Larisa merasa kakinya lemas. Kemudian mengingat bahwa Dewa berkali-kali memberikan isyarat perpisahan. Dengan tertatih-tatih, Larisa kembali ke ruang kerjanya bersama Dewa. Sedangkan di dalam ruangan Sangmin, berlanjut percakapan antara Dewa dan bosnya tersebut. “Kog mendadak?” Sangmin bertanya dengan ekspresi bingung. Dewa menghela nafasnya, mencari kata-kata yang tidak membuat bosnya tersinggung. “Saya ingin usaha sendiri,” kata Dewa, tetapi Sangmin merasa jika Dewa gamang dengan keputusannya. “Bukan karena Larisa?” tebak Sangmin, senyum geli tampak di wajah putihnya. Wajah Dewa memerah, seperti karena terpergok melakukan hal yang memalukan. “Ini pekerjaan terakhirnya sebelum berangkat ke Korea. Mana mungkin saya keluar gara-gara Larisa,” Dewa mencoba menyanggah tebakan Sangmi

