“Saya memang bukan Kak Resty,” Larisa berucap, tersenyum untuk menutupi rasa sakit hatinya. “Maaf Sa, aku tidak sengaja bicara seperti itu,” Dewa masih berusaha memperbaiki perkataannya. Larisa menggelengkan kepalanya. “Hati Pak Dewa memang hanya untuk Kak Resty,” dengan tegar, Larisa berucap. Mengulangi rasa hatinya. Keduanya diam. Dewa jelas mengomeli mulutnya yang lancang bicara tanpa dikontrol. Sedangkan Larisa seperti mendapatkan jawaban atas keraguannya. Kenapa masih ada nama Resty? Dewa memarahi dirinya sendiri dari dalam hatinya. Keragu-raguanku ada benarnya, dengan hati yang terluka, Larisa juga merasakan lega. Prasangkanya ternyata terjawab, kan? “Kita tidak mungkin menikah, saya tidak bisa bersaing dengan mendiang,” kata Larisa mengambil keputusan. Dewa menarik Lari

