. “Ya! Justru Resty yang akan menarik Larisa!” Wajah Liana memucat sebentar, kemudian berdehem. “Dan sekarang dia bebas?” Alex benar-benar jengah dengan sikap Liana. “Dengar, Liana, apa yang terjadi antara saya dan Larisa itu bukan urusanmu!” serunya, kemudian balik kanan menjauhi perempuan itu. Liana menatap Alex kesal. Dia jengkel karena laki-laki itu membela Larisa mati-matian. “Ngapain kamu di sini, Li?” suara Dewa yang bertanya kepada Liana, membuatnya kaget. “Pak Dewa,” sapa Liana lirih. Dewa mengerutkan dahinya. “Ini jam kerja, Li,” tegurnya. Liana mengangguk, dan tanpa mengatakan apa-apa, dia masuk ke ruangannya. Sebenarnya dia ingin menanyakan kabar Resty, tetapi setelah mendengar info dari Alex, sejujurnya ada ketakutan tersendiri di hatinya. Bagaimana kalau ketahuan ada cairan pembersih di sana? tanya Liana sambil terus berjalan ke kubikelnya. Bagaimana kalau ada penyelidikan lebih lanjut? Liana makin tenggelam dalam ketakutannya. Sepanjang hari ini pun, dia tidak tenang bekerja. Ketakutan jika aksinya dan Resty bisa membuatnya dalam masalah besar. Larisa pun tidak begitu tenang bekerja. Meski setengah mati berusaha fokus, tetap saja merasakan ketidaknyamanan karena aksi pengabaian dari teman-teman kerjanya. “Mbak, yang ini sudah,” ucap kepada Vivian, seniornya yang mejanya ada di sebelahnya. Vivian hanya mengambil gambar desainnya tanpa bicara. Larisa mendesah dengan reaksi tersebut. Tidak ada percakapan hangat membahas desain dan material untuk desainnya. Dia benar-benar merasakan situasi tidak nyaman ini. Sepanjang hari orang-orang di ruangan tetap diam. Sehingga Larisa pun memilih tenggelam dengan pekerjaannya. Ketika waktu makan siang, Larisa tidak menyadarinya. Teman kerjanya keluar dari ruangan tanpa dia sadari. Mereka pun tidak berusaha mengajaknya. Sampai Alex dan Reina berdiri di dekatnya dan memanggil Larisa. “Sa, makan yuk,” ajak Alex, mengusap kepalanya pelan. Larisa menoleh ke arah laki-laki berwajah Arab itu dan berusaha tersenyum. “Nggak laper,” jawabnya. Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya dan pulang lebih dahulu, supaya tidak bertemu dengan wajah-wajah yang mencemoohnya. Kalau mungkin dia ingin ke Rumah Sakit, menengok Resty dan meminta maaf atas segala perbuatan konyol dirinya kepadanya dan Dewa. “Makan Sa, supaya kuat menghadapi hidup,” seloroh Alex, setengah memaksa gadis itu berdiri dan pergi ke kantin bersama. Reina mengikuti keduanya sambil terkekeh. Dia cukup senang melihat Alex begitu mendukung Larisa. Sendirian menghadapi cemooh orang-orang itu tidak mudah, dan kehadiran laki-laki itu di samping gadis berambut keriting itu cukup membantu. Bukannya Reina tidak mau mendampingi Larisa. Sebagai kepala tim, dia harus bersikap netral. Tidak mungkin terlalu membela staffnya itu, meski hasil dari penyelidikan polisi menyatakan juniornya tersebut tidak bersalah. Sampai di kantin yang sudah lumayan ramai, hampir semua memandang ke arah mereka. Lebih tepatnya kepada Larisa. Reina langsung mendudukkan Larisa di meja paling pojok yang kebetulan kosong. Gadis itu menunduk, menghindari kontak mata dengan semua orang. “Aku saja yang pesan makanan, kalian pesan apa?” tanya Alex kepada kedua perempuan tersebut. “Nasi soto, kamu pesen apa Sa?” Reina bertanya sambil menoleh ke arah Larisa. “Somay,” jawab Larisa. Dia tetap menundukkan wajahnya. Alex mengangguk, kemudian berjalan ke arah stand makanan untuk memesan makanan yang diminta kedua perempuan tersebut. “Tegakkan kepalamu, Sa. Kamu tidak bersalah, dan orang harus tahu itu,” kata Reina memberi semangat. Larisa mencoba mengikuti saran supervisornya itu. Belum ada satu menit, dia langsung menundukkan pandangannya lagi. Dirasakannya semuanya mencemoohnya. Reina menghela nafasnya panjang. “Ini baru hari pertama, Sa. Akan banyak hari yang akan terus seperti ini untuk kamu hadapi,” keluhnya. Larisa paham, tapi sungguh dirinya sangat takut dengan semua yang harus dihadapinya hari ini dan seterusnya. Alex datang dan duduk di hadapan mereka. “Ada apa?” tanya Alex, saat melihat Larisa menundukkan kepalanya. Laki-laki keturunan Arab itu menghembuskan nafasnya berat, setelah disadarinya bahwa sebagian besar pengunjung kantin bicara berbisik seraya menatap Larisa secara terang-terangan. Laki-laki itu pun berdiri, menatap sekeliling kantin. “Ada apa? Kenapa kalian melihat Larisa? Dia sudah dinyatakan tidak terbukti menyebabkan Resty celaka!” seru Alex jengkel. “Kak,” bisik Larisa, mencoba menghentikan aksi Alex. Reina sendiri langsung memeluk gadis itu, menenangkan. Sementara yang lain diam, mencoba mengalihkan pandangan mereka, begitu mendengar Alex bicara. “Apa perlu bikin pengumuman di kantor tentang hasil penyelidikan?!” sekali lagi, Alex lantang membela Larisa. Dan semua orang tetap diam. Tetapi ada yang menanggapinya pada akhirnya, yaitu Dewa. Dari sisi lain kantin dia berjalan mendekati ketiganya. “Kalau mereka tidak bertemu, Resty tidak akan celaka. Ada cairan pembersih lantai juga di sana kan?” tanya Dewa dengan nada mencemooh. Menatap Larisa tajam. Gadis itu terus menunduk. Alex mengikis jarak antara dirinya dan Dewa, sorot matanya tajam berani menatap salah satu petinggi perusahaan. “Satu ruangan timnya melihat jika Resty yang memaksa Larisa untuk bertemu di tangga darurat. Dan sepanjang hari dia di ruangannya sampai datang ke tempat yang diminta kekasihmu!” lantang Alex menjawab. Dewa diam, masih memandang Alex tajam. “Apa Bapak mau bilang cairan pembersih itu sengaja ditumpahkan Larisa ke sana?” tanya Alex sakartis. “Apa kamu mau menuduh Resty yang sengaja mencelaikai dirinya sendiri dengan menumpahkan cairan itu?” Dewa ganti bertanya dengan nada menahan amarah. “Saya atau Bapak yang terlebih dahulu membicarakan masalah cairan pembersih itu?” Alex membalikkan pertanyaan Dewa dengan telak. “Dewa! Alex!” Tampak Arya berjalan ke arah kedua pria tampan itu. Dia baru datang dari makan siangnya dengan seorang relasi bisnis ketika asistennya melaporkan Alex yang marah-marah di kantin. Karena itu Big Boss PT Mega Star bergegas ke tempat makan tersebut. Sampai di sana, justru dilihatnya Dewa dan Alex beradu mulut, dengan posisi Larisa yang terus menunduk dengan kedua telapak tangan menutup mukanya, Reina masih setia memeluknya. Begitu sampai di hadapan Dewa dan Alex, Arya menggelengkan kepalanya. “Kalian seperti anak kecil,” desisnya dengan penuh kekecewaan. “Alex terlalu membela pembunuh itu, Pak,” Dewa membela dirinya. Mendengar ucapan itu, Larisa menangis histeris. Kemudian gadis itu berdiri sambil berurai air mata. “Bukan saya yang membuat Kak Resty jatuh!” dia berteriak histeris. Sesak menghimpit dadanya dan keluarlah pembelaan diri penuh frustasi. Reina segera berdiri dan memeluk Larisa, menepuk-nepuk punggungnya pelan. Tetapi Dewa bergeming, sorot mata tajamnya kini menghujam Larisa yang wajahnya sudah penuh air mata. Arya pun langsung bertindak cepat. Dia tidak mau suasana kerja jadi makin tidak kondusif. “Larisa tidak mencelakai Resty. Dia terpeleset justru saat sedang mengejar Larisa yang akan pergi! Pengumuman resmi akan diberikan besok disetiap group chat kantor. Jika ada lagi yang membahas dan menyalahkan Larisa setelah pengumuman resmi, akan langsung terkena peringatan resmi dari kantor. Sekarang semua bubar!” seru Arya. Seluruh karyawan yang ada di kantin pun melaksanakan perintah Arya. Kecuali mereka berlima, tetap diam di tempat. Arya menatap ke arah Reina dan Larisa. “Rein, bawa Larisa untuk mencuci mukanya. Setelah itu kalian ke ruanganku,” titahnya kepada karyawannya itu. “Baik, Pak!” jawab Reina. Sejurus kemudian, dia pun membawa Larisa keluar kantin. “Kalian ikut ke ruanganku, sekarang!” perintah Arya kepada keduanya, kemudian membalikkan badannya dan keluar dari kantin. Dewa dan Alex pun mengekor Boss mereka tersebut. “Silahkan duduk,” kata Arya kepada keduanya, begitu mereka bertiga masuk ke ruangan CEO. Kemudian Arya menghubungi sekretarisnya lewat intercom. “Panggil Liana dari divisi desain ke ruangan saya, Mia,” katanya. Membuat keduanya saling pandang kebingungan. Untuk apa Liana dipanggil? Begitu pun Liana, dia langsung kebingungan begitu supervisornya memanggilnya. “Liana, kamu diminta Pak Arya ke ruangannya sekarang,” kata Gino, supervisornya, saat memanggilnya di ruangan. “Ada apa, Pak Gino?” tanya Liana bingung. “Aku nggak tahu. Yang menghubungiku tadi itu sekretarisnya,” jawab Gino. Liana pun keluar rungaan dengan hati berdebar. Menduga-duga kenapa Big Boss memanggilnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN