Episode 5 - Tak Memikirkan

1662 Kata
Setelah Nia dan Niken pergi, Nata membawa Akmal ke kamarnya untuk beristirahat. Nata tidak mau Akmal menjadi kembali sakit, akibat stress dengan apa yang baru saja terjadi. Saat ini Haura tengah dirawat oleh Umminya dan juga perawat yang dibawa oleh Pranoto, jadi Nata hanya perlu menghubungi Dokter Ema yang akan memeriksa keadaan gadis itu. Akmal duduk bersandar pada ujung tempat tidurnya. Tatapannya jatuh keluar jendela. Ia melamun dan terus saja memikirkan semua kesalahannya selama ini. Ia begitu membanggakan Nia dan Niken, selalu memanjakannya dan membiarkan mereka bertindak sesuka hati. Hingga tak sadar kalau apa yang ia banggakan dan biarkan, telah membuat seseorang menderita lahir dan batin. Apa yang terjadi pada Haura, bukanlah sesuatu hal yang sepele. Haura trauma secara mental dan juga fisik, akibat dari semua perbuatan Nia dan Niken. Kini, ia bahkan harus melihat sendiri, bagaimana Haura yang begitu trauma hingga hanya mendengar suara mereka pun, membuat gadis itu sangat ketakutan. Nata mendekat pada Akmal, dan duduk di sampingnya. "Kakek kenapa? Kok diam terus, dari tadi?" tanya Nata, lembut. Akmal kini menoleh untuk menatap wajah cucunya, satu kenang-kenangan dari Danu yang masih bisa ia dekap. "Kakek tengah menyesali semua hal yang pernah terjadi di dalam rumah ini, Nak. Seandainya saja dulu Kakek tidak membebaskan tingkah laku mereka, maka mungkin sekarang semuanya tidak akan jadi seperti ini. Kamu lihat sendiri, Haura begitu ketakutan saat mendengar suara bentakan Nia dan Niken. Dia masih muda, namun sudah harus merasakan ketakutan yang amat besar seperti itu, di dalam hidupnya. Dan semua itu adalah karena kesalahan Kakek yang terlalu memanjakan mereka dengan kekuasaan sebagai Nyonya Brawijaya," jawab Akmal, sambil mencoba menahan airmatanya. Nata pun segera merangkul Akmal, dan menepuk-nepuk pundaknya pelan. "Tapi sekarang semua sudah berlalu, Kek. Di rumah ini tidak ada lagi Bibi Nia dan Bibi Niken yang akan menyakiti Haura. Insya Allah, kita akan sama-sama mengubah semuanya, dan menjadikannya lebih baik dari yang pernah terjadi. Sekarang, Kakek istirahat dulu. Jangan terlalu banyak pikiran," bujuk Nata, dengan sabar. Akmal pun tidak bisa lagi membendung airmatanya. Ia bersandar pada pundak Nata dan menangis di sana. "Kakek rindu Almarhum Abimu, dan kamu begitu persis dengan dia. Kakek semakin menyesal karena telah mengusirnya dari sini. Kenapa sesal harus selalu datang belakangan? Kenapa sesal tak pernah datang lebih awal?" ungkap Akmal. "Karena sesal adalah guru bagi diri kita, yang akan selalu mengingatkan kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di masa depan. Jika tidak begitu, maka tidak akan pernah ada yang namanya introspeksi diri." Nata tersenyum dan tetap berusaha menghibur Akmal. "Sudah, sekarang Kakek istirahat. Nanti aku akan menemani Kakek lagi setelah mengurus beberapa hal bersama Pak Pranoto." Nata pun keluar dari kamar itu, dan meninggalkan Akmal sendirian. Ia berpapasan dengan Dahlia, yang segera berhenti di hadapannya. "Bagaimana kondisi Kakekmu?" tanya Dahlia. "Keadaannya sedang tidak baik, Mi. Kakek terus saja merasa menyesal dengan apa yang pernah terjadi di masa lalu. Kakek menyalahkan dirinya sendiri, atas semua kesalahan yang terjadi. Aku sudah berusaha menghiburnya dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja sekarang, tapi sepertinya, apa yang terjadi tadi, sangatlah mempengaruhi kondisi pikiran Kakek," jawab Nata, apa adanya. Dahlia tentu juga merasakan hal seperti yang Nata rasakan, usai mendengar hal itu. "Ya sudah, kamu temui dulu Pak Pranoto, biar nanti Ummi yang bicara dengan Kakekmu," ujar Dahlia. Nata pun mengangguk, lalu segera menuju ke arah ruang depan, sesuai dengan yang diminta oleh Dahlia. Usai Shalat Dzuhur, Akmal masih saja begitu menyesali keributan yang terjadi hari ini. Ia sangat menyesal karena harus melihat lagi bagaimana Dahlia dihina oleh orang lain. Setelah semua usahanya untuk menebus kesalahan di masa lalu, ia hanya bisa membentak balik Nia atas ucapan kasarnya pada Dahlia, tadi. Nata terus meyakinkannya kalau Ibunya itu tidak apa-apa, saat mereka masih berada di luar tadi. Tapi tetap saja batin Akmal begitu tersiksa karena Dahlia terlalu penyabar atas segala hal. Tok..., tok..., tok...!!! Akmal melihat Dahlia berdiri di ambang pintu yang terbuka, di tangannya ada sebuah baki berisi makan siang yang dibawanya dari dapur. Jam di dinding telah menunjukkan pukul setengah satu, tanpa Akmal sadari. Menantunya itu masuk ke sana dan mulai menyajikan makanan ke hadapan Akmal. "Bapak kenapa? Nata bilang sama saya kalau Bapak banyak membicarakan penyesalan," Dahlia menanyakannya. Akmal menunjuk ke arah kursi yang ada di dekat tempat tidur. "Duduk dulu di situ," pinta Akmal. Dahlia pun menurutinya. Akmal mulai memakan buburnya pelan-pelan. "Ya, saya menyesal. Saya menyesali banyak hal termasuk yang baru saja terjadi hari ini," ujar Akmal. Dahlia mendengarkan dalam diamnya. "Katakan pada saya, bagaimana kamu bisa terus-menerus bersabar seperti itu? Kamu tidak pernah membalas, kamu tidak pernah berusaha membela diri, tapi kamu selalu melindungi padahal tidak ada yang melindungi kamu selama ini. Apakah kamu tidak pernah memikirkan setiap hinaan yang orang tujukan padamu?" tanya Akmal. Dahlia tersenyum dari balik niqob-nya. "Saya memang tidak pernah memikirkannya Pak. Setiap kali ada yang menghina, setiap kali ada yang menuduh, saya hanya berusaha mengikhlaskan apa yang mereka lakukan. Karena saya memiliki tempat mengadu yang tepat dalam hidup saya Pak, saya hanya perlu mengatakan segalanya pada Allah kapanpun yang saya mau dan Allah akan memberikan rasa lega di dalam hati saya," jawab Dahlia. Akmal mengangguk-anggukan kepalanya sambil meneteskan airmata diam-diam. "Saya rindu pada Danu," ungkap Akmal, "dan Allah sudah menjemputnya saat saya sadar kalau saya telah membuang seorang anak yang begitu menyayangi saya. Tapi saya masih beruntung, karena meskipun Danu sudah tiada, dia masih meninggalkan kamu dan Nata di sisi saya agar saya tidak menjalani sisa hidup ini sendirian." Nata yang baru saja kembali masuk ke kamar itu pun, segera duduk di samping Kakeknya kembali untuk membuatnya tenang. "Kek, sudah jangan terlalu banyak pikiran. Jangan bebani hidup Kakek hanya untuk sebuah penyesalan. Toh Kakek sudah berusaha keras untuk menebus kesalahan itu selama enam tahun belakangan ini. Aku ataupun Ibu tidak pernah marah pada Kakek. Kakek hanya melakukan kekhilafan dan itu sangat manusiawi bagi kami," bujuk Nata. Akmal menatap Dahlia sambil menunjuk pada Nata. "Lihat? Kamu lihat dia? Kalau Danu tidak menikah denganmu maka dia tidak akan punya kebaikan seperti yang saya lihat setiap hari selama enam tahun ini. Saya hanya akan hidup dalam kebodohan tanpa bimbingan dia," ujar Akmal, dengan hati yang perih. "Pak, apa yang saya lakukan untuk Bapak saat ini adalah bentuk pengabdian saya pada Mas Danu. Mas Danu sudah tidak ada, jadi kepada Bapaklah pengabdian saya akan tercurahkan. Insya Allah, Bapak tidak perlu menyesali apapun lagi. Bapak orang yang baik di mata saya dan juga Nata, Bapak adalah Orangtua kami," ujar Dahlia, tulus. "Ayo, sekarang Kakek makan lagi, baru setelah itu kita tidur siang. Kakek sudah shalat dzuhur, kan?" tanya Nata. "Sudah, mana mungkin Kakek lupa. Kakek kan belum pikun," jawab Akmal yang kembali bisa tertawa. Dahlia pun meninggalkan Nata bersama Akmal untuk menuju ke kamar Haura. Vera sudah membantunya makan, sekarang tinggal membantu gadis itu meminum obatnya. "Alhamdulillah makanannya sudah habis. Putri Ummi memang hebat," puji Dahlia sambil memeluk Haura dengan lembut karena tak ingin menyakitinya. Haura tersenyum lebih bercahaya hari ini. Meskipun tadi ia sempat ketakutan ketika Nia dan Niken datang, tapi akhirnya ia mulai mau membuka dirinya pada Dahlia. "Obatnya pahit Mi," adu Haura. "Oh sayang, sabar ya. Insya Allah kalau kamu sudah sembuh obatnya pasti akan dihentikan oleh Dokter Ema," ujar Dahlia dengan penuh rasa sayang. Dahlia menatap Vera yang masih membereskan semua keperluan Haura. "Ukhti Vera istirahat ya, makan siang dulu. Jangan terlambat makan nanti sakit," pinta Dahlia. Vera tersenyum dari balik niqob-nya. "Baik Nyonya Lia," jawab Vera. Vera pun keluar dari dalam kamar itu menuju ke arah dapur. Dahlia membantu Haura berbaring agar leher gadis itu bisa cepat membaik. "Mi," panggil Haura. "Iya sayang? Ada apa?" "Kenapa Ummi mau menerimaku? Aku bahkan tidak ada hubungan apa-apa dengan Ummi dan keluarga Ummi," tanya Haura. Dahlia tersenyum sambil membelai kepala Haura yang terbalut jilbab dengan lembut. "Siapa yang bilang kita bukan keluarga? Harus kamu tahu, kalau setiap muslim dan muslimah di dunia ini bersaudara. Kamu mungkin tidak ada hubungan darah dengan Ummi, tapi kita punya hubungan melalui keimanan yang kita yakini. Jadi, bagaimanapun sulitnya, Ummi akan tetap mempertahankan kamu di sini. Ummi tidak mau kamu terlantar tidak jelas di luar sana, dan Ummi tidak mau kamu kembali tersiksa lagi seperti dulu," jawab Dahlia. "Kenapa Mas Nata tidak marah ketika Ummi membuat keputusan untuk mengadopsiku? Bukankah seharusnya dia marah karena aku merebut Ibunya?" Dahlia tertawa pelan. "Untuk apa Nata marah padamu? Nata itu orang yang bijak seperti Almarhum Abinya, dia tidak akan marah meskipun kamu harus diperhatikan oleh Ummi secara overprotective. Dia selalu tahu mana yang baik dan mana yang buruk." Vera kembali ke kamar Haura setelah selesai makan siang. Dahlia memintanya untuk duduk bersama-sama di tempat tidur. "Kita mengaji sama-sama ya Nak," ajak Dahlia. "Baik Nyonya," sahut Vera, antusias. * * * Bi Inah sedang mencuci piring saat Nata masuk ke dapur membawa semua peralatan makan yang sudah digunakan oleh Akmal. "Bi Inah, bisa tolong temani Kakek? Biar saya yang cuci piringnya," ujar Nata. "Jangan Den, Den Nata saja yang temani Tuan Besar nanti Bibi yang cuci piringnya," tolak Bi Inah karena merasa tak enak. "Masalahnya, Kakek meminta saya untuk memanggil Bibi agar ke kamarnya. Makanya saya mengajukan diri untuk cuci piring," jelas Nata. "Ya Allah Den, saya kira Den Nata mau menyuruh saya istirahat lagi makanya saya menolak. Kalau begitu saya ke kamar Tuan Besar dulu ya, Den," pamit Bi Inah setelah mencuci tangannya. "Iya Bi," jawab Nata. Nata pun segera mencuci piring yang masih kotor sampai benar-benar bersih. Vera membantu Haura berjalan dari halaman belakang untuk kembali ke kamarnya sebelum Dokter Ema datang. Mereka melihat Nata di dapur dan berhenti beberapa saat. "Akh Nata mau dibantu?" tawar Vera. Nata tak berbalik dan bahkan tak menghentikan pekerjaannya. "Tidak perlu Ukhti Vera. Silahkan bawa saja Ukhti Haura ke kamarnya. Jangan berlama-lama di sini selama ada saya, nanti terjadi fitnah," jawab Nata. "Baik Akh." Vera pun kembali membantu Haura berjalan menuju ke arah kamarnya. Haura berbalik sesaat untuk menatap punggung Nata sebelum akhirnya benar-benar masuk ke kamar. 'Mengapa Allah bisa menciptakan manusia sebaik dirimu?' * * * Besok Episode 6 ya. Terima kasih sudah membaca :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN